Konten dari Pengguna

Membuka Peluang Demi Pendidikan Berkualitas Di Indonesia dengan Merdeka Belajar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fikri Ahmad Faadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kurikulum pendidikan di sekolah kembali mengalami perubahan, yang sebelumnya dikenal dengan kurikulum prototipe, kini ada edisi baru yang dikenal dengan kurikulum merdeka belajar, seperti yang disampaikan oleh bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. selaku Menteri Pendidikan, Teknologi dan Kebudayaan beberapa waktu lalu.

“Kurikulum merdeka belajar digambarkan mampu memberikan kebebasan belajar kepada siswa, konsep ini diharapkan mampu menarik minat siswa dan mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan diri. dalam konteks pembelajaran di Indonesia”.

Kurikulum pembelajaran memiliki sifat eksistensialisme yang berfungsi sebagai landasan filosofis yang penting. Eksistensialisme menawarkan ide, konsep, analisis, dan teori yang berfungsi sebagai dasar untuk praktik pendidikan. Selain itu, pancasila juga menjadi dasar bagi sistem pendidikan di Indonesia yang dimana nilai dasar pancasila tersebut sebagai landasan filosofis. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bertujuan untuk mengembangkan manusia Indonesia yang cerdas secara spiritual, intelektual, dan kepribadian.

Murid didalam kelas (sumber foto: www.pixabay.com

Selanjutnya, adanya landasan sosiologis, yang dimana landasan sosiologis untuk pembelajaran berdiferensiasi dalam kurikulum fleksibel sebagai bentuk pembelajaran mandiri dibangun di atas perbedaan kebutuhan, karakteristik, lingkungan sosial, dan budaya peserta didik. Heterogenitas peserta didik masih menjadi masalah yang kurang mendapat perhatian sehingga berdampak pada rendahnya prestasi akademik peserta didik. Untuk memahami heterogenitas peserta didik, pendidik harus mengumpulkan data dan mencoba pendekatan yang berbeda sebelum merancang strategi pembelajaran yang berbeda. Pengajaran berdiferensiasi bukanlah konsep baru. Ki Hajar Dewantara, Menteri Pendidikan pertama di Indonesia, memiliki visi untuk pendidikan yang mengakui karakteristik unik setiap anak. Menurut buku Ki Hajar Dewantara yang berjudul Pusara (1940), tidak baik menyeragamkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak dapat diseragamkan; sebaliknya, mereka harus difasilitasi dengan bijak. Dan tidak lupa juga yakni pada kurikulum merdeka memiliki sebuah landasan yuridis, landasan yuridis dari kurikulum merdeka belajar ini tertera pada Undang-undang No 20 tahun 2003 yang membahas tentang Sistem pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan juga Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).serta juga tertera pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2021 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020-2024 dalam kebijakan merdeka belajar. Ini membuat sebuah kurikulum merdeka tersebut seperti sudah siap untuk dijalankan secara seutuhnya. Mengingat, jika kita melihat sistem, tentu harus punya undang-undang yang jelas supaya pada saat dijalankan bisa sesuai dan jika terjadi ketidaksesuaian bisa diperbaiki sesuai dengan undang-undang yang dirumuskan.

Program Merdeka Belajar telah menarik perhatian banyak pihak. Program ini diharapkan dapat membawa perubahan positif dalam dunia pendidikan Indonesia menuju arah yang lebih berkualitas. Sebagai negara dengan populasi yang besar yakni sebesar 279.072.446 juta jiwa. Serta Menurut badan statistik (BPS) Pendidikan di tahun 2022 sebesar 59,88 persen penduduk Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan dasar. Sementara itu, 29,97 persen penduduk telah menyelesaikan pendidikan menengah. Hanya 10,15 persen penduduk yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi. Selain itu, terdapat tantangan yang signifikan dalam dunia pendidikan. Sistem Merdeka Belajar telah menciptakan sejumlah peluang baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Terlebih itu, seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih. Hasilnya, mempermudah proses belajar mengajar di tingkat SD, SMP, dan SMA, serta Strata 1 (S1). Dengan datangnya platform Merdeka Mengajar (PMM), selama tahun 2023, terdapat 3.540.856 login di Platform Merdeka Mengajar, 225.400 sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan PMM secara efektif, 2.219.099 PTK yang menerapkan Kurikulum Merdeka mengakses PMM, dan 267.024 PTK mengunggah lebih dari 774 ribu Bukti Kerja di PMM.

