Aktor Jefan Nathanio Dapat Beasiswa Penuh, Punya Prinsip Kuliah yang Menarik

Kesibukan di dunia hiburan tak membuat Jefan Nathanio mengesampingkan pendidikan. Aktor yang dikenal lewat film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 itu punya prinsip tersendiri dalam memandang kuliah. Baginya, pendidikan bukan sekadar jalan untuk mendapatkan ijazah, melainkan investasi jangka panjang untuk membentuk diri.
Di tengah aktivitasnya di dunia seni peran, Jefan tetap berusaha menyelesaikan pendidikan sarjana. Ia tercatat sebagai mahasiswa Universitas Internasional Jakarta (UNIJI) dan berhasil mendapatkan beasiswa penuh selama tiga tahun.
Pencapaian tersebut disambut dengan rasa syukur oleh Jefan. Ia mengaku tak menyangka bisa mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan dengan dukungan beasiswa tersebut.
“Rasanya yang pertama adalah puji Tuhan, bersyukur, dan terharu. Bangga dan enggak menyangka bisa mendapatkan beasiswa di UNIJI. Terima kasih UNIJI,” ujar Jefan.
Jefan Nathanio Anggap Kuliah sebagai Investasi Jangka Panjang
Bagi Jefan, kuliah bukan sekadar tentang memperoleh gelar sarjana. Ia memandang pendidikan sebagai proses untuk membentuk pola pikir, sikap, dan cara seseorang membawa diri dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kesuksesan memang tidak hanya bisa diraih melalui bangku kuliah. Namun, pendidikan tetap memiliki peran penting dalam mempersiapkan seseorang menghadapi masa depan.
“Kuliah penting bagi saya karena investasi jangka panjang, walaupun bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Nilai utama kuliah terletak pada pembentukan pola pikir, attitude, dan adab, bukan sekadar selembar ijazah,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi menarik mengingat Jefan telah menekuni dunia seni peran sejak kecil. Pengalamannya di industri hiburan tidak lantas membuatnya berhenti belajar dan mengembangkan diri melalui pendidikan formal.
Pilih Jurusan yang Dekat dengan Dunia Hiburan
Jefan kini duduk di semester tujuh dan mengambil program studi Entertainment and Creative Industry di UNIJI. Pilihan jurusan tersebut berkaitan erat dengan aktivitasnya selama ini di industri hiburan.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa menjalani proses syuting film maupun sinetron. Karena itu, bidang studi yang dipilihnya dinilai relevan dengan pengalaman sekaligus perjalanan kariernya.
“Karena sesuai dengan kegiatan syuting yang dilakukan oleh saya dari kecil,” tuturnya.
Selain mempertimbangkan kesesuaian jurusan, Jefan juga memiliki alasan tersendiri memilih UNIJI. Ia tertarik dengan kurikulum berbahasa Inggris, standar akademik internasional, serta sistem tiga semester dalam setahun yang memungkinkan mahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu tiga tahun.
Kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, China, Australia, dan Inggris, juga menjadi nilai tambah baginya.
Menjalani dua aktivitas sekaligus tentu bukan perkara mudah. Jefan harus tetap memenuhi tanggung jawab akademik di tengah jadwal syuting yang menyita waktu dan tenaga.
Untuk menyiasatinya, ia memanfaatkan sistem pembelajaran daring serta mengerjakan tugas kuliah di sela-sela kegiatan syuting. Dengan begitu, kewajibannya sebagai mahasiswa tetap bisa berjalan tanpa harus mengesampingkan pekerjaan.
Di luar urusan akademik, pengalaman kuliah juga memberinya kesempatan untuk bertemu teman dan dosen baru. Ia belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri sekaligus bertanggung jawab dalam mengatur waktu dan menyelesaikan kewajibannya.
Bagi Jefan, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pengembangan diri yang tidak selalu bisa diperoleh hanya melalui pekerjaan.
Perjalanan Karier Jefan Nathanio
Jefan Nathanio telah mengenal dunia seni peran sejak usia dini. Namanya antara lain dikenal lewat film Tampan Taylor, yang mengantarkannya meraih Piala Maya dalam kategori Aktor Cilik Terpilih pada 2013.
Dalam perjalanan kariernya, Jefan terus terlibat dalam berbagai proyek akting. Dukun Magang menjadi salah satu proyek film terbarunya, sementara di layar kaca ia membintangi sinetron Asmara Gen Z.
