Kumparan Logo

Viral Video Guru Olahraga Ajak Anak SD Latihan Beban, Apa Manfaatnya?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi. Viral Video Guru Olahraga Ajak Anak SD Latihan Beban, Apa Manfaatnya? Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Viral Video Guru Olahraga Ajak Anak SD Latihan Beban, Apa Manfaatnya? Foto: Shutterstock

Video yang diunggah akun Instagram @kknbaramban2026 memperlihatkan seorang guru olahraga mengajak anak-anak sekolah dasar (SD) melakukan latihan kekuatan otot menggunakan peralatan yang tersedia di sekolah.

Dalam video tersebut, anak-anak tampak mengikuti berbagai gerakan olahraga. Bahkan, salah satu anak terlihat memiliki otot perut yang membentuk sixpack.

instagram embed

Manfaat Latihan Kekuatan Otot bagi Anak

Sebenarnya, latihan kekuatan seperti push-up, squat, dan sit-up bisa menjadi bagian dari aktivitas fisik anak. Menurut dokter spesialis anak yang juga expert kumparanMOM, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, latihan tersebut dapat memberikan sejumlah manfaat selama dilakukan dengan teknik yang benar dan mendapatkan pengawasan yang baik.

Beberapa manfaat latihan kekuatan bagi anak, antara lain:

-Meningkatkan kekuatan otot.

-Melatih koordinasi dan keseimbangan tubuh.

-Membantu menjaga kesehatan tulang.

"Pada anak, tujuan utama olahraga bukan untuk membentuk penampilan fisik seperti orang dewasa, melainkan mendukung pertumbuhan, kebugaran, keterampilan motorik, dan kesehatan secara keseluruhan," ucap dr. Aisya kepada kumparanMOM, Senin (26/10).

Ilustrasi anak olahraga dengan orang tua. Foto: Chayantorn Tongmorn/Shutterstock

Oleh karena itu, memiliki otot perut sixpack bukan berarti seorang anak lebih sehat atau lebih bugar dibandingkan anak lainnya.

Hal yang Perlu Diperhatikan saat Anak Latihan Beban

Bagi anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan, latihan kekuatan perlu dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan teknik gerakan yang benar. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

-Mengutamakan teknik gerakan yang benar.

-Mendapatkan pengawasan dari orang dewasa.

-Menghindari penggunaan beban berlebihan.

-Tidak memaksa anak berlatih hingga mengalami kelelahan berat.

"Latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap, mengutamakan teknik yang benar, nggak pakai beban berlebihan, dan tidak memaksa anak berlatih hingga kelelahan berat. kalau pun mau pakai beban eksternal, anak perlu mendapat pendampingan orang dewasa yang memahami teknik latihan yang aman,” tegasnya.

Ilustrasi orang tua ajak anak olahraga lari. Foto: Shutterstock

Rekomendasi Aktivitas Fisik untuk Anak

Mengutip rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak usia 5–17 tahun dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat rata-rata minimal 60 menit setiap hari.

Aktivitas tersebut tidak harus selalu berupa latihan beban. Anak juga bisa memenuhi kebutuhan aktivitas fisiknya melalui berbagai kegiatan menyenangkan, seperti:

-Bersepeda dan berenang.

-Berlari dan lompat tali.

-Bermain sepak bola atau bulu tangkis.

-Melakukan push-up dan squat dengan teknik yang benar.

Jadi, yang terpenting bukan seberapa besar otot anak terbentuk, melainkan bagaimana aktivitas fisik dapat membantu mendukung tumbuh kembang dan menjaga kesehatannya.

kumparan post embed