Gerilya Politik Agus Yudhoyono
Prajurit atau politikus, seorang Agus Harimurti Yudhoyono tak lepas dari dera kesibukan. Tengok saja agendanya sebulan ini. Kalau tak menyambangi politikus atau pejabat, ya mengunjungi masyarakat di berbagai daerah.
Awal Maret bertemu Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Presiden Jokowi, sampai Menkopolhukam Wiranto, dan akhir Maret berkeliling ke 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Padat betul tanpa jeda.
Pasca-pertarungan AHY di Pilkada DKI Jakarta 2017, ini kali pertama ia kembali ‘berputar’ bak gasing ke sana sini. Kali ini, tentu saja, juga di luar Jakarta. Dan segala kegiatan politik itu adalah bagian dari tugas barunya sebagai Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat.
Jabatan itu mengamanatkan kepadanya, antara lain, tugas untuk memenangkan calon-calon kepala daerah yang diusung Demokrat di Pilkada Serentak 2018. AHY diharapkan berperan penting mendongkrak para calon kepala daerah, sementara pada waktu yang sama, popularitas dan elektabilitasnya pun ikut terkerek.
Safari politik AHY di Jawa Barat misalnya diberi tema “AHY Ngariung di Jabar”. ‘Ngariung’, yang artinya ‘berkumpul’, menjadi harapan Demokrat untuk mengantongi suara signifikan di provinsi yang memiliki 32,5 juta pemilih itu.
Tak bisa tidak, Jawa Barat salah satu wilayah kunci untuk meraih kemenangan di Pilpres 2019 yang tinggal setahun. Selain penting untuk mengamankan suara dari daerah ini di Pilkada 2018, sosok AHY penting untuk dikenali para konstituen Tanah Pasundan.
(Menaikkan elektabilitas diri) itu pasti, karena kalau mau diterima masyarakat, ya harus ketemu sama masyarakat.
Jawa Barat baru awal. Setelahnya, tur pemenangan Pilkada 2018 yang dipimpin AHY, sang komandan lapangan Demokrat itu, akan melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Mas AHY banyak melakukan perjalanan darat dalam rangka mencari masukan dari masyarakat,” kata Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo, Minggu (25/3).
Curi start? Tidak juga. Tak ada yang terlalu dini untuk persiapan Pemilu Presiden. Apalagi kandidat-kandidatnya sudah kelas berat macam Jokowi dan Prabowo.
Jadi, AHY yang diproyeksikan Demokrat menjadi pemimpin masa depan, memang harus banting tulang. Mulai ikut joging di Car Free Day Dago, melaut bersama nelayan Pangandaran, hingga menggelar turnamen futsal AHY Cup di Bogor.
Tak lupa, pada tiap kegiatan, ia mengenakan kaus bersemat tulisan ‘AHY’--singkatan nama yang menjadi merek dagang politiknya.
AHY, bagi Demokrat, adalah wujud regenerasi. Ia menerima tongkat estafet kepemimpinan dari Susilo Bambang Yudhoyono, ayahnya sekaligus Ketua Umum Demokrat. Secara matematis, jalan AHY di perpolitikan Indonesia telah terhampar, asal partai sebagai mesin politik bisa mengolahnya dengan baik, dan menghindari salah langkah.
Semua petinggi Demokrat mengiyakan: AHY adalah andalan baru Demokrat mereguk suara, meski ia baru satu bulan memegang kartu anggota partai.
Langkah AHY menuju Pemilu 2019 tak mengejutkan. Mungkin semua orang sudah menduga kemudian sejak namanya dimunculkan Demokrat dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 melawan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi yang terhitung jauh lebih berpengalaman darinya.
Kalah di Jakarta dengan hanya memperoleh 17 persen suara, tak menciutkan nyali AHY dan Demokrat. Jakarta memang dirancang sebagai perkenalan AHY dengan dunia politik praktis. Target berikutnya tentu saja bertarung di spektrum nasional.
Untuk menopang kiprah barunya di panggung nasional, AHY mendirikan lembaga riset The Yudhoyono Institute yang mengusung misi “liberty, prosperity, security” alias “kebebasan, kemakmuran, keamanan”.
