Konten dari Pengguna

Mahasiswa Universitas Pamulang Ajak Warga Depok Ubah Sampah Jadi Produk Bernilai

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fabian Iransyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Universitas Pamulang melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di RW 11, Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, melalui edukasi pengelolaan sampah berkelanjutan dan pemanfaatannya menjadi produk bernilai.
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa Universitas Pamulang melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di RW 11, Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, melalui edukasi pengelolaan sampah berkelanjutan dan pemanfaatannya menjadi produk bernilai.

Lewat program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di RW 11, Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, warga diajak sadar mengelola sampah secara berkelanjutan sekaligus berkreasi menjadikannya produk bernilai ekonomi.

Depok – Sampah sering dianggap sebagai akhir dari sebuah cerita: dibuang, diangkut, lalu dilupakan. Namun di RW 11, Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, cerita itu kini berubah. Mahasiswa Universitas Pamulang mengajak warga melihat sampah dari sudut pandang baru, yaitu sebagai bahan baku yang bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Ajakan ini hadir melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang mengusung tema pengembangan kreativitas dalam mengubah sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Program ini juga bertujuan membangun kesadaran dan kreativitas masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

Sudah Peduli Kebersihan, Tinggal Naik Level

Warga RW 11 sebenarnya sudah punya modal yang baik. Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan di kawasan ini tergolong tinggi, dan tidak ditemukan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Lingkungan pun terlihat terjaga.

Meski begitu, masih ada pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Pemilahan sampah dari rumah tangga belum menjadi kebiasaan, sehingga sampah organik, anorganik, dan plastik masih tercampur. Padahal, pemilahan adalah langkah awal agar sampah bisa didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.

Persoalan lain adalah pengangkutan sampah oleh petugas yang kerap terlambat. Di kawasan ini memang tersedia tempat pembuangan sementara (TPS) sebelum sampah diangkut ke tempat pembuangan utama (TPU). Ketika jadwal angkut molor, sampah menumpuk dan berpotensi menimbulkan bau serta mengganggu kenyamanan warga.

Dari Kesadaran ke Kreativitas

Menjawab kondisi tersebut, tim mahasiswa tidak hanya mengajak warga mengurangi sampah, tetapi juga mengubah cara pandang mereka. Pendekatannya bertahap: kesadaran dibangun lebih dulu, baru kemudian kreativitas dikembangkan.

Pada tahap awal, warga diperkenalkan dengan pentingnya memilah sampah dari rumah dan dampaknya bagi lingkungan. Setelah itu, warga diajak berlatih mengolah sampah yang sudah terpilah menjadi produk yang berguna dan memiliki nilai jual seperti botol plastik bekas menjadi pot tanaman, kardus bekas menjadi rak buku mini, botol kaca bekas memjadi vas bunga.

Dengan cara ini, sampah yang sebelumnya menumpuk di TPS dapat berkurang sejak dari sumbernya. Di sisi lain, warga mendapat keterampilan baru yang berpotensi menjadi tambahan penghasilan keluarga.

Lebih dari Sekadar Kegiatan Kampus

Bagi mahasiswa, PKM adalah bagian dari pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Namun nilai terbesarnya terletak pada dampak yang bisa dirasakan langsung oleh warga.

Pengelolaan sampah berkelanjutan bukan hanya soal menjaga lingkungan hari ini, tetapi juga memastikan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. Ketika warga terbiasa memilah, memanfaatkan, dan mengolah sampah, beban TPS dan TPU ikut berkurang, ketergantungan pada jadwal angkut menurun, dan lingkungan menjadi lebih sehat.

Harapan ke Depan

Melalui program ini, mahasiswa berharap warga RW 11 tidak berhenti pada satu kali pelatihan. Kebiasaan memilah sampah dan semangat berkreasi diharapkan terus berlanjut hingga menjadi budaya, bahkan menjadi usaha kecil yang bisa dikembangkan bersama.

Pesannya sederhana: sampah tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan kesadaran dan kreativitas, sampah bisa menjadi awal dari sesuatu yang bernilai.