Merantau Antara Mengejar Cita-Cita dan Menahan Rindu

Mahasiswa uin Syarif Hidayatullah jakarta Fakultas syriah dan Hukum Program studi perbandingan Mazhab
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Idris mirsyad abas sairun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Merantau adalah kisah yang dialami banyak anak muda Indonesia. Ketika langkah kaki mulai menjauh dari kampung halaman, sesungguhnya bukan hanya tubuh yang berpindah, tetapi juga mimpi, harapan, dan pengorbanan yang ikut serta dalam perjalanan. Keputusan untuk merantau tidaklah mudah. Ada banyak pertimbangan, ada air mata yang ditahan, dan ada pelukan terakhir yang terasa berat dilepaskan. Namun, cita-cita yang tinggi seringkali menuntut keberanian untuk meninggalkan zona nyaman dan melangkah ke dunia baru yang belum tentu ramah.
Bagi sebagian besar perantau, alasan utama meninggalkan rumah adalah untuk menuntut ilmu atau mencari pekerjaan. Kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, atau bahkan luar negeri menjadi tujuan utama. Di sana, mereka berharap menemukan masa depan yang lebih cerah, kesempatan yang lebih luas, dan pengalaman hidup yang lebih dalam. Namun, bersamaan dengan semangat mengejar cita-cita, muncul pula tantangan yang tak bisa dihindari—rasa rindu.
Rindu pada keluarga adalah yang paling berat. Tidak ada lagi masakan ibu yang hangat setiap pagi, tidak ada lagi nasihat ayah di malam hari, dan tidak ada lagi canda tawa adik atau kakak yang mengisi hari-hari. Di perantauan, semuanya harus dilakukan sendiri: mencuci, memasak, mengatur keuangan, hingga mencari tempat berlindung ketika sakit datang. Semua itu mengajarkan kemandirian, tapi juga sering membuat hati terasa sepi.
Di tengah-tengah padatnya aktivitas kuliah atau pekerjaan, rindu itu menyelinap diam-diam. Ia datang ketika melihat keluarga lain berkumpul di taman, ketika mendengar lagu yang biasa diputar di rumah, atau saat mencicipi makanan yang rasanya hampir seperti buatan ibu. Bahkan, sebuah pesan singkat dari orang tua bisa membuat air mata jatuh tiba-tiba.
Namun, rindu bukan untuk ditangisi terus-menerus. Justru dari rindu itu lahir semangat untuk bertahan. Setiap lelah yang dirasa, setiap tantangan yang dihadapi, menjadi bagian dari perjuangan untuk membalas pengorbanan keluarga. Para perantau tahu, mereka tidak berjalan sendiri. Ada doa orang tua yang menyertai, ada harapan dari kampung yang menunggu kabar baik.
Merantau mengajarkan banyak hal: sabar, kuat, dan bijak. Kita belajar bahwa dunia tidak selalu mudah, tapi kita bisa bertahan jika punya tujuan. Kita belajar bahwa rumah bukan sekadar tempat, tapi orang-orang yang mencintai kita dengan tulus. Dan yang paling penting, kita belajar bahwa setiap rindu akan berbuah manis jika disertai usaha dan ketulusan.
Merantau adalah perjalanan jiwa. Ia bukan hanya tentang meninggalkan, tetapi juga tentang kembali. Kembali dengan ilmu, pengalaman, dan keberhasilan. Dan ketika saat itu tiba—saat kita pulang membawa hasil dari perjuangan—rindu akan terbayar tuntas, dan pelukan keluarga akan menjadi hadiah paling indah setelah perjalanan panjang penuh air mata dan harapan.
