Saat Indonesia Gagal Meyakinkan Pasiennya, Negara Tetangga Menjadi Tujuan

Siswi Kelas 12 di PENABUR Junior College Kelapa Gading
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Jilliann Veronia Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Paspor sebagai “Tiket Sembuh”
Bagi banyak keluarga Indonesia, ketika kesehatan menurun, ada suatu hal yang harus dipersiapkan: paspor harus siap sedia. Bukan untuk liburan, melainkan untuk pergi ke negara tetangga mencari perawatan medis yang dianggap lebih meyakinkan.
Hal serupa juga dialami keluarga saya tahun lalu. Ayah saya memilih membawa ibunya ke Singapura untuk pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Padahal rumah sakit dan tenaga medis tersedia di Indonesia. Namun, pilihan tetap jatuh ke luar negeri.
Saya pun bertanya dalam hati: kenapa harus ke Singapura? Bukankah Indonesia juga memiliki rumah sakit dan tenaga medis? Pertanyaan sederhana itu justru menuntun saya pada refleksi yang lebih besar: mengapa begitu banyak orang Indonesia rela menyeberang negeri demi berobat?
Wisata Medis: Tren atau Kebutuhan?
Bagi sebagian orang, berobat ke luar negeri mungkin terdengar seperti gaya hidup. Namun kenyataannya, bagi banyak keluarga di Indonesia, hal tersebut adalah sebuah keharusan. Mereka mencari kepastian yang sulit ditemukan di dalam negeri.
Perjalanan keluarga saya untuk mencari pengobatan ke luar negeri bukanlah hal yang langkah. Itu adalah perjalanan yang dilakukan oleh jutaan masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Faktanya, menurut laporan National Institutes of Health, hampir 2 juta orang Indonesia melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berobat pada tahun 2022. Angka yang cukup untuk menegaskan bahwa ada masalah serius dalam sistem kesehatan kita.
Penelitian ASEAN SMEs in Health Tourism bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang pasien terbesar di Asia-Tenggara, terutama ke Malaysia, Singapura, dan Thailand. Alih-alih jadi tujuan, Indonesia justru lebih sering melepas warganya untuk dirawat di negeri tetangga.
Mengapa Wisata Medis Jadi Pilihan Pasien Indonesia?
Ada beberapa faktor yang mendorong masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri:
1. Kurangnya Spesialis & Perawatan
Keterbatasan akses terhadap perawatan spesialis di Indonesia menjadi salah satu pendorong utama wisata medis. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya kekurangan peralatan medis untuk menangani kondisi penyakit tertentu. Sebuah studi di Medan, melaporkan minimnya peralatan medis untuk menangani penyakit jantung dan stroke. Tak heran bila masyarakat akhirnya memilih rumah sakit di negara tetangga yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
2. Antrian Panjang
Waktu tunggu yang lama juga menjadi faktor besar. Sebagai contoh, hasil tes darah di Penang, Malaysia, dapat diperoleh hanya dalam satu hari dengan penjelasan yang jelas. Sementara di indonesia, hasil yang sama bisa membutuhkan hingga empat hari. Bagi pasien yang sedang cemas menunggu kepastian, perbedaan ini terasa sangat besar.
3. Keterjangkauan Biaya
Ada anggapan bahwa berobat ke luar negeri pasti lebih mahal. Faktanya, di tengah ketimpangan ekonomi yang masih tinggi, banyak masyarakat menilai biaya pengobatan di Indonesia terlalu mahal. Misalnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa harga kemoterapi di Penang, Malaysia dilaporkan lebih murah dibandingkan di Jakarta, Indonesia.
4. Rasa Kurang Percaya
Faktor terakhir, dan mungkin yang paling sensitif, adalah kepercayaan. Beberapa penelitian melaporkan pasien di Manado merasa obat yang diresepkan dokter kurang efektif, sementara obat dari dokter di Malaysia justru lebih memuaskan. Kepercayaan adalah fondasi utama dalam hubungan dokter dan pasien. Ketika fondasi itu goyah, pasien dengan mudah mencari alternatif di luar negeri.
Melangkah Bersama Menuju Kesehatan yang Lebih Baik
Fakta bahwa begitu banyak orang Indonesia lebih percaya rumah sakit tetangga merupakan peringatan besar bagi pelayanan kesehatan di negeri ini. Fenomena wisata medis ini menunjukkan bahwa banyak pasien Indonesia masih mencari kepastian layanan di luar negeri. Agar ketergantungan ini berkurang, ada beberapa langkah penting yang perlu diprioritaskan:
1. Spesialis Mudah Dijangkau & Fasilitas Lengkap
Investasi dalam pembangunan pusat perawatan spesialis di berbagai daerah sangat diperlukan. Fasilitas kesehatan harus dilengkapi dengan pasokan serta peralatan yang memadai. Dengan begitu, layanan medis diharapkan dapat lebih mudah diakses oleh seluruh rakyat indonesia, tanpa memandang lokasi tempat tinggal mereka dan mendapat optimal pelayanan kesehatan.
2. Layanan Cepat, Bebas Ribet
Penerapan digitalisasi layanan kesehatan, sistem antrean online, dan laboratorium berstandar cepat bisa memangkas waktu tunggu dan meningkatkan efisiensi pelayanan.
3. Tenaga Medis yang Terus Berkembang
Terakhir, penelitian berkelanjutan bagi tenaga kesehatan sangat krusial. Hal ini akan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dokter. Selain itu, kemampuan komunikasi yang empatik, serta sistem monitoring resep dan efektivitas obat juga perlu ditingkatkan agar pasien merasa didengar dan dipahami, bukan sekadar “diberi obat.”
Masa Depan Kesehatan Indonesia
Wisata medis bagi orang Indonesia bukan hanya sekadar tren, melainkan sebuah cerminan dari keresahan banyak keluarga yang merasaya layanan kesehatan di negeri sendiri belum sepenuhnya menjawab kebutuhan mereka.
Namun, di balik tantangan ini tersimpan peluang besar untuk transformasi. Bayangkan jika alasan-alasan yang membuat pasien mencari pengobatan ke luar negeri justru dijadikan dasar untuk memperbaiki sistem kesehatan kita. Dengan melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda, kita dapat membangun sistem kesehatan yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. Tujuannya jelas untuk memastikan setiap orang memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas di dalam negeri, tanpa harus mencarinya di luar negeri.
Pada akhirnya, cerita tentang ayah saya yang membawa ibunya ke negara tetangga hanyalah satu dari jutaan kisah serupa di negeri ini. Di balik setiap paspor yang distempel di bandara untuk keperluan berobat, tersimpan rasa cemas, lelah, sekaligus harapan besar dari sebuah keluarga.
Saya percaya, suatu hari nanti perjalanan semacam itu tak lagi perlu dilakukan. Kita akan sampai pada titik di mana rumah sakit sendiri cukup bisa diandalkan untuk menjaga orang-orang yang kita cintai. Suatu hari itu akan tiba–saat di mana tak ada lagi keluarga yang harus memilih antara rasa aman dan jarak, karena kesehatan terbaik sudah ada di rumah sendiri.
