Konten dari Pengguna

Umur Emas untuk Menikah: Benarkah Ada Usia yang Tepat untuk Menikah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Isabela Andjani Santoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels

Oleh: Isabela Andjani Santoso

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

“Kapan menikah?” Pertanyaan sederhana yang kerap terdengar saat kumpul keluarga, singkat, namun menyimpan beban tersendiri. Pertanyaan tersebut sering kali berubah menjadi tuntutan sosial yang terus membayangi, terutama ketika usia mulai dipandang sebagai batas waktu untuk menikah. Bagi sebagian orang, tekanan tersebut dapat menghadirkan kecemasan ketika dirinya merasa belum memenuhi harapan yang dibentuk oleh lingkungan sekitar.

Pandangan tersebut memunculkan anggapan bahwa ada usia tertentu yang dianggap paling tepat untuk membangun pernikahan. Istilah "umur emas" untuk menikah kemudian menimbulkan pertanyaan: dari mana sebenarnya anggapan tersebut berasal? Apakah memang berkaitan dengan kesehatan dan kemampuan reproduksi, atau justru telah berkembang menjadi ukuran sosial tentang kapan seseorang seharusnya menikah? Menurut saya, tidak ada satu “umur emas” yang berlaku untuk semua orang. Usia memang menjadi salah satu pertimbangan, tetapi kesiapanlah yang seharusnya menjadi penentu utama.

Secara medis dan biologis, usia memang berkaitan dengan kemampuan reproduksi. Perempuan dalam rentang usia 20–35 tahun dikenal berada pada masa reproduksi yang paling sehat dan aman, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah penelitian keperawatan di Binawan Student Journal pada 2020. Pada usia yang terlalu muda, kondisi tubuh yang belum sepenuhnya matang dapat meningkatkan risiko tertentu selama kehamilan, termasuk anemia. Sementara itu, seiring bertambahnya usia, risiko dalam kehamilan dan penurunan kesuburan juga mulai menjadi pertimbangan, terutama setelah usia 35 tahun pada perempuan. Pada laki-laki, kesuburan juga dapat mengalami penurunan secara bertahap seiring bertambahnya usia. Menurut ulasan medis di Alodokter yang ditinjau dr. Marianti, secara umum masa subur pria mulai menurun saat memasuki usia 40-an.

Kondisi biologis tersebut kerap disederhanakan oleh masyarakat menjadi angka patokan kapan seseorang seharusnya menikah. Namun, apakah kondisi reproduksi semata cukup untuk mengukur kesiapan seseorang dalam membangun rumah tangga? Pernikahan bukan sekadar keputusan biologis untuk memiliki keturunan, melainkan komitmen panjang yang menuntut kesiapan di berbagai aspek kehidupan. Aspek-aspek itulah yang sering luput ketika usia dijadikan satu-satunya ukuran kesiapan.

Kesiapan untuk menikah tentu tidak berhenti pada kondisi biologis. Kematangan emosional menjadi salah satunya. Dalam kehidupan rumah tangga, mengelola emosi, menghadapi perbedaan, berkomunikasi dengan pasangan, dan menyelesaikan konflik menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Ketika kematangan emosional belum cukup terbentuk, konflik dalam hubungan dapat lebih sulit dikelola. Hal ini penting karena data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat bahwa perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus menjadi penyebab perceraian terbanyak di Indonesia, dengan 282.326 perkara.

Faktor finansial juga tidak kalah krusial. Seseorang mungkin sudah berada di usia yang dianggap ideal, tetapi belum memiliki penghasilan yang cukup untuk menopang rumah tangga. Sebaliknya, ada yang sudah mapan tetapi masih ingin mewujudkan rencana hidupnya lebih dulu. Keduanya menunjukkan bahwa kesiapan tidak bisa diukur dengan usia semata.

Jika kesiapan tidak bisa diukur dengan usia, mengapa angka usia tetap begitu sering dijadikan patokan? Jawabannya ada pada tekanan sosial. Di meja makan keluarga, pertanyaan tentang jodoh sering terdengar seperti pengingat tenggat, seolah ada batas waktu yang diam-diam disepakati semua orang kecuali yang bersangkutan. Perempuan diingatkan tentang “jam biologis” yang terus berdetak. Sementara itu, laki-laki pun tidak lepas dari tuntutan serupa. Mereka diharapkan sudah memiliki pekerjaan tetap dan rumah sebelum dianggap pantas menikah, seolah kemapanan punya batas usia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat, sekitar separuh perempuan Indonesia pertama kali menikah di usia 19-24 tahun, sedangkan yang menikah pada usia 25 tahun ke atas sekitar 17 persen. Dengan pola seperti itu, mereka yang menikah lebih lambat cenderung merasa tertinggal, padahal ukuran “terlambat” lahir dari kebiasaan sekitar, bukan dari kesiapan masing-masing. Tekanan semacam ini tidak jarang memicu kecemasan, terutama bagi mereka yang merasa waktunya terus berjalan, karena tiap orang punya ritme hidupnya sendiri. Akibatnya, sebagian orang menikah bukan karena siap, melainkan karena terdesak oleh pertanyaan dan tatapan sekitar.

Bukan berarti usia boleh diabaikan sepenuhnya. Kondisi biologis memang berubah seiring waktu, sehingga menunda pernikahan terlalu lama tetap membawa konsekuensi, terutama bagi mereka yang ingin memiliki anak. Namun, konsekuensi itu perlu dibicarakan sebagai informasi, bukan dijadikan alat untuk menakut-nakuti. Informasi membantu seseorang mengambil keputusan dengan sadar, sedangkan ketakutan hanya mendorongnya mengambil keputusan dengan terburu-buru. Usia boleh dihitung, tetapi tidak semestinya menjadi satu-satunya penentu langkah menuju pernikahan.

Karena itu, pertanyaan “Kapan menikah?” mungkin perlu diganti. Pertanyaan yang lebih tepat bukan soal kapan, melainkan sudah siapkah seseorang menjalani pernikahan, secara emosional, finansial, dan bersama pasangannya. Jadi, benarkah ada usia yang tepat untuk menikah? Tidak ada satu umur emas yang berlaku untuk semua orang. Waktu yang tepat bukan ditentukan oleh angka, melainkan oleh kesiapan yang terbentuk pada masing-masing. Ada yang siap lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan keduanya sama-sama sah. Maka, daripada sibuk menghitung usia orang lain, lebih baik kita memberi ruang bagi mereka untuk menentukan langkahnya sendiri. Pada akhirnya, pernikahan adalah perjalanan dua orang, bukan perlombaan melawan angka.