Takhta untuk Putra Mahkota Cikeas
Life goes on.
Meninggalkan militer, lalu kalah di Pilkada DKI Jakarta 2017, bagi Agus Harimurti Yudhoyono jelas bukan akhir. Itu justru gerbang menuju pertarungan politik sesungguhnya: Pemilu Presiden 2019.
Satu tahun lalu, ketika Pilgub Jakarta bermula, publik dibuat terkejut dengan keikutsertaan AHY yang mendadak. Ia, yang berpangkat mayor aktif, tiba-tiba meletakkan karier militer yang telah digelutinya belasan tahun, dan terbang pulang ke Indonesia demi masuk ke jagat politik praktis.
Saat itu 21 September 2016. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam waktu Darwin, Australia, ketika ponsel AHY berdering. Ia baru saja kembali ke barak setelah memimpin pasukan Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning latihan bersama dengan Angkatan Darat Australia.
Panggilan telepon itu datang dari sang ayah, Susilo Bambang Yudhoyono--Ketua Umum Demokrat dan presiden Indonesia dua periode. Ia memberitahukan, Poros Cikeas mengajukan namanya untuk bertarung sebagai calon gubernur di Pilkada DKI Jakarta.
“Pak Zulkifli Hasan, Pak Muhaimin Iskandar, Pak Romahurmuziy, dan petinggi lainnya mengajukan nama Agus untuk menjadi kandidat, persoalan selesai. Semua akan setuju,” ujar AHY menirukan ucapan SBY kepadanya, seperti ia tulis dalam buku Telah Kupilih Jalan Hidupku yang Baru untuk Jakarta.
Zulkifki Hasan yang disebut AHY itu Ketua Umum PAN, Muhaimin Ketua Umum PKB, dan Romahurmuziy Ketua Umum PPP. Mereka bergabung dalam Poros Cikeas, melawan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.
Mendengar kabar itu, AHY esoknya bergegas menempuh lima jam perjalanan dari