Tebu yang Baru Ditanam Mudah Tertular Hama dari Pucuk Kering, Ini Penyebabnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tebu yang baru ditanam mudah tertular hama dari pucuk kering dan sisa tanaman sebelumnya menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai dalam budidaya tebu.
Kondisi ini berkaitan dengan risiko serangan penggerek pucuk (Scirpophaga excerptalis Walker), hama penting yang dapat menurunkan produksi tebu hingga 30-80 persen sekaligus mengurangi kualitas nira.
Oleh karena itu, petani perlu mengenali karakteristik hama, gejala serangan, dan cara pengendaliannya sejak dini agar kerusakan tanaman dapat diminimalkan.
Tebu yang Baru Ditanam Mudah Tertular Hama dari Pucuk Kering dan Sisa Tanaman Sebelumnya
Tebu yang baru ditanam mudah tertular hama dari pucuk kering dan sisa tanaman sebelumnya perlu mendapat perhatian karena tanaman muda lebih rentan mengalami serangan penggerek pucuk. Setelah telur menetas, larva segera menuju pucuk tanaman dan masuk ke dalam jaringan.
Begitu larva berada di dalam batang, pengendalian menjadi jauh lebih sulit sehingga pencegahan sejak awal merupakan langkah yang sangat penting.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penggerek pucuk merupakan salah satu hama ekonomis penting pada tanaman tebu. Tantangan utama dalam pengendaliannya terletak pada perilaku larva yang bergerak sangat cepat menuju pucuk tanaman setelah telur menetas.
Larva kemudian masuk ke dalam jaringan tanaman sehingga waktu untuk melakukan pengendalian menjadi sangat terbatas. Penggerek pucuk memiliki siklus hidup yang relatif singkat.
Stadium telur berlangsung selama 8-9 hari dengan bentuk oval berwarna putih kekuningan dan diletakkan secara berkelompok di bagian bawah daun sebanyak 6-80 butir.
Larva berkembang selama sekitar 35 hari sebelum berubah menjadi pupa di dalam ruas muda tanaman tebu. Selanjutnya, pupa berkembang menjadi ngengat berwarna putih mengkilap yang mampu bertelur kembali sehari setelah keluar dari pupa.
Gejala serangan hama dapat dikenali dari munculnya deretan lubang horizontal berwarna cokelat pada daun serta lorong gerekan yang memanjang pada ibu tulang daun. Daun muda yang masih menggulung akan mengering dan mati.
Apabila batang dibelah membujur, akan terlihat lorong gerekan yang memanjang dari titik tumbuh menuju bagian bawah batang bahkan dapat menembus batang.
BRIN menjelaskan bahwa penggunaan insektisida saja seringkali kurang efektif karena larva telah lebih dahulu masuk ke dalam jaringan tanaman. Oleh sebab itu, pengendalian dianjurkan dilakukan secara terpadu.
Salah satu cara yang dapat diterapkan ialah memasang light trap atau feromon untuk menangkap ngengat dewasa. Penggunaan varietas tahan atau toleran serta benih bebas penggerek juga dianjurkan, misalnya varietas PS 851, PSJT 941, dan PS 881.
Pengendalian hayati dapat dilakukan melalui pelepasan Trichogramma sp., lalat Jatiroto, maupun Sturmiopsis inferens.
BRIN juga menyebutkan bahwa ekosistem perkebunan tebu memiliki beragam musuh alami, seperti Telenomus spp., Trichogramma spp., Tetrastichus spp., Isotima sp., dan predator dari kelompok semut yang berperan menekan populasi hama secara alami.
BRIN juga mendorong penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui integrasi pemanfaatan musuh alami, penggunaan varietas tahan, serta pengelolaan habitat yang baik.
Dengan memahami penyebab tebu yang baru ditanam mudah tertular hama dari pucuk kering dan sisa tanaman sebelumnya, petani dapat melakukan pencegahan lebih dini sehingga serangan penggerek pucuk dapat ditekan dan produktivitas tanaman tetap terjaga. (Rahma)
Baca juga: Urban Farming Menjadi Langkah Awal yang Baik bagi Milenial di Perkotaan
