Konten dari Pengguna

Dari Kandang ke Rantai Pasok: Belajar tentang Efisiensi dan Keberlanjutan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Endang Sukandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Catatan sederhana dari kunjungan peternakan di Bogor dan Tegal

Siapa sangka, dari sebuah kandang kambing kita bisa belajar banyak tentang efisiensi bisnis dan keberlanjutan?

Pengalaman ini bermula ketika saya bersama rekan-rekan kuliah menyusun business plan peternakan kambing bernama Kambing Kita Group (KKG). Untuk memahami bisnis ini lebih dekat, kami melakukan observasi ke beberapa peternakan di Bogor dan Tegal, antara lain Juragan Kambing Farm, Muji Jaya Farm, dan Kambing Center.

Observasi & Diskusi bersama Kambing Center, Tegal (Dok. Endang Sukandar)

Kami berbincang dengan para peternak, berdiskusi dengan ahli dan dosen, serta mencoba memahami bagaimana usaha peternakan dijalankan sehari-hari. Banyak hal menarik yang kami pelajari, terutama bagaimana peternak memanfaatkan sumber daya dari sektor pertanian di sekitarnya.

Salah satunya adalah pemanfaatan jerami padi, bagian tanaman jagung, hingga pisang yang terlalu matang dan tidak lagi layak jual. Bahan-bahan tersebut dapat diolah, antara lain melalui fermentasi, untuk menjadi alternatif pakan ternak, tentunya dengan tetap memperhatikan kualitas dan kebutuhan nutrisi hewan.

Bagi saya, ini menarik. Sesuatu yang mungkin sudah tidak memiliki nilai jual bagi petani ternyata masih bisa memberikan manfaat bagi peternak.

Dengan pengalaman saya di bidang operasional logistik, praktik sederhana ini mengingatkan pada pentingnya rantai pasok yang terintegrasi. Bagaimana sumber daya tersedia, dikelola, dan dimanfaatkan secara efisien, tanpa harus selalu bergantung pada tambahan kapasitas atau investasi besar.

Dari Kotoran Kambing Menjadi Nilai Tambah

Hal menarik lainnya adalah potensi pemanfaatan kotoran kambing sebagai pupuk organik.

Namun, untuk menjadikannya sesuatu yang bernilai, pengelolaannya perlu dipikirkan sejak awal. Bahkan, mulai dari desain kandang.

Kandang dengan sistem penampungan kotoran yang baik dan mudah diakses akan mempermudah proses pengumpulan, pembersihan, hingga pengolahan pupuk. Jika dikelola dengan tepat dan memiliki pasar, hasilnya bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi peternak.

Bayangkan siklus sederhananya. Petani menyediakan hasil samping pertanian sebagai bahan pakan. Peternak memanfaatkannya untuk ternak, lalu kotoran yang dihasilkan diolah menjadi pupuk untuk kembali mendukung pertanian.

Dari pertanian menjadi pakan, dari peternakan menjadi pupuk, lalu kembali ke pertanian

Inilah contoh circular economy atau ekonomi sirkular yang menurut saya sangat menarik. Sebuah kolaborasi yang berpotensi memberikan manfaat bagi kedua pihak sekaligus mengurangi sumber daya yang terbuang.

Ketika Efisiensi Bertemu Sustainability

Dari kunjungan tersebut, saya semakin memahami bahwa sustainability tidak selalu harus dimulai dengan teknologi canggih atau investasi besar.

Terkadang, justru dimulai dari hal sederhana: bagaimana kita merancang proses dengan lebih baik, mengurangi pemborosan, dan menemukan nilai dari sesuatu yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Tentu, manfaat ekonominya tetap harus dihitung dan dampak lingkungannya perlu diukur. Tetapi, pengalaman ini memperlihatkan bahwa efisiensi operasional dan keberlanjutan sebenarnya bisa saling mendukung.

Bagi saya, itulah hubungan menarik antara logistic operation dan sustainability. Keduanya bukan hanya tentang mengelola biaya atau mengurangi limbah, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai yang lebih besar dari sumber daya yang tersedia.

Kunjungan ke Bogor dan Tegal serta proses penyusunan business plan KKG bersama rekan-rekan memberikan pelajaran yang cukup berkesan.

Team Kambing Kita Group (KKG) (Dok. Endang Sukandar)

Bahwa terkadang, peluang bisnis bukan hanya tentang apa yang bisa kita hasilkan, tetapi juga tentang bagaimana kita memanfaatkan apa yang sudah kita miliki

Dan mungkin, dari kandang kambing yang sederhana pun, kita bisa belajar tentang cara membangun bisnis yang lebih efisien, bernilai, dan berkelanjutan.

Author: Endang S

Contributor: Nelson Lianto, Gusti Ria Juita, Ernawaty, Felicia Pandria