Paradoks Penerimaan Minoritas: dari Venesia ke zaman Modern

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma Berminat pada sejarah, seni, dan budaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ignatius Fridolin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Masyarakat tidak selalu menolak minoritas secara mutlak. Dalam keadaan tertentu, masyarakat justru mengakomodasi minoritas selama kontribusi mereka dianggap bermanfaat, sambil tetap membatasi akses mereka terhadap penerimaan sosial, kesetaraan, dan rasa memiliki.

Sejarawan Alexander Lee menulis esai yang rinci tentang persekusi terhadap orang Yahudi di Venesia berjudul, “The ghetto on the lagoon”, di majalah esai Aeon. Selain karena sejarah komunitas Yahudi di Venesia, tulisan Lee menarik karena menunjukkan kontradiksi yang persis muncul sepanjang sejarah. Sering kali, masyarakat bergantung secara ekonomi pada komunitas tertentu sambil mendiskriminasi mereka secara sosial dan kepercayaan.
Venesia di abad ke-15
Sebagai kota dagang, banyak kapal berlayar dari Eropa dan Mediterania berniaga di Venesia, termasuk beberapa komunitas Yahudi yang sudah eksis sejak abad ke-14. Mereka adalah pengungsi dari daratan Jerman yang melarikan diri karena dituduh sebagai penyebab Wabah Hitam. Banyak yang menjadi pedagang, pengrajin, dokter, dan kreditur.
Setelah perang melawan Genoa, Venesia menghadapi persoalan ekonomi. Laju perdagangan merosot, harga pangan melonjak, dan kemiskinan meningkat. Kota tersebut memerlukan ketersediaan kredit untuk membantu pemulihan sektor perdagangan.
Pada tahun 1382, pemerintah Venesia menawarkan kesempatan kepada para bankir yang bersedia menurunkan suku bunga untuk membantu Venesia melewati persoalan ekonomi. Mereka dipersilakan untuk tinggal di Venesia selama lima tahun. Hampir semua bankir yang menerima tawaran tersebut adalah orang Yahudi. Kesepakatan ini membantu memenuhi kebutuhan ekonomi kota, dan pemerintah pun kemudian memperpanjang izin bagi para bankir Yahudi tersebut untuk tetap tinggal.
Namun, kehadiran mereka menciptakan dilema bagi otoritas Kristen. Ajaran Kristen pada Abad Pertengahan sering kali mengutuk praktik meminjamkan uang dengan bunga, sementara perekonomian komersial membutuhkannya.
Ghetto pertama
Pada 29 Maret 1516, Senat Venesia memerintahkan orang-orang Yahudi yang tinggal di kota itu untuk pindah ke suatu kawasan khusus di Cannaregio (wilayah Venesia), yang dikenal sebagai geto novo.
Bayangkan saja, Anda memiliki keluarga, bisnis, pelanggan yang harus dilayani, serta kehidupan yang telah Anda bangun di kota tersebut. Kemudian, pemerintah memindahkan Anda ke suatu kawasan tertentu, tanpa akses ke perairan dan terpisah dari daratan utama kota Venesia.
Pemerintah memang mengizinkan komunitas Yahudi menetap di Venesia, tetapi dengan sejumlah pembatasan dan segregasi tempat tinggal yang dipaksakan. Mereka bahkan diharuskan membiayai sebagian dari sarana yang justru membatasi kebebasan mereka sendiri.
Setelah invasi Napoleon yang mengakhiri segregasi terhadap orang Yahudi di Italia, istilah ghetto berkembang melampaui konteks aslinya. Istilah ini kemudian dikaitkan dengan berbagai bentuk pengucilan dan marginalisasi. Di Amerika Serikat, misalnya, kata ini juga digunakan untuk merujuk pada komunitas imigran yang hidup dalam kemiskinan. Pada Perang Dunia II, kata tersebut merujuk pada tempat di mana orang Yahudi dipaksa untuk berkumpul, dipenjara, serta mengalami persekusi dan pembantaian massal.
Pola yang sama sepanjang sejarah
Sejarah ghetto memperlihatkan salah satu bentuk nyata dari persekusi masyarakat yang diterangkan Lee secara gamblang. Sepanjang sejarah, pola yang sama ini berulang kali terjadi di setiap belahan bumi. Ada paradoks yang mirip di sini, bahwa seseorang atau komunitas tertentu (biasanya minoritas) bisa dibutuhkan sebagai pekerja, pedagang, atau bagian dari pertumbuhan ekonomi, tetapi tetap dipandang sebagai orang luar karena agama, etnisitas, atau identitasnya.
Sejarah mencatat perbudakan dan segregasi rasial di berbagai belahan dunia, salah satunya di Amerika Serikat. Setelah perbudakan dihapuskan, berbagai hukum Jim Crow di Amerika Serikat bagian Selatan memisahkan orang kulit hitam dan kulit putih serta membatasi hak dan kesempatan warga kulit hitam. Hukum ini melegalkan doktrin “terpisah tetapi setara” dalam berbagai hal seperti hak pilih, akses ke fasilitas umum, dan pendidikan. Kontribusi orang kulit hitam terhadap ekonomi tidak menjamin perlakuan setara.
Di dunia modern, pekerja migran, minoritas etnis, dan kelompok lain dapat berkontribusi pada perekonomian suatu negara sekaligus menghadapi hambatan dalam perumahan, kesempatan kerja, partisipasi sosial, atau pengakuan identitas. Bentuk dan tingkat hambatan ini sangat bervariasi menurut negara dan kelompok.
Orang bisa menghargai keterampilan atau jasa seseorang tanpa mengubah pandangannya terhadap kelompok tempat orang itu berasal. Penghargaan terhadap karya atau manfaat seseorang berbeda dari penerimaan terhadap dirinya sebagai setara.
Manusia sering membentuk identitas kelompok melalui perbedaan. Ketika perbedaan agama, etnis, atau asal-usul dianggap menentukan siapa yang pantas dipercaya atau memiliki hak tertentu, identitas dapat menjadi dasar pengucilan. Ketika hal ini masuk ke dalam aturan tempat tinggal, hukum, pendidikan, atau perekrutan kerja, dampaknya tidak lagi bergantung hanya pada sikap individu.
Seseorang bisa memiliki prasangka pribadinya sendiri, tetapi sebuah sistem diskriminasi dapat bertahan melalui hukum dan kebiasaan bahkan ketika sikap individu beragam. Hal ini dapat terus menghasilkan ketimpangan bahkan ketika sebagian orang tidak secara sadar bermaksud mendiskriminasi.
