Konten dari Pengguna

Makan Bersama Saja Tidak Cukup: Cara Efektif Membangun Keakraban dalam Satu Departemen

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fabian Iransyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana kebersamaan enam rekan kerja dalam lingkungan kantor yang nyaman dan kondusif, terlihat melalui interaksi hangat, komunikasi terbuka, serta diskusi santai yang mencerminkan pentingnya membangun hubungan akrab, memperkuat kerja sama, dan menciptakan kekompakan dalam satu departemen. Ilustrasi dibuat menggunakan AI ChatGPT (OpenAI).
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kebersamaan enam rekan kerja dalam lingkungan kantor yang nyaman dan kondusif, terlihat melalui interaksi hangat, komunikasi terbuka, serta diskusi santai yang mencerminkan pentingnya membangun hubungan akrab, memperkuat kerja sama, dan menciptakan kekompakan dalam satu departemen. Ilustrasi dibuat menggunakan AI ChatGPT (OpenAI).

Pernahkah kamu hadir di acara makan bersama rekan kantor, lalu sadar bahwa orang yang duduk di sekitarmu adalah orang yang sama dengan yang duduk di sebelahmu setiap hari? Meja panjang penuh hidangan, tawa terdengar di mana-mana, dan foto bersama diunggah ke grup dengan keterangan “Kebersamaan yang hangat!”. Namun di balik foto itu, ada karyawan baru yang makan sambil menatap ponsel, ada kelompok lama yang tak beranjak dari kursinya, dan ada rekan satu departemen yang belum pernah mengobrol lebih dari sekadar basa-basi. Acaranya meriah, tetapi apakah hubungannya benar-benar mendekat? Pertanyaan inilah yang perlu kita jawab jujur, karena keakraban dalam satu departemen tidak lahir dari seberapa banyak hidangan di meja.

Kenyang Bukan Berarti Dekat: Mengapa Makan Bersama Saja Tidak Cukup

Makan bersama memang terdengar seperti resep paling sederhana untuk mempererat kebersamaan. Masalahnya, keakraban tidak otomatis muncul hanya karena orang berada di ruangan yang sama. Dalam suasana bebas, manusia cenderung memilih zona nyaman, yaitu duduk bersama orang yang sudah dikenal. Akibatnya, acara yang dimaksudkan untuk menyatukan justru memperlihatkan dengan jelas siapa bergaul dengan siapa. Circle-circlean yang sudah ada tidak hilang, malah semakin kentara.

Alasan kedua, obrolan di meja makan jarang menembus permukaan. Percakapan biasanya berkutat pada urusan pekerjaan, gosip ringan, atau basa-basi yang aman. Tidak ada kebutuhan untuk saling bergantung atau bekerja sama, sehingga orang tidak punya alasan kuat untuk mengenal rekan di luar kelompoknya. Alasan ketiga, acara makan bersama biasanya jarang dan berdiri sendiri. Kedekatan tumbuh dari interaksi yang berulang, sementara satu malam yang meriah hanya meninggalkan kenangan sesaat. Terakhir, tidak semua orang merasa nyaman di keramaian. Karyawan introvert, karyawan baru, atau mereka yang punya pantangan makanan dan keterbatasan waktu bisa merasa terasing, sehingga acara yang seharusnya menyatukan justru membuat mereka semakin menjauh.

Lebih dari Sekadar Meja Makan: Opsi Lain yang Lebih Ampuh

Jika makan bersama saja tidak cukup, apa yang bisa dilakukan? Jawabannya adalah menghadirkan pengalaman yang membuat orang saling membutuhkan, bukan sekadar saling berdampingan. Ada beberapa opsi yang bisa dicoba.

Kerja bareng untuk tujuan di luar rutinitas. Mengerjakan proyek kecil lintas anggota, seperti menyiapkan acara internal, menata ulang ruang kerja, atau mengikuti kegiatan sosial bersama, membuat orang berinteraksi demi tujuan yang sama. Ketika sebuah target harus dicapai bersama, sekat pertemanan dan jabatan biasanya mencair dengan sendirinya, karena orang belajar mengenal cara berpikir dan karakter rekannya lewat kerja sama, bukan sekadar obrolan.