“Tidak ada pilihan bagi kita selain menyiapkan generasi unggul, karena 28 tahun menuju 2045 bukan waktu yang lama,” kata Agus dalam pidato peresmian The Yudhoyono Institute, Agustus 2017.
Kenapa 2045? Karena pada tahun itu, Indonesia tepat berusia satu abad, 100 tahun, dan visi Indonesia Emas 2045 kerap digaungkan banyak pihak, termasuk pemerintah. Pada 2045, Indonesia diharapkan meraih kejayaan, dan dapat beralih dari negara berkembang ke negara maju di dunia.
“The Yudhoyono Institute hadir untuk menyiapkan kader-kader pemimpin bangsa yang unggul di masa depan, dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045,” demikian tercantum dalam laman resmi lembaga itu.
Pada akhirnya, kombinasi jabatan direktur eksekutif lembaga think tank, status anak mantan presiden, eks prajurit unggulan, dan usia muda, mendatangkan keuntungan elektoral bagi AHY. Ia selalu diperhitungkan dalam percaturan politik, dan namanya terus masuk ke bursa kandidat calon presiden dan wakil presiden dalam berbagai survei.
AHY diperlukan Demokrat. Figur AHY memiliki peluang untuk bisa memulihkan Demokrat.
Total, AHY telah melawat ke 27 provinsi. Sejak Maret 2017, hasil survei Indo Barometer menempatkan AHY sebagai tokoh populer dengan angka pengenalan masyarakat terhadapnya sebesar 71,7 persen, di bawah Jokowi, JK, Megawati, dan Prabowo.
Sementara elektabilitas AHY yang rendah, seiring waktu justru meningkat. Survei Polmark Oktober 2017 misalnya menyebutkan AHY sudah berada di peringkat ketiga tokoh potensial calon presiden 2019 di bawah Jokowi dan Prabowo.
Bisa dibilang, sejauh ini Demokrat sudah berada pada jalur yang benar. AHY juga disebut-sebut sebagai kandidat cawapres terkuat. Survei Roda Tiga Konsultan menyebutkan, AHY berpeluang menaikkan suara dua kandidat capres terkuat, yaitu Jokowi dan Prabowo.
Sementara Indo Barometer pada Desember 2017 menempatkan AHY sebagai cawapres nomor dua setelah Anies Baswedan yang mengalahkannya di Pilkada DKI Jakarta.
“Itu mengganjar kerja kerasnya selama ini berkeliling Nusantara, dan belum akan berhenti,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Rachland Nashidik, Minggu (25/3).
AHY menjadi aset penting Demokrat. Ia berpotensi mendongkrak perolehan suara partai di 2019, setelah jatuh pada Pemilu 2014. Saat itu suara Demokrat terjun bebas, terpangkas separuhnya, dari 20,85 persen di Pemilu 2009 menjadi hanya 10 persen.
Deretan kasus korupsi yang menjerat para politikus muda Demokrat menjadi faktor utama di balik terseoknya partai yang mengusung jargon “Katakan Tidak pada Korupsi” itu pada 2014.
Agus Yudhoyono diproyeksikan dalam jangka panjang menjadi Ketua Umum Demokrat sekaligus ikon. Ia lokomotif suara bagi Partai Demokrat.
Elektabilitas Demokrat pada berbagai survei tak berbanding lurus dengan meroketnya AHY. Dalam survei SMRC 2 Januari 2018, Demokrat berada di peringkat keempat dengan 5,4 persen suara. Tak beda jauh, ia meraup 5,3 persen berdasarkan survei Polmark, 6,2 persen di survei LSI, dan 6,4 persen di survei CSIS.
Menjaga AHY
Demokrat harus hati-hati meski AHY melambung tinggi. Sementara politisi senior Demokrat cenderung tak tergesa-gesa ‘mencarikan posisi cocok’ bagi AHY di kancah nasional, mereka yang lebih muda tampak ingin AHY cepat mendeklarasikan diri sebagai calon presiden.
