Konten dari Pengguna

Membangun yang Tak Kasat Mata dalam Industri Halal

Di tengah gegap gempita perkembangan industri halal global, Indonesia sesungguhnya berada pada posisi yang unik. Kita adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, pasar makanan halal terbesar, sekaligus salah satu kekuatan utama dalam ekonomi syariah global. Namun ada sebuah pertanyaan yang layak diajukan: jika potensinya sedemikian besar, mengapa ekonomi syariah Indonesia sering kali masih dipandang sebagai sektor pelengkap, bukan penggerak utama ekonomi nasional?

Ilustrasi Pameran Industri Halal dan Ekonomi Syariah pada penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13, menampilkan kolaborasi global, keragaman produk halal unggulan (makanan, kosmetik, farmasi, dan modest fashion), serta ekosistem keuangan syariah di Jakarta, Sumber: AI Generated
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pameran Industri Halal dan Ekonomi Syariah pada penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13, menampilkan kolaborasi global, keragaman produk halal unggulan (makanan, kosmetik, farmasi, dan modest fashion), serta ekosistem keuangan syariah di Jakarta, Sumber: AI Generated

Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada hal-hal yang terlihat. Jumlah sertifikasi halal, nilai transaksi perbankan syariah, perkembangan industri fesyen muslim, hingga besarnya konsumsi produk halal. Padahal, fondasi utama yang menentukan keberhasilan ekonomi syariah bukanlah logo halal, bukan pula besarnya pasar, melainkan tingkat kepercayaan yang menopang seluruh ekosistem tersebut. Ironisnya, justru di sinilah kekuatan ekonomi syariah sering luput dari perhatian.

Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025 menunjukkan Indonesia berhasil mempertahankan posisi sebagai negara dengan ekonomi syariah terbesar ketiga di dunia setelah Malaysia dan Arab Saudi. Indonesia bahkan menempati peringkat pertama dunia pada sektor modest fashion, serta berada di jajaran teratas pada sektor pariwisata ramah muslim, kosmetik halal, dan farmasi halal.

Di sisi lain, nilai konsumsi ekonomi halal global terus meningkat. Muslim dunia membelanjakan sekitar US$2,43 triliun pada berbagai sektor halal pada 2023 dan diproyeksikan mencapai US$3,36 triliun pada 2028. Aset keuangan syariah global sendiri telah mencapai US$4,93 triliun dan diperkirakan tumbuh menjadi US$7,53 triliun pada 2028.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa ekonomi syariah bukan lagi sektor pinggiran. Ia telah menjadi bagian penting dari ekonomi global. Namun menariknya, persepsi publik sering kali masih tertinggal dibanding realitasnya. Banyak orang memandang ekonomi syariah hanya sebagai urusan bank syariah. Padahal ekonomi syariah mencakup industri makanan, fesyen, farmasi, kosmetik, pariwisata, media, hingga ekonomi digital. Bahkan sebagian besar aktivitas ekonomi syariah berlangsung di sektor riil yang sehari-hari dinikmati masyarakat, termasuk oleh mereka yang mungkin tidak pernah menjadi nasabah bank syariah.

Fenomena ini terlihat jelas pada sektor keuangan. Indonesia memiliki sekitar 245 juta penduduk Muslim, tetapi pangsa perbankan syariah masih berkisar 7-8 persen dari total aset perbankan nasional. Sekilas angka tersebut tampak kecil. Namun jika dilihat lebih dalam, total aset keuangan syariah nasional telah melampaui Rp3.000 triliun dan terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, ekonomi syariah sesungguhnya sudah hadir di tengah masyarakat, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam kesadaran masyarakat. Di sinilah tantangan terbesar yang harus dijawab Indonesia.

Kita sering terjebak pada pembangunan yang terlihat, tetapi kurang memberi perhatian pada pembangunan yang tak terlihat. Padahal industri halal modern berdiri di atas modal yang sangat rapuh sekaligus sangat berharga, yaitu kepercayaan. Ketika seseorang membeli produk berlabel halal, ia tidak sedang memeriksa satu per satu bahan baku yang digunakan. Ketika seorang nasabah menempatkan dana di bank syariah, ia tidak mengaudit seluruh proses bisnis lembaga tersebut. Ketika wisatawan memilih destinasi ramah muslim, ia tidak mungkin memverifikasi seluruh rantai layanan yang tersedia. Mereka mengambil keputusan karena percaya. Kepercayaan itulah yang sesungguhnya dibeli konsumen.

Dalam konteks ini, ekonomi syariah dapat disebut sebagai industri kepercayaan. Semakin kompleks rantai nilai halal yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan akan transparansi, integritas, dan tata kelola yang baik. Tantangan tersebut menjadi semakin relevan di era digital. Teknologi memang mampu mempercepat transaksi, memperluas inklusi, dan membuka akses layanan syariah kepada jutaan masyarakat. Namun digitalisasi tidak serta merta menciptakan kepercayaan. Bahkan satu kasus pelanggaran, informasi yang menyesatkan, atau lemahnya tata kelola dapat menyebar jauh lebih cepat dibanding pembangunan reputasi yang memerlukan waktu bertahun-tahun.

Karena itu, visi menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia tidak cukup hanya mengandalkan besarnya pasar domestik atau banyaknya sertifikasi halal. Indonesia harus memenangkan kompetisi pada aspek yang lebih mendasar, yakni membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.

Kesadaran akan pentingnya membangun kepercayaan tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang dipelopori oleh Bank Indonesia sejak tahun 2014. ISEF hadir bukan hanya sebagai ajang promosi industri halal, melainkan sebagai wadah kolaborasi nasional dan internasional untuk memperkuat ekonomi dan keuangan syariah Indonesia. Dalam perjalanannya, ISEF telah berkembang menjadi salah satu forum ekonomi syariah terbesar yang mempertemukan regulator, akademisi, pelaku usaha, investor, lembaga keuangan syariah, pesantren, komunitas halal, dan mitra global dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

Komitmen tersebut kembali diperkuat melalui ISEF 2026 yang diselenggarakan pada 14-18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Forum ini menjadi momentum strategis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak hanya memiliki pasar Muslim yang besar, tetapi juga memiliki ambisi menjadi pemain utama dalam ekonomi syariah global. Melalui berbagai agenda seperti forum internasional, business matching, pameran industri halal, pengembangan UMKM, hingga penguatan ekonomi digital syariah, ISEF menjadi sarana membangun kredibilitas dan jejaring ekonomi syariah Indonesia.

Lebih dari itu, partisipasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, investor, pesantren, dan mitra internasional dalam ISEF menunjukkan bahwa ekonomi syariah bukan lagi agenda sektoral. Ia telah menjadi agenda pembangunan yang menuntut kolaborasi lintas pihak untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar halal global. Sebab pada akhirnya, persaingan industri halal dunia tidak akan dimenangkan oleh negara yang sekadar memiliki pasar terbesar, melainkan oleh negara yang mampu membangun ekosistem paling dipercaya.

Jika Indonesia mampu menjaga kepercayaan itu, ekonomi syariah tidak hanya menjadi pelengkap pembangunan, tetapi juga mesin pertumbuhan baru. Dari sinilah jalan Indonesia terbuka, bukan sekadar sebagai konsumen halal terbesar di dunia, melainkan sebagai salah satu pusat ekonomi syariah dunia.