Kumparan Logo

Yakin Tak Jebol, Subsidi MRT Jakarta Rp 560 M Cukup hingga Desember

kumparanBISNISverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustasi di depan Stasiun MRT Bendungan Hilir, Jakarta.  Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustasi di depan Stasiun MRT Bendungan Hilir, Jakarta. Foto: Shutter Stock

PT MRT Jakarta masih mengandalkan subsidi dari Pemprov DKI sebagai salah satu pendapatannya. Subsidi tersebut digunakan untuk membiayai tiket yang harus dibayarkan oleh masyarakat apabila ingin naik kereta MRT.

Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi PT MRT Jakarta, Tuhiyat mengatakan, kalau tidak disubsidi, harga tiket dari Stasiun MRT dari Bundaran HI ke Lebak Bulus bisa mencapai Rp 30.000. Dia pun bilang subsidi Rp 560 miliar yang diberikan Pemprov DKI Jakarta cukup hingga Desember 2019 atau sesuai kontrak.

“Subsidinya kurang lebih sekitar Rp 560 miliar. (Itu) 9 bulan dari 1 April sampai Desember,” kata Tuhiyat saat penyampaian materi dalam MRT Journalist Fellowship Program 2019 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Selasa (19/11).

Tuhiyat merasa tentu tidak mudah jika tidak ada subsidi dari Pemprov DKI. Terlepas sudah ada pendapatan lain, segala operasional MRT Jakarta juga bisa berjalan karena subsidi itu.

“Alhamdulillah masih hidup sampai sekarang. Nutup (pendapatan dan kebutuhan) kalau enggak ada subsidi enggak akan nutup,” ujar Tuhiyat.

Tuhiyat mengaku saat ini belum bisa lepas dari subsidi itu. Namun dalam jangka panjang, dengan segala pemasukan dibidang lainnya bisa saja MRT Jakarta tidak bergantung subsidi dari pemerintah.

“Subsidi pada prinsipnya adalah mengcover selisih tarif penumpang yang rata-rata sekarang dibayar, yang seharusnya itu tarif keekonomian. Itu sepanjang itu harus dilakukan (subsidi),” ujar Tuhiyat.

Ilustrasi Kereta MRT Jakarta. Foto: AFP/BAY ISMOYO

Untuk itu, Tuhiyat mengaku pihaknya terus berupaya meningkatkan pendapatan. Saat ini yang dimaksimalkan adalah tiket masuk. Dengan semakin banyak penumpang naik MRT, otomatis pendapatan dari tiket atau farebox bisa meningkat.

Tuhiyat mengungkapkan pihaknya juga sedang menggencarkan pemasukan dari non tiket. Non tiket dianggap berpengaruh paling signifikan adalah penamaan stasiun MRT.

“Dari non farebox. Satu naming ride lalu advertising, telekomunikasi, dan ritel sampai saat ini bisa menutupi (operasional MRT),” ungkap Tuhiyat.

Sejauh ini ada 5 stasiun yaitu Setiabudi, Blok M, Istora, Dukuh Atas, dan Lebak Bulus. Sementara itu produk-produk yang boleh berjualan di Stasiun MRT harus dikurasi dulu oleh Bekraf.

Tuhiyat membeberkan dalam jangka panjang pihaknya bakal fokus mengembangkan Transit Oriented Development (TOD) di 5 kawasan yaitu Dukuh Atas, Istora Senayan, Blok M, Fatmawati, dan Lebak Bulus. Dari TOD itu diperkirakan MRT Jakarta bisa mendapatkan pemasukan sampai Rp 240 triliun.

Beberapa yang dibangun dari TOD itu mulai dari rumah susun sampai taman. Tuhiyat memastikan TOD itu bakal lebih menguntungkan masyarakat daripada pihak yang bergerak di properti.

“(TOD) Lebih banyak menguntungkan masyarakat karena kita akan bangun seluruh infrastruktur itu digunakan untuk masyarakat juga, saya kira gitu,” tutur Tuhiyat.