Konten dari Pengguna

Dari UMY ke Bappeda Bantul: Cerita Magang yang Buka Mata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kies Amivea tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana rapat mahasiswa dengan para pegawai di Bappeda Kabupaten Bantul. Sumber : Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Suasana rapat mahasiswa dengan para pegawai di Bappeda Kabupaten Bantul. Sumber : Dokumentasi Pribadi.

Sebagai mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), saya awalnya mengira magang hanyalah formalitas untuk memenuhi kewajiban kampus. Tapi semua berubah ketika saya menjalani magang mandiri di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bantul. Di sinilah saya benar-benar melihat bagaimana teori manajemen yang dipelajari di kelas diterapkan di dunia nyata.

Hari-hari pertama terasa canggung. Lingkungan kerja terasa baru, ritme kerjanya cepat, dan tanggung jawabnya nyata. Namun seiring waktu, saya mulai menikmati prosesnya. Saya terlibat membantu pengolahan data, menyusun laporan, hingga ikut dalam kegiatan rapat dan acara resmi. Dari situ, saya belajar bahwa bekerja di pemerintahan bukan hanya soal administrasi, tetapi juga tentang bagaimana setiap keputusan berdampak langsung pada masyarakat.

Yang paling berkesan, saya belajar pentingnya adaptasi dan komunikasi. Dunia kerja tidak selalu berjalan sesuai rencana; ada kalanya sistem macet, jaringan lambat, atau jadwal berubah tiba-tiba. Tapi justru di situ saya ditempa untuk lebih fleksibel, sabar, dan bisa berpikir cepat.

Magang ini benar-benar membuka mata saya. Dunia kerja ternyata tidak sesederhana duduk di meja dan menyelesaikan tugas. Ada tanggung jawab moral, koordinasi antarbagian, dan kerja sama tim yang harus dijaga. Dari UMY ke Bappeda Bantul, saya belajar bahwa pengalaman lapangan adalah guru terbaik, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya diajarkan di ruang kuliah.

Kies Amivea, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.