Konten dari Pengguna

Pendidikan Indonesia: Kurikulum Berubah, Masalah Tak Kunjung Hilang

Evan Dylan Fadilah

Evan Dylan Fadilah

Siswa Sekolah SMA Citra Berkat Tangerang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Evan Dylan Fadilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kurikulum boleh berganti, tapi masa depan generasi tak boleh jadi taruhannya.

Sumber gambar: Ilustrasi tentang peristiwa gonta-ganti kurikulum  (dok. ChatGPT/Image Generator), atas permintaan penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Ilustrasi tentang peristiwa gonta-ganti kurikulum (dok. ChatGPT/Image Generator), atas permintaan penulis.

Pendidikan Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Kurikulum yang berganti-ganti seperti musim membuat siswa dan guru seperti hidup di tengah eksperimen tanpa akhir. Meskipun tujuan perubahan selalu terdengar indah meningkatkan kualitas belajar, menyesuaikan zaman, mempersiapkan generasi masa depan, tapi nyatanya masalah-masalah lama tak kunjung pergi.

Masih banyak siswa yang kesulitan memahami pelajaran dasar seperti matematika sederhana atau pengetahuan umum. Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita belum sepenuhnya berhasil membentuk kemampuan berpikir kritis dan pemahaman yang kuat, meskipun kurikulum sudah berkali-kali dirombak.

Salah satu penyebab yang sering dibicarakan adalah pergantian kurikulum yang terlalu sering. Sejak kemerdekaan, kurikulum sudah berubah berkali-kali, mulai dari 1947 hingga Kurikulum Merdeka saat ini. Perubahan ini memang dimaksudkan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan zaman, teknologi, dan kebutuhan masyarakat, tetapi tanpa persiapan matang, dampaknya justru membingungkan guru dan siswa.

Sumber gambar: Ilustrasi digital – Guru dan murid merasa pusing menghadapi tekanan pendidikan (dok. ChatGPT/Image Generator), atas permintaan penulis.

Kebingungan ini semakin terasa ketika kurikulum lama belum sepenuhnya berjalan, sudah diganti lagi. Misalnya, kebijakan terbaru yang mengembalikan sistem penjurusan di SMA dan memperkenalkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai ujian akhir. Perubahan cepat seperti ini membuat guru harus terus beradaptasi, sedangkan siswa menjadi “kelinci percobaan” yang mengikuti metode baru tanpa memahami sepenuhnya sistem sebelumnya.

Sayangnya, data menunjukkan bahwa perubahan kurikulum yang sering tidak otomatis meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil tes internasional seperti PISA masih menempatkan Indonesia di peringkat bawah. Ini membuktikan bahwa sekadar mengubah isi kurikulum tidak cukup, karena kualitas guru, metode mengajar, dan kesiapan sekolah juga berperan besar dalam hasil belajar siswa.

Masalah lain yang memperburuk keadaan adalah ketimpangan fasilitas pendidikan antara kota dan desa. Sekolah di wilayah terpencil sering kali belum siap mengikuti perubahan, baik dari segi tenaga pendidik maupun sarana pendukung. Akibatnya, pergantian kurikulum justru semakin memperlebar jarak kualitas pendidikan di Indonesia.

Guru juga menjadi pihak yang paling terdampak. Banyak guru belum mendapatkan pelatihan yang memadai ketika kurikulum baru diterapkan. Mereka dituntut menguasai materi dan metode baru dalam waktu singkat, sementara beban administrasi tetap menumpuk. Kondisi ini berpotensi membuat proses belajar mengajar tidak maksimal, dan siswa semakin kehilangan arah.

Melihat kondisi tersebut, terlalu sering mengganti kurikulum bisa menjadi bumerang yang menyakiti masa depan pendidikan kita. Perubahan memang penting agar pendidikan tetap relevan, tetapi tanpa evaluasi matang, pelatihan guru yang cukup, dan pemerataan fasilitas, semua itu hanya akan menjadi siklus mahal yang berputar di tempat meninggalkan generasi penerus bangsa dalam kebingungan.