Konten dari Pengguna

Petugas Pajak Bakal Lebih Galak di Era Coretax? Kenali Strategi Humanisnya!

Muhammad Fadhlansyah Nasution

Muhammad Fadhlansyah Nasution

ASN Kementerian Keuangan

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fadhlansyah Nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Strategi Humanis meningkatkan Voluntary Compliance. Ilustrasi: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Strategi Humanis meningkatkan Voluntary Compliance. Ilustrasi: Freepik

Pagi itu, tepat pada 2 Januari 2026, suasana di lobi utama Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terasa berbeda. Sebuah layar digital raksasa baru saja menyentuh angka nol, menandai lahirnya jantung baru ekonomi Indonesia: Coretax Administration System (CTAS). Bagi banyak orang, ini bukan sekadar urusan aplikasi baru, melainkan perombakan total cara kita berinteraksi dengan negara.

Namun, di tengah kecanggihan sistem digital ini, muncul satu pertanyaan besar di benak para pelaku usaha: apakah otomatisasi data ini akan membuat petugas pajak menjadi lebih "galak" dan kaku?

Rahasia di Balik Strategi Pengawasan Humanis DJP

Meskipun sistem kini serba otomatis, DJP justru menyiapkan strategi pengawasan yang disebut lebih humanis. Alih-alih hanya berfokus pada penindakan, otoritas pajak kini lebih menekankan pada kemudahan layanan. Salah satu fitur unggulannya adalah pre-populated tax return atau pengisian SPT otomatis.

Bayangkan Anda tidak lagi perlu pusing mencari bukti potong yang tercecer di bulan Maret. Data penghasilan Anda sudah muncul secara otomatis di draf SPT. Anda hanya perlu mengecek kebenarannya dan mengklik satu tombol untuk melapor. Ini adalah perwujudan nyata dari visi "pajak yang memudahkan," bukan lagi "pajak yang membebani".

Selain itu, transparansi ditingkatkan melalui fitur Taxpayer Ledger yang berfungsi mirip mobile banking. Anda bisa melihat riwayat setoran, piutang, hingga saldo kelebihan bayar secara real-time. Transparansi penuh inilah yang membuat wajib pajak merasa lebih tenang karena bisa memantau kepatuhan mereka sendiri kapan saja.

Integritas di Balik Layar: Rotasi dan Disiplin Pegawai

Untuk memastikan strategi humanis ini berjalan, DJP juga melakukan pembenahan internal yang ketat. Ada rencana rotasi pegawai secara berkala untuk menjaga independensi dan integritas di lapangan. Tujuannya jelas: menghilangkan praktik negosiasi di bawah meja yang selama ini dikhawatirkan.

Pihak otoritas pajak bahkan menegaskan akan menindak tegas pegawai yang tidak sejalan dengan semangat reformasi digital ini. Langkah ini diambil agar integritas sistem yang dibangun melalui Coretax tidak dirusak oleh oknum manusia di dalamnya. Dengan kata lain, petugas tidak akan menjadi lebih galak, tetapi akan menjadi lebih profesional dan berintegritas.

Sinergi Fiskal dan Moneter: Penopang Ekonomi 2026

Kebijakan "Integrasi Integritas" ini tidak berdiri sendiri di ranah pajak saja. Kebijakan fiskal yang diambil pemerintah kini menyatu dalam satu simfoni dengan kebijakan moneter Bank Indonesia. Sinergi ini sangat krusial untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional dari guncangan eksternal.

Data yang dihasilkan dari Coretax kini menjadi input penting bagi Bank Indonesia untuk memetakan daya beli masyarakat secara lebih akurat. Di sisi lain, kebijakan moneter yang stabil—seperti penurunan BI-Rate ke level 4,75%—memberikan kepastian bagi wajib pajak untuk terus berinvestasi. Inilah alasan mengapa pemerintah terus mendorong hilirisasi dan ekonomi kerakyatan melalui stimulus UMKM sebagai bagian dari program Asta Cita.

Optimisme Menuju Fajar Baru Ekonomi Indonesia

Meski perjalanan di awal tahun 2026 sempat diwarnai hambatan teknis dan gejolak di pasar modal, langkah Indonesia sudah berada di jalur yang benar. Implementasi Coretax adalah bukti nyata bahwa kita berani berubah demi sistem yang lebih jujur dan transparan.

Sebagai penulis, saya melihat transisi ini dengan rasa optimis yang besar. Pajak kini bukan lagi sosok "petugas penagih" yang menakutkan, melainkan mitra pembangunan yang hadir melalui layanan digital yang mulus. Dengan sistem yang memudahkan restitusi dan transparansi data yang terjaga, kepatuhan sukarela akan tumbuh secara alami.

Januari 2026 mungkin penuh tantangan, namun ia telah membuktikan daya tahan bangsa ini. Selama kita memegang teguh kompas integritas, arah pembangunan Indonesia akan tetap menuju pada kemakmuran seluruh rakyatnya. Mari kita kawal transisi besar ini sebagai warga negara yang peduli pada masa depan ekonomi negeri.

Ingin tahu lebih lanjut bagaimana Coretax memudahkan bisnis Anda? Mari kita mulai beradaptasi sekarang!