Sesi berbagi cerita atau keahlian. Beri waktu singkat secara bergiliran bagi anggota departemen untuk membagikan sesuatu, mulai dari hobi, pengalaman unik, hingga keahlian di luar pekerjaan. Alasannya sederhana: orang lebih mudah akrab ketika mengenal sisi lain dari rekannya. Rekan yang tadinya hanya dikenal sebagai “orang di meja sebelah” bisa tiba-tiba terlihat sebagai pribadi dengan cerita yang menarik, dan itu membuka topik obrolan baru yang tidak akan muncul di meja makan.

Aktivitas ringan yang membuat semua orang setara. Permainan kelompok, olahraga santai, atau tantangan tim membuat semua orang berada di posisi yang sama, tanpa memandang jabatan atau senioritas. Tawa dan kegagalan kecil yang dialami bersama sering kali lebih efektif meruntuhkan kecanggungan dibanding obrolan formal.

Rotasi pasangan kerja atau “teman baru” mingguan. Dengan menjadwalkan pasangan ngopi atau mengerjakan tugas ringan bersama yang berganti secara berkala, setiap orang punya kesempatan mengenal rekan yang berbeda. Alasannya jelas: circle-circlean terbentuk karena orang jarang punya alasan berinteraksi di luar kelompoknya, dan rotasi menciptakan alasan itu secara sistematis.

Ritual kecil yang rutin. Sesi sapa pagi lima menit, kopi sore di pantry, atau check-in singkat di awal pekan terlihat sepele, tetapi justru di situlah keakraban dirawat. Kebiasaan kecil yang konsisten membuat orang terbiasa saling menyapa dan bertanya kabar, sehingga hubungan tidak bergantung pada satu acara besar.

Makan Bersama Tetap Boleh, Asal Jadi Pelengkap

Bukan berarti acara makan bersama harus ditinggalkan. Ia tetap bisa menjadi pembuka yang hangat, selama tidak dijadikan satu-satunya cara. Padukan dengan pengacakan tempat duduk lewat undian saat acara berlangsung, siapkan pertanyaan pemantik di setiap meja, dan libatkan anggota yang jarang terlibat dalam kepanitiaan. Pastikan pula menu aman untuk semua, waktu tidak mengganggu kewajiban pribadi, dan ada ruang bagi mereka yang kurang nyaman dengan keramaian. Di sini, peran atasan sangat besar. Pimpinan yang duduk berbaur dan tidak hanya bersama orang kepercayaannya memberi teladan bahwa setiap orang di departemen itu sama berharganya, dan teladan sering kali lebih kuat daripada aturan apa pun.

Sebelum Mengundang Makan Lagi, Tanyakan Ini Dulu

Pada akhirnya, kita perlu jujur bahwa keakraban tidak bisa dipesan seperti katering. Ia tumbuh dari pengalaman bersama, kebiasaan kecil yang konsisten, dan rasa diterima yang dirasakan setiap anggota. Makan bersama hanyalah salah satu pintunya, dan pintu itu tidak akan berguna jika tidak ada orang yang berani melangkah masuk.

Maka, sebelum merencanakan acara makan-makan berikutnya, berhentilah sejenak dan tanyakan: apakah acara ini hanya membuat semua orang berkumpul, atau benar-benar membuat mereka saling mengenal? Bagi pimpinan, jadikan keakraban sebagai kebiasaan yang dirawat, bukan agenda yang dicentang. Bagi rekan kerja, mulailah dari hal kecil yang tidak perlu mengubah posisi duduk: sapa orang yang jarang kamu ajak bicara, ajak rekan di luar lingkaran biasamu ngopi atau makan siang bersama, dan buka obrolan dengan mereka yang selalu menyendiri di sudut pantry. Ingatlah bahwa tim yang solid tidak dibangun oleh banyaknya hidangan di meja, tetapi oleh seberapa banyak orang yang merasa diterima di dalamnya. Dan sering kali, perubahan besar di tempat kerja berawal dari satu sapaan yang tidak kita lewatkan.