BGN Selidiki Dugaan Pelanggaran SOP Perebusan Telur di SPPG Sumbawa

Badan Gizi Nasional (BGN) menyelidiki dugaan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumbawa Tarano Labuhan Bontong, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Penyelidikan dilakukan menyusul kejadian yang menyebabkan puluhan siswa penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus menjalani observasi pada Selasa (27/10).
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan investigasi awal mengarah pada menu telur saus woku yang disajikan untuk para siswa. Berdasarkan keterangan awal kepala SPPG, telur tersebut direbus sekitar pukul 00.00 WITA, sedangkan prosedur yang seharusnya diterapkan menetapkan proses perebusan dimulai pukul 02.00 WITA.
“Dalam kesempatan tersebut, BGN juga menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa yang terdampak, orang tua, dan pihak sekolah atas kejadian tersebut. BGN memahami kekhawatiran yang dirasakan keluarga dan memastikan koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan untuk mendukung penanganan siswa serta mengawal proses evaluasi,” ujar Tysa dalam keterangan yang diterima kumparan, Rabu (28/10).
Meski demikian, BGN menegaskan temuan awal tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab pasti kejadian. Penelusuran masih berlangsung dengan menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan oleh instansi terkait.
“SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong saat ini sudah diberikan surat pemberhentian sementara atau suspend dengan kategori sedang. Berkaitan dengan tindak lanjutnya, kami akan menunggu hasil pemeriksaan makanan oleh instansi terkait,” ujarnya.
Penghentian sementara operasional SPPG tersebut dilakukan sebagai bagian dari evaluasi untuk memastikan seluruh tahapan pengolahan dan penyajian makanan telah berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
“Kami menelusuri setiap tahapan, mulai dari pengolahan hingga penyajian makanan, untuk mengetahui apakah terdapat prosedur yang belum dijalankan sesuai ketentuan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar bagi langkah perbaikan agar standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten,” katanya.
Berdasarkan laporan hingga Selasa (27/10) pukul 22.35 WITA, Tysa mengatakan sebanyak 34 siswa telah menjalani observasi di dua fasilitas pelayanan kesehatan. Rinciannya, 32 siswa dirawat di Puskesmas Tarano dan dua siswa di Puskesmas Empang.
Dalam perkembangan penanganan, kondisi siswa terdampak dilaporkan berangsur membaik. Dua siswa di antaranya telah diperbolehkan kembali ke rumah.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa yang terdampak, orang tua, dan pihak sekolah atas kejadian ini. Kami memahami kekhawatiran yang dirasakan keluarga. BGN terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan para siswa mendapatkan penanganan yang diperlukan sekaligus mengawal proses evaluasi agar langkah perbaikan dapat dilakukan secara tepat,” ujar Tysa.
BGN menyatakan akan menindaklanjuti setiap temuan dalam proses evaluasi sesuai ketentuan yang berlaku. Pengawasan juga akan diperkuat untuk memastikan kepatuhan terhadap prosedur keamanan pangan, mulai dari penyiapan bahan baku hingga makanan disajikan kepada penerima manfaat.
“Setiap temuan akan ditindaklanjuti melalui evaluasi sesuai ketentuan. Kami juga terus memperkuat pengawasan agar seluruh tahapan pelayanan, mulai dari penyiapan bahan, pengolahan, hingga penyajian makanan, memperhatikan standar keamanan pangan,” tegas dia.
BGN turut mengapresiasi dukungan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Puskesmas Tarano, Puskesmas Empang, Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Satgas MBG Kabupaten Sumbawa, serta para pemangku kepentingan di tingkat kecamatan dan desa dalam membantu penanganan siswa terdampak.
BGN berkomitmen mengawal proses penanganan dan evaluasi hingga penelusuran selesai, sekaligus memperkuat kepatuhan setiap SPPG terhadap standar operasional prosedur dalam pelaksanaan program MBG.
