Harga Emas Diproyeksi Naik Lagi, Koreksi Jadi Peluang Beli

Harga emas Antam diproyeksi terkoreksi pada perdagangan pekan depan. Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai koreksi harga emas dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat maupun bank sentral untuk kembali mengoleksi logam mulia.
Ibrahim memprediksi harga emas dunia pekan depan ditransaksikan di level 3.884 hingga 4.138 dolar AS. Kemudian emas Antam diprediksi ditransaksikan di Rp 2,39 juta hingga Rp 2,69 juta per gram.
Sebelumnya pada perdagangan Sabtu (24/10) pagi, harga emas Antam berada di level Rp 2.525.000 per gram.
“Ini kesempatan terbaik bagi masyarakat maupun bank sentral untuk kembali mengoleksi,” kata Ibrahim kepada kumparan, Minggu (25/10).
Perkembangan situasi geopolitik akan turut menentukan arah harga emas ke depan. Jika ketegangan di Timur Tengah mereda, harga emas berpeluang kembali meningkat.
“Saya masih optimis bahwa logam mulia ini maupun emas dunia masih akan naik,” ungkap Ibrahim.
Menurut Ibrahim, koreksi harga emas saat ini masih wajar di tengah ketidakpastian geopolitik, penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak mentah, dan tekanan inflasi.
Salah satu kondisi geopolitik yang disebut adalah konflik di Timur Tengah, Ibrahim menyoroti potensi konflik terbuka antara Iran dan AS di sekitar Laut Oman. Ia menyebut kedua pihak telah menempatkan pasukan dalam jumlah besar di kawasan tersebut.
Konflik yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi turut memengaruhi harga minyak dunia. Menurut Ibrahim, serangan balasan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu fasilitas minyak dan menekan produksi, sehingga mendorong kenaikan harga minyak mentah.
“Kita tinggal menunggu bagaimana drama dari Timur Tengah antara Amerika dan Iran selesai, drama antara Houthi dan Arab Saudi selesai, dan ini akan memicu lonjakan harga emas ke depannya, tinggal tunggu waktu saja,” kata Ibrahim.