“Nama AHY banyak yang mengusulkan, terutama kader Partai Demokrat di daerah-daerah. Bahkan bukan cuma kawula muda dari Demokrat. Sosok AHY tentu lebih tepat jadi next leader di 2019 atau tahun sesudahnya,” kata Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Agus Hermanto, usai Rapat Kerja Nasional Demokrat, Juli 2017.
AHY kini tak sekadar branding personal seorang Agus Yudhoyono, tapi juga menjadi branding Demokrat. Sampai-sampai soal itu dibahas dalam rapat kerja partai.
“Kader (Demokrat) menggunakan nama AHY di spanduk mereka, foto, dan segala macam. Silakan, enggak ada larangan,” ujar Rachland.
Menurutnya, wajar saja gelombang antusiasme kader Demokrat begitu besar terhadap AHY, sebab ia tokoh muda potensial yang dimiliki partai, yang juga mencurahkan perhatian besar kepada partai.
AHY dapat tempat di hati kader Demokrat, karena ia setiap jalan ke daerah, selalu mengunjungi DPC dan DPD.
Di sisi lain, tak semudah itu mengusung AHY sebagai calon presiden. Realitanya, suara Demokrat di parlemen hanya 10 persen, sedangkan syarat partai politik atau gabungan parpol mengajukan capres dan cawapres harus memiliki 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional.
Koalisi menjadi keharusan. Majelis Tinggi Demokrat terus menghitung kemungkinan. Mau tak mau, tiga skenario politik pun muncul: ikut koalisi memenangkan Jokowi, ikut kubu oposisi mendukung Prabowo Subianto, atau membentuk Poros Tengah untuk memecah suara dan memunculkan calon alternatif--AHY.
Faktor kehati-hatian--yang juga menjadi prinsip SBY--terus dipegang Demokrat. “Jangan sampai Demokrat kalah, terus Mas Agus tidak jadi apa-apa. Buat apa kalau begitu?” ujar Amir Syamsuddin, Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat, kepada kumparan di Jakarta, Jumat (23/3).
Komunikasi politik gencar dibangun. Setelah sempat bertemu Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto pada November 2017, AHY juga bertemu Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto pada 8 Februari 2018. Bertemu Jokowi pun tak cuma sekali.
Kini AHY--yang telah diberi wewenang turut memutuskan kebijakan strategis partai--tengah merencanakan pertemuan dengan pengurus PDIP, yakni Prananda Prabowo yang merupakan putra sulung Megawati.
Sebelumnya, sang ayah, SBY, bahkan memuji-muji Ketua Umum PDIP Megawati Soeharnoputri yang kerap menjadi rival politiknya. “Banyak perempuan sukses di Indonesia ini. Di lembaga eksekutif, kita pernah punya presiden perempuan, Ibu Megawati,” kata SBY saat menjadi pembicara dalam seminar di parlemen dalam rangka Hari Perempuan Internasional 2018, Senin (19/3).
Mengikuti langkah SBY, AHY kini mulai bergerak layaknya politisi--melakukan lobi dan menghadiri pertemuan di sana sini. Sebab bagaimana pun, 2019 akan menjadi pertaruhan politik AHY. Masa depan AHY, menurut pengamat politik Indo Barometer M. Qodari, ditentukan oleh posisi yang ia dapat pada Pemilu 2019.
Kebutuhan jangka pendeknya adalah memberikan panggung kepada Agus, supaya diterima oleh elite politik dan masyarakat. Kemudian dugaan saya dalam konteks 2019, supaya Agus bisa masuk ke pemerintahan.
“Lobi terus dilakukan, lebih untuk mencari kesamaan visi misi (antara Demokrat dengan partai lain),” ucap Wasekjen Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin.
Sejauh ini, AHY memang menang dari segi usia, mungkin masih akan bugar bahkan untuk empat kali pemilu lagi, tak seperti tokoh politik papan atas yang segera memasuki usia senja. Tapi, lanskap politik masih amat cair, dan politik tak pernah pasti.
Demokrat mesti cermat bermain catur menjelang 2019.
------------------------
Ikuti isu mendalam lain dengan mengikuti topik Ekspose di kumparan.
