Kumparan Logo

Main Film Putri Jangan Gentayangan Lagi, Kinaryosih dan Kawai Labiba Rasakan Tanggung Jawab Besar

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gala Premiere film "Putri Jangan Gentayangan Lagi" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
 Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gala Premiere film "Putri Jangan Gentayangan Lagi" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Artis Kinaryosih dan Kawai Labiba berbagi pengalaman selama terlibat dalam film horor 'Putri Jangan Gentayangan Lagi'. Keduanya memerankan karakter yang diangkat dari kisah nyata Mak Eli dan putrinya, Putri.

Bagi Kinaryosih, memerankan Mak Eli menjadi tanggung jawab besar karena sosok aslinya masih ada. Ia mengaku sempat merasa gugup ketika pertama kali mendapat tawaran untuk memerankan karakter tersebut.

Tantangan yang dihadapi Kinaryosih salah satunya adalah menyesuaikan logat Bekasi-Betawi yang digunakan Mak Eli. Ia juga perlu mendalami berbagai konflik emosional yang dialami karakter tersebut.

“Terus terang berat sekali sih karena dari logatnya. Sementara kalau aku tiap hari ngomongnya kan kayak gini. Jadi harus ada adaptasi,” ujar Kinaryosih dalam konferensi pers film Putri Jangan Gentayangan Lagi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Dalam prosesnya, Kinaryosih berdiskusi dengan sutradara Rizal Mantovani untuk menemukan cara yang tepat dalam membawakan sosok Mak Eli. Ia mengatakan Rizal memberinya kebebasan untuk mengembangkan karakter, selama tetap sesuai dengan dasar yang sudah ditentukan.

Menurut Kinaryosih, tantangan lainnya adalah membawakan emosi Mak Eli yang cukup intens. Karakter tersebut memiliki banyak konflik, terutama dalam hubungannya dengan Putri.

“Aku pun sendiri ngelihatnya tadi kayak, ‘Aduh kok kayak pegel gitu, kepala enggak pusing marah-marah terus?’ Tapi memang seperti itu, karena konfliknya berat sekali,” katanya.

Kawai Labiba Jalani Tantangan Perankan Putri sebagai Hantu

Sementara itu, Kawai Labiba mendapat tantangan berbeda saat memerankan Putri. Film “Putri Jangan Gentayangan Lagi” menjadi pengalaman pertamanya memainkan karakter arwah.

Kawai mengaku sempat bingung menentukan cara membawakan sosok hantu yang tetap memiliki sisi manusiawi. Ia kemudian berdiskusi dengan Rizal Mantovani untuk memahami karakter Putri.

“Waktu itu di kepalaku aku pikir hantu itu berarti sudah beda dari manusia biasa. Sudah tidak ada batas raga atau tubuhnya lagi. Berarti dia cuma emosi yang sangat-sangat raw. Bingung dong aku maininnya gimana,” ujar Kawai.

Gala Premiere film "Putri Jangan Gentayangan Lagi" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Rizal kemudian mengarahkan Kawai agar tetap mempertahankan sisi manusiawi Putri. Menurut sang sutradara, karakter tersebut sebelumnya merupakan manusia yang memiliki cerita, latar belakang, dan emosi.

Selain mendalami karakter, Kawai juga harus memperhatikan kesinambungan tujuh fase Putri dalam film. Dua fase menggambarkan Putri ketika masih hidup, sedangkan lima fase lainnya memperlihatkan perjalanannya sebagai hantu.

Perubahan penampilan dan kebutuhan efek khusus membuat proses syutingnya memiliki tantangan tersendiri. Kawai mengungkapkan sekitar 60 persen waktu syutingnya dihabiskan dengan menggunakan lensa kontak putih.

Ia juga harus menjalani sejumlah adegan dengan bantuan sling dan berbagai practical effect. Bahkan, ada adegan yang mengharuskannya berhadapan dengan belatung asli.

“Jadi memang salah satu tantangannya itu adalah mempertahankan continuity si Putri ini lagi di fase apa. Karena make up-nya benar-benar dari ujung ubun-ubun sampai kaki,” kata Kawai.

Dari sisi pendalaman emosi, Kawai mencoba memahami Putri melalui cerita yang disampaikan langsung oleh Mak Eli. Ia melihat Putri sebagai sosok anak perempuan yang kuat dan memiliki keinginan besar untuk membantu keluarganya.

Gala Premiere film "Putri Jangan Gentayangan Lagi" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Kawai juga menghubungkan karakter tersebut dengan pengalamannya sebagai anak perempuan pertama yang memahami besarnya rasa tanggung jawab terhadap keluarga.

“Sebagai anak perempuan pertama, rasa tanggung jawab ingin membantu keluarga itu juga besar sekali buat aku. Jadi mungkin ketika aku menjadi Putri di film, rasa emosinya itu bisa berangkat dari kepahamanku sebagai anak perempuan pertama,” tuturnya.

Kawai mengatakan pengalaman memerankan Putri menjadi salah satu hal yang berkesan baginya. Ia dan Kinaryosih juga merasa memiliki tanggung jawab besar karena karakter yang mereka mainkan berkaitan dengan kisah hidup Mak Eli dan almarhumah Putri.

“Putri Jangan Gentayangan Lagi” mengisahkan Putri (Kawai Labiba) yang kembali ke rumah setelah sekitar setahun pergi. Saat ditemukan oleh ibunya, Mak Eli (Kinaryosih), Putri sudah memiliki bayi dan sedang sakit setelah melahirkan.

Mak Eli kemudian mengajak Putri dan bayinya untuk kembali tinggal bersama keluarga. Namun, kondisi Putri justru semakin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

Setelah kepergiannya, arwah Putri mulai terlihat gentayangan dan meresahkan warga sekitar.

Film horor yang diangkat dari kisah nyata dan garapan MVP Pictures ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 5 November 2026.