Hari Lahir Pancasila: Saatnya Mengamalkan, Bukan Hanya Memperingati

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Josua Sitanggang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Berbagai upacara, seminar, unggahan media sosial, hingga pemasangan ucapan selamat memenuhi ruang publik. Namun, di tengah semarak peringatan tersebut, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, atau hanya menjadi slogan yang diingat setahun sekali?
Menurut saya, peringatan Hari Lahir Pancasila akan kehilangan makna jika hanya berhenti pada kegiatan seremonial. Esensi utama dari peringatan ini seharusnya terletak pada upaya mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata. Sebab, kekuatan Pancasila bukan berada pada teks yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, melainkan pada sejauh mana masyarakat dan penyelenggara negara menjadikannya sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak.
Realitas yang terjadi menunjukkan bahwa masih banyak perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Kasus perundungan di sekolah, penyebaran ujaran kebencian di media sosial, diskriminasi terhadap kelompok tertentu, hingga praktik korupsi yang terus terungkap menjadi contoh bahwa nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial belum sepenuhnya diwujudkan. Ironisnya, tindakan-tindakan tersebut sering kali dilakukan oleh orang-orang yang memahami bahkan menghafal Pancasila.
Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah maraknya penyebaran informasi palsu dan ujaran kebencian di media sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai konflik di ruang digital dipicu oleh sikap saling menghina, menyebarkan fitnah, dan menyerang pihak lain hanya karena perbedaan pandangan. Fenomena ini jelas bertentangan dengan sila kedua dan sila ketiga Pancasila yang mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia serta pentingnya menjaga persatuan bangsa.
sisi lain, generasi muda menghadapi tantangan yang tidak ringan. Arus globalisasi dan perkembangan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga berpotensi mengikis nilai-nilai kebangsaan apabila tidak diimbangi dengan pemahaman yang kuat terhadap Pancasila. Karena itu, pendidikan Pancasila tidak boleh hanya berfokus pada hafalan lima sila, melainkan harus menanamkan kemampuan berpikir kritis, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Sebagai mahasiswa dan warga negara, saya memandang bahwa pengamalan Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menghormati perbedaan pendapat, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, membantu sesama tanpa memandang latar belakang, serta menjunjung kejujuran dalam lingkungan pendidikan merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila. Langkah-langkah kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen bangsa. Peringatan ini bukan sekadar mengenang sejarah lahirnya dasar negara, tetapi juga mengingatkan bahwa nilai-nilai Pancasila harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang Pancasila. Indonesia membutuhkan lebih banyak tindakan yang mencerminkan Pancasila. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan Pancasila bukan terletak pada seberapa sering kita memperingatinya, melainkan pada seberapa sungguh-sungguh kita mengamalkannya.
