Konten dari Pengguna

Memilih untuk Diam saat Konflik dengan Rekan Kerja termasuk Perilaku Apa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Seorang ASN yang Merasa Kesal karena Konflik dengan Rekan Kerja Memilih untuk Diam Berhari-hari, Menghindari Komunikasi dan Memendam Emosi, Perilaku Ini termasuk…., Unsplash/Jose Vazquez
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seorang ASN yang Merasa Kesal karena Konflik dengan Rekan Kerja Memilih untuk Diam Berhari-hari, Menghindari Komunikasi dan Memendam Emosi, Perilaku Ini termasuk…., Unsplash/Jose Vazquez

Seorang ASN yang merasa kesal karena konflik dengan rekan kerja memilih untuk diam berhari-hari, menghindari komunikasi dan memendam emosi, perilaku ini termasuk perilaku apa ya?

Sebagai seorang ASN, bersikap profesional di tempat kerja menjadi salah satu keharusan. Sayangnya, konflik di tempat kerja terkadang tidak dapat dihindari, bahkan di perusahaan yang memiliki budaya kerja paling sehat.

Seorang ASN yang Merasa Kesal karena Konflik dengan Rekan Kerja Memilih untuk Diam Berhari-hari, Menghindari Komunikasi dan Memendam Emosi, Perilaku Ini termasuk Perilaku

Ilustrasi Seorang ASN yang Merasa Kesal karena Konflik dengan Rekan Kerja Memilih untuk Diam Berhari-hari, Menghindari Komunikasi dan Memendam Emosi, Perilaku Ini termasuk…., Unsplash/Marília Castelli

Seorang ASN yang merasa kesal karena konflik dengan rekan kerja memilih untuk diam berhari-hari, menghindari komunikasi dan memendam emosi, perilaku ini termasuk perilaku meghindari konflik.

Dikutip dari situs rsj.babel.prov.go.id dan niagarainstitute.com, perilaku tersebut di atas termasuk silent treatment atau perlakuan diam.

Silent treatment berarti saat seseorang memilih untuk diam sebagai respons terhadap konflik yang terjadi pada orang yang mengalami perlakuan diam tersebut.

Silent treatment di tempat kerja terjadi saat seseorang, baik itu karyawan, tim atau atasan sengaja mengucilkan, mengabaikan atau menolak melakukan komunikasi dengan seorang karyawan.

Meski terlihat sepele, perilaku ini bisa berdampak emosional terhadap kedua belah pihak. Komunikasi yang jelas dan tepat sasaran di antara kedua belah pihak yang berkonflik merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan sebuah konflik.

Seorang ASN yang merasa kesal karena konflik dengan rekan kerja memilih untuk diam berhari-hari, menghindari komunikasi dan memendam emosi, perilaku ini termasuk silent treatment.

Penyebab silent treatment ada beberapa, seperti ketidakmampuan seseorang mengelola emosi yang dirasakan, sedang menghindar dari konflik atau masalah yang terjadi, dan kurangnya komunikasi sehingga konflik kecil juga bisa memicu perilaku tersebut.

Terdapat sejumlah cara mengatasi silent treatment, yakni berikan individu tersebut waktu untuk sendiri, untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Namun, tindakan ini juga tidak seharusnya dilakukan berhari-hari.

Cara lainnya adalah cari tahu alasan melakukan hal tersebut. Salah satu hal yang tidak banyak diduga adalah konflik mungkin saja terjadi karena adanya kesalahan yang tidak sengaja dibuat.

Saat konflik berhasil diselesaikan, maka buatlah kesepakatan yang bisa diterima oleh kedua belah pihak.

Seorang ASN yang merasa kesal karena konflik dengan rekan kerja memilih untuk diam berhari-hari, menghindari komunikasi dan memendam emosi, perilaku ini termasuk perilaku diam atau silent treatment. Perilaku silent treatment juga merupakan salah satu perilaku abnormal di tempat kerja yang harus dihindari. (Mey)

Baca juga: Permasalahan Utama dalam Pengembangan Kompetensi Pegawai di Instansi Pemerintah