Konten dari Pengguna

Metode Penelitian Ilmiah Perlu Ditulis dari Desain Riset

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

SEVIMA - Metode penelitian ilmiah yang hanya disusun dari perintah kepada mesin berisiko tidak mewakili pekerjaan nyata di laboratorium atau lapangan. Bagi dosen, persoalannya bukan apakah kecerdasan buatan dapat menghasilkan kalimat teknis, melainkan apakah setiap langkah dalam naskah benar-benar pernah dirancang dan dilaksanakan.

Hal itu disampaikan Dosen Teknik Lingkungan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Muhammad Al Kholif dalam diskusi Smart Writing tentang penulisan artikel ilmiah dengan bantuan kecerdasan buatan yang berlangsung secara daring pada 2025. Ia membahas penyusunan naskah, penilaian jurnal, dan pengalaman menangani revisi artikel.

Kecenderungan memulai tulisan dari judul dan abstrak dapat membuat penulis mengejar narasi yang sudah terbentuk lebih dulu. Al Kholif justru meminta peneliti memulai dari rancangan, menyiapkan gambaran data yang diperlukan, lalu menyusun metode berdasarkan keputusan itu. Penulisan dapat dibantu perangkat digital, tetapi pelaksanaan riset tidak bisa direkonstruksi dari teks yang terdengar meyakinkan.

Metode Penelitian Ilmiah Dimulai dari Rancangan

"Method-nya itu saya sarankan untuk selalu ditulis secara manual," kata Al Kholif. Saran itu tidak berarti setiap kata harus diketik tanpa alat bantu. Penekanannya ada pada penguasaan peneliti terhadap variabel, perangkat, sampel, tahapan kerja, dan dasar memilih pendekatan. Asisten penulisan boleh membantu menyusun kalimat, tetapi tidak dapat memastikan suatu perlakuan sudah dikerjakan.

Dalam paparan tersebut, Al Kholif menggambarkan kebiasaannya merencanakan tabel dan gambar sebelum penelitian dimulai. Ia ingin mengetahui informasi apa yang nantinya dapat disajikan, sehingga kebutuhan pengambilan data bisa diperkirakan. Pendekatan demikian membantu melihat kemungkinan kekosongan pengukuran sebelum proses eksperimen berlangsung, bukan setelah naskah hampir dikirim.

"Mereka mendesain risetnya itu lebih awal," jelas Al Kholif saat menerangkan mengapa penulisan metode sebaiknya berada di bawah kendali peneliti. Keputusan desain itulah yang menentukan apakah sebuah perbandingan sah, bagaimana pengukuran dilakukan, dan apa batas penggunaan hasil penelitian. Mengganti rincian yang hilang dengan uraian generik akan menyulitkan orang lain menilai keterulangan prosedur.

Pada penelitian berbasis survei, misalnya, uraian metode perlu konsisten dengan jumlah respons yang diterima dan cara pemilihan responden. Pada penelitian eksperimen, kondisi perlakuan dan teknik pengukuran mesti sejalan dengan catatan kerja. Contoh itu menunjukkan fungsi metode sebagai catatan tindakan yang dapat diperiksa, bukan sekadar bagian wajib yang mengisi halaman manuskrip.

Data dan Prosedur Tidak Boleh Dibayangkan AI

Kesalahan yang perlu dihindari adalah membiarkan sistem otomatis menambahkan detail prosedur yang tidak ditemukan dalam catatan asli. Hasilnya dapat tampak lengkap tetapi sebenarnya menimbulkan pertentangan antara metode, tabel, dan kesimpulan. Ketika penulis sendiri tidak mampu menjelaskan asal suatu rincian, pemeriksaan oleh editor atau penelaah akan semakin berat.

Bagi tim penelitian, langkah yang lebih aman adalah memeriksa naskah terhadap protokol awal, log pengukuran, instrumen, serta versi final kumpulan data. Jika metode berubah di tengah penelitian, perubahan itu perlu dituliskan secara jujur. Penyuntingan bahasa dilakukan setelah isi faktual dipastikan, agar kata-kata yang lebih rapi tidak menyembunyikan perubahan prosedur.

Panduan 'Manuscript preparation: Transform your research into compelling content' dari Elsevier menekankan perlunya memeriksa petunjuk penulis pada jurnal tujuan, termasuk struktur naskah, batas kata, dan ketentuan pengiriman. Panduan tersebut juga menempatkan kejelasan, susunan yang baik, dan integritas riset sebagai unsur penyiapan manuskrip.

"Final cross check-nya itu tetap harus Bapak Ibu sendiri," ujar Al Kholif. Ia juga mengingatkan bahwa hasil yang dibuat AI tidak boleh langsung diterima. Pernyataan ini menempatkan pengguna sebagai pihak yang harus menilai apakah penjelasan metodologis benar, lengkap, dan sesuai dengan tujuan riset.

Penguasaan metode juga memengaruhi cara menjawab komentar penelaah. Pertanyaan tentang jumlah pengulangan, alasan memilih teknik analisis, atau perubahan instrumen tidak dapat dijawab hanya dengan memperindah redaksi. Peneliti memerlukan jejak keputusan yang dapat ditelusuri dari rancangan sampai hasil.

Ada pula konsekuensi ketika metode tampak lebih rinci daripada data yang tersedia. Pembaca mungkin menganggap pengukuran dilakukan berulang atau instrumen sudah diuji, meskipun bukti pelaksanaannya tidak ada. Karena itu, penjelasan setiap prosedur seharusnya dapat dihubungkan dengan buku catatan, berkas mentah, atau dokumen persetujuan penelitian yang relevan. Penyusunan teks otomatis tidak dapat membuat jejak tersebut muncul dengan sendirinya.

Saat peneliti bekerja dalam kelompok, pemeriksaan metode idealnya melibatkan anggota yang mengerjakan tahapan bersangkutan. Mereka dapat menandai perbedaan antara protokol yang direncanakan dan pelaksanaan sesungguhnya. Catatan itu kemudian dicocokkan dengan tabel serta uraian hasil. Cara ini membantu memastikan istilah teknis yang digunakan bukan sekadar terdengar ilmiah, melainkan menjelaskan tindakan konkret yang menjadi dasar naskah.

Pada tahap akhir, pemeriksaan silang dapat dicatat sebagai daftar pertanyaan: apakah variabel sudah dijelaskan, apakah langkah penelitian bisa diulang, dan apakah seluruh angka pada bagian hasil dapat ditelusuri. Bila jawabannya belum jelas, bagian metode perlu diperbaiki sebelum penyuntingan bahasa dinyatakan selesai. Pemeriksaan ini melengkapi, bukan menggantikan, review akademik.

Metode penelitian ilmiah pada akhirnya harus menjelaskan pekerjaan yang benar-benar terjadi. Kecepatan penyusunan draf berguna, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk mempertanggungjawabkan rancangan, prosedur, dan bukti yang menjadi dasar setiap kesimpulan.