Kumparan Logo

Teater Nyonya Ati Soetji Siap Digelar, Maudy Koesnaedy dapat Peran Antagonis

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Joanne Win, Maudy Koesnaedy, dan Tika Bravani, bintangi Teater Nyonya Ati Soetji pada Kamis (29/10). Foto: Dok: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Joanne Win, Maudy Koesnaedy, dan Tika Bravani, bintangi Teater Nyonya Ati Soetji pada Kamis (29/10). Foto: Dok: Istimewa

Pementasan teater bertajuk 'Nyonya Ati Soetji' siap digelar di Ciputra Artpreuneuer, pada 30 dan 31 Oktober 2026. Lakon ini mengangkat kisah nyata pahlawan keturunan Tionghoa, Ibu Aw Tjoei Lan, dan perjuangannya memberantas praktik perdagangan manusia (perdagangan anak gadis) dan jaringan mucikari pada zaman Hindia Belanda sekitar tahun 1930.

Aktris Joanne Win dipercaya menghidupkan karakter Nyonya Aw Tjoei Lan dalam pementasan itu. Selain itu, pementasan tersebut juga menghadirkan Maudy Koesnaedy dan Tika Bravani.

Teater Nyonya Ati Soetji, memberikan pengalaman baru bagi Maudy Koesnaedy. Sebab, aktris yang lekat dengan tokoh protagonis itu harus memerankan karakter fiktif antagonis bernama 'Sayap Hitam'.

"Baru pertama kali ini dikasih kepercayaan mendapatkan peran antagonis dan... aku menikmati sekali," ungkap Maudy.

Maudy kemudian menceritakan tantangan unik yang harus dihadapinya di atas panggung.

"Tantangannya ini melakukan gerakan-gerakan dengan kuku panjang itu ternyata ribet ya, sulit gitu lho, mau copot, mau jatuh," tambahnya sambil tertawa.

Meski memerankan karakter antagonis, Maudy Koesnaedi justru mendapatkan refleksi moral yang mendalam tentang arti kemanusiaan.

"Ketika kita menjadi manusia kita harus punya hati nurani dan akal budi, supaya kita bisa mempertanggungjawabkan keputusan-keputusan apa yang kita ambil di dalam hidup kita," kata Maudy.

"Karena tanpa adanya hati nurani dan akal budi, kalau cuma dijawab berdasarkan pernyataan dan argumentasi, itu bisa aja jadi semua benar," tambahnya.

Selain Maudy, Maudy Koesnaedi, aktris Tika Bravani juga turut ambil bagian. Dalam pementasan itu, dia memerankan tokoh Nona Nevel, salah satu staf pengajar panti asuhan yang hatinya sangat tersentuh melihat nasib anak-anak korban perdagangan manusia.

Bagi Tika Bravani, tantangan terbesar dalam pementasan ini adalah tuntutan vokal di atas panggung.

"Cuma ada nyanyi aja sih... nyanyi sambil ngomong, sambil nyanyi lagi, yang menurut saya agak aneh tapi harus seolah-olah itu natural," tutur Tika.

Pementasan Nyonya Ati Soetji Hadirkan Kisah Perlawanan Terhadap Perdagangan Manusia di Era Hindia Belanda

Joanne Win, Maudy Koesnaedy, dan Tika Bravani, bintangi Teater Nyonya Ati Soetji pada Kamis (29/10). Foto: Dok: Istimewa

Nyonya Aw Tjoei Lan, Joanne Win mengungkapkan bahwa ide pementasan tersebut bermula saat perayaan 100 tahun Yayasan Hati Suci.

Menurut, Joanne, pementasan ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan upaya edukasi sejarah bagi anak muda. Menurutnya generasi muda juga harus tahu pahlawan Indonesia yang berdarah Tionghoa.

"Generasi muda zaman sekarang juga harus tahu bahwa mereka juga mempunyai pahlawan Indonesia keturunan Tionghoa yang juga banyak jasanya kepada Indonesia, khususnya dalam kasus perdagangan manusia," ujar Joanne Win.

Proses pendalaman karakter dilakukan Joanne Win dengan sangat serius. Dia bersama tim bahkan melakukan riset mendalam dengan menelusuri dokumen Belanda.

Tak hanya itu, mereka juga sempat mewawancarai langsung salah satu cucu mendiang Nyonya Aw untuk menggali detail keseharian, kepribadian, hingga gaya bicara sang tokoh pahlawan.

Perpaduan antara ketegangan dinamika teater, akting memukau para pemain, dan pesan kemanusiaan yang kuat membuat teater "Nyonya Ati Soetji" menjadi tontonan yang pantas dinantikan.

Pementasan ini akan digelar pada hari Jumat dan Sabtu, 30 dan 31 Oktober 2026, bertempat di Ciputra Artpreneur, Jakarta.