Sementara itu, Salah satu metode menurut saya yang digunakan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berjiwa pemuda Pancasila adalah modifikasi kurikulum melalui konsep belajar mandiri. Salah satu universitas tertua di dunia ini telah lama menerapkan konsep belajar mandiri. Konsep ini sejalan dengan pandangan bapak pendidikan Indonesia, yang menganjurkan sistem belajar mandiri dan kreatif untuk menumbuhkan jiwa mandiri melalui eksplorasi pengetahuan dari berbagai sumber, termasuk dunia nyata dan dunia maya.

mahasiswa sedang diskusi (sumber foto: www.pixabay.com)

Namun, jika kita lihat bersama-sama realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah permasalahan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Tantangannya yakni seperti kesenjangan akses pendidikan, kualitas guru yang bervariasi, kurikulum yang belum selaras dengan tuntutan zaman, serta minimnya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar menjadi kendala yang perlu diatasi dengan serius. Sebagai contoh, beberapa sekolah dari Sabang sampai Merauke terus berjuang dengan fasilitas yang terbatas, kurikulum yang tidak sesuai, serta kualifikasi dan jumlah guru dan dosen yang bervariasi. Dimulai dari beberapa sekolah terpencil di Indonesia dengan bangunan sekolah yang tidak memadai. Bahkan di daerah terpencil, akses internet tidak memadai. Bahkan ada beberapa kampus di Indonesia yang dimana memaksakan menerima mahasiswanya hingga Overload, padahal secara gedung dari kampus yang ada beberapa di Indonesia tidak bisa menampung sebanyak itu.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa Indonesia akan memiliki sekitar 3,1 juta guru pada tahun 2022, dengan 2,5 juta guru negeri dan 600.000 guru swasta. Angka ini masih jauh dari jumlah guru ideal, yaitu sekitar 4,2 juta. Dikarenakan anak jaman sekarang sudah melihat profesi menjadi seorang pendidik tersebut tidak ada nilainya sama sekali. Bisa dilihat dari segi gaji untuk para pendidik (guru dan dosen) di Indonesia, kalau untuk guru paling besar Rp3.880.400 – Rp6.373.200 itupun golongan IV e dan juga harus PNS. Itu baru yang PNS, bagi yang tidak PNS atau hanya honorer?

Guru honorer dibayar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta di kota-kota besar, sementara guru honorer di daerah pedesaan dibayar antara Rp 300.000 hingga Rp 1 juta untuk jangka waktu yang tidak diketahui.

Dalam kasus dosen, jika mereka adalah pegawai negeri sipil dengan Strata 2 (S2). Maka ia akan menerima gaji sebesar Rp 2.920.800 - Rp 4.797.000. Itu pun dengan golongan IIId. Belum termasuk tes assesment kalau ingin gaji yang lebih tinggi. Meski begitu, jika ingin mendapatkan gaji yang tinggi, Anda harus mengambil jam kredit yang lebih banyak. Gaji bulanan dosen non-PNS atau yang dikenal dengan dosen tetap (dosen muda dan madya) berkisar antara Rp 4.000.000 hingga Rp 6.000.000. Dan antara Rp 6.000.000 hingga Rp 8.000.000 per bulan.

Bayangkan, begitu ketidakseimbangan gaji kepada para pendidik di Indonesia yang membuat anak remaja sekarang pun kebanyakan tidak mau terjun ke dunia pendidikan bahkan jika kita lihat di media sosial. Terjadi namanya merendahkan para pendidik dikarenakan tidak ada tempat yang dihargai layaknya para pendidik di luar Indonesia. Tidak hanya itu saja, jika kita melihat fenomena yang sudah berlalu pada saat Indonesia terkena badai pandemik covid-19 yang membuat seluruh elemen pendidikan harus online. Itupun membuat terjadi fenomena baru yakni

“buka hp, absen lalu tidur lagi ( pemalas gaya baru)”.

Karena kurangnya sistem yang mampu mencapai hal ini, yaitu mengontrol siswa, mereka dapat mengikuti pendidikan dengan baik. Namun, antara tahun 2021 (setelah pandemi) dan 2024, aplikasi yang dapat mengontrol hal ini telah muncul. Namun, dorongan juga harus datang dari orang-orang terdekat siswa dan mahasiswa, yaitu orang tua. Karena keterlibatan orang tua sangat penting untuk membangun fondasi pendidikan yang kokoh. Kolaborasi antara orang tua dan guru membuka jalan untuk hasil pendidikan yang lebih baik. Tidak hanya sebagai pembangun fondasi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap anak. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan guru dapat membantu mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang potensi dan tantangan anak, baik di dalam maupun di luar kelas. Hal ini memungkinkan pengembangan strategi pembelajaran yang lebih personal dan efektif.

Belajar diluar kelas (sumber foto: www.pixabay.com)

Solusi Agar Peluang yang Ada Di Kurikulum Merdeka Belajar Terus Melebar Dan Berkembang

Lalu, lintas seperti apa dalam membuka peluang baru untuk pendidikan berkualitas di indonesia dengan sistem merdeka belajar?

Menurut penulis, ada beberapa cara untuk bisa membuka peluang ini selebar-lebarnya, yakni:

Adanya pemberdayaan kepada guru dan dosen serta penanaman pemahaman kepada anak jaman sekarang ( Gen Z)

Jika ingin kurikulum merdeka berhasil, maka harus memberdayakan para pendidik (guru dan dosen). Baik dari segi gaji, waktu, aspirasi dan hari libur. Mengingat tenaga pendidik ini adalah motor penggerak dalam pendidikan. Harus terus dijaga serta dirawat supaya motor penggerak ini terus bergerak dalam menjawab pertanyaan yang akan datang. Dan juga dari segi anak jaman sekarang (Genzi). Untuk mendukung kemauan, keinginan, dan kemampuan diri Generasi Z. Perlu adanya acara layaknya seminar, workshop, dan acara serupa. Dan terlebih, perlu adanya rumusan dalam mengajak supaya anak jaman sekarang (Gen Zy) bisa mengikuti kegiatan tersebut. Bisa seperti misalnya, membuat benefitnya menarik ataupun bintang tamunya yang dikenal oleh anak jaman supaya banyak yang ikut dan lain-lain.

Adanya regulasi serta penggunaan teknologi yang tepat supaya jalannya kurikulum merdeka ini bisa berjalan dengan baik

Meski begitu, beberapa peraturan/regulasi yang sudah berlaku. Namun, hal ini masih sangat disayangkan. Mengingat sejumlah undang-undang menekan para pendidik, termasuk dosen dan guru. Selain itu dari kurang memanfaatkan teknologi sebaik mungkin. Sehingga terjadi namanya kurang optimal serta penyimpangan dalam menggunakan. Itu yang perlu diperbaiki. Supaya negara Indonesia bisa menghasilkan para akademisi yang terbaik dan luar biasa. Dan juga bisa bersaing di dunia pekerjaan maupun dunia usaha/bisnis.

Adanya dorongan dari pemerintah yang baik (segi insentif, usaha, perbaikan sistem, serta keteladanan, dan lain-lain) supaya sistem kurikulum merdeka ini bisa berjalan dengan baik.

Dalam kapasitas ini, pemerintah memainkan peran penting dalam mempromosikan kemajuan sistem kurikulum untuk para siswa dan mahasiswa. Serta membantu mengimplementasi sistem, melakukan bantuan terkait insentif, dan menjaga kurikulum merdeka ini tetap exist/ terus digunakan sampai kapanpun.

Dan lain-lain

Pada akhirnya, berbagai undang-undang dan peraturan tersebut merupakan bagian dari sistem Merdeka Belajar yang diimplementasikan oleh Nadiem Makarim dan pemerintah, yang dapat menjadi katalisator paling efektif untuk memajukan pendidikan Indonesia di masa depan.

Artikel ini ditulis oleh Fikri Ahmad Faadhilah

kumparan post embed