Paradoks MBG: Mendorong Generasi Sehat Tanpa Mencekik Dapur Rakyat
Tulisan dari Johan Luthfi Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Harga buah-buahan naik tajam, pasokan daging dan susu pun mendadak sulit didapat dengan harga normal,” keluh seorang pedagang buah di pasar tradisional saat kami temui baru-baru ini. Bagi para pedagang kecil dan konsumen harian, lonjakan harga bahan pangan pokok ini bukan sekadar fluktuasi musiman biasa, melainkan dampak nyata dari kelangkaan pasokan di tingkat distributor. Antusiasme masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat kini terbentur tembok tebal: daya beli yang tergerus akibat melonjaknya harga pangan harian.
Keluhan pedagang ritel di lapangan ini menjadi sinyal penting bahwa kenaikan harga tidak terjadi di ruang hampa. Dalam ilmu ekonomi, fenomena ini berkelindan erat dengan risiko crowding out effect. Hadirnya Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) sebagai penyuplai masif untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan komoditas pangan dalam jumlah sangat besar secara mendadak. Ketika permintaan berskala raksasa ini hadir tanpa diimbangi kesiapan kapasitas produksi (supply) di tingkat hulu pada waktu yang sama, kelangkaan di pasar rakyat tak terelakkan.
Akibatnya, terjadi efek domino. Pasokan yang terbatas diborong untuk kebutuhan program skala besar, sementara pedagang tradisional di pasar harus berebut sisa komoditas dengan harga grosir yang sudah membumbung tinggi. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa pedagang membebankan kenaikan harga kepada konsumen akhir yakni masyarakat umum.
Pola Borong Hulu dan Risiko "Obat Penenang" Impor
Melihat manuver beberapa SPPG yang memborong langsung hasil panen dari petani lokal untuk mengamankan stok dan menekan biaya, sekilas langkah ini tampak efisien bagi keberlangsungan program. Namun, dampaknya terhadap ekosistem pasar tradisional sangat destruktif. Pedagang ritel kehilangan akses ke pasokan berkualitas dan terpaksa menjual barang sisa dengan harga modal yang membubung tinggi.
Membuka keran impor secara agresif guna meredam inflasi ini bukanlah jawaban hakiki. Impor hanyalah obat penenang jangka pendek yang dalam jangka panjang justru mematikan potensi serta keberlanjutan petani lokal. Petani akan makin tersingkir di tanahnya sendiri jika pasar nasional terus-menerus diserbu produk luar negeri setiap kali terjadi lonjakan permintaan.
Keadilan Ekosistem dalam Perspektif Ekonomi Islam
Masalah ini menuntut pendekatan tata kelola yang berkeadilan. Jika ditinjau dari perspektif ekonomi Islam, kondisi ketika kekuatan modal besar menguasai pasokan hulu hingga memicu kelangkaan bagi konsumen umum berpotensi mendekati praktik ihtikar (distorsi pasokan) serta mencederai prinsip tsa’man al-misl (harga yang adil).
Prinsip dasar ekonomi yang sehat mewajibkan adanya keseimbangan dan perlindungan bagi pihak yang lebih lemah la dharara wa la dhirara (tidak boleh saling membahayakan). Kebijakan publik seharusnya mendatangkan kemaslahatan menyeluruh, bukan sekadar menguntungkan satu sektor sembari mengorbankan piring masyarakat umum dan mata pencaharian pedagang kecil.
Solusi Konkret: Menata Ulang Mekanisme Lewat Segregasi Rantai Pasok
Pemerintah perlu mengambil langkah tegas dengan mengintervensi tata kelola distribusi melalui skema pemisahan rantai pasok (supply chain segregation). Regulasi mendesak harus segera diterbitkan untuk melarang SPPG membeli bahan baku langsung di pasar tradisional maupun berebut pasokan harian dengan pedagang ritel. Langkah sterilisasi pasar rakyat ini penting agar modal besar tidak mengintervensi pasokan yang menjadi hak konsumen harian.
Sebagai gantinya, pemerintah wajib membangun ekosistem pasar khusus bagi SPPG di setiap wilayah. Pemerintah dapat memandatkan SPPG untuk menyerap bahan baku secara eksklusif dari Koperasi Tani, BUMD Pangan, atau konsorsium lokal melalui skema contract farming (pertanian kontrak). Melalui mekanisme ini, petani mendapatkan kepastian pembeli (off-taker) dan harga yang adil sejak awal musim tanam, sekaligus mendorong peningkatan kapasitas produksi nasional secara terencana.
Penerapan segregasi ini secara otomatis melindungi pasar tradisional sehingga pedagang lokal dan masyarakat tetap memperoleh pasokan pangan harian dengan harga yang stabil. Pada saat yang sama, arena kompetisi antar-SPPG akan bergeser secara sehat pada efisiensi pengolahan dan peningkatan mutu gizi makanan, bukan lagi pada aksi sikut-sikutan menguasai bahan baku di pasar rakyat.
Program Makan Bergizi Gratis adalah cita-cita mulia untuk masa depan bangsa. Namun, pelaksanaannya tidak boleh memicu krisis gizi baru di luar lingkungan sekolah. Pembenahan infrastruktur pertanian dan penataan rantai pasok yang adil adalah kunci agar anak-anak kita kenyang, petani kita sejahtera, dan dapur rakyat tetap ngebul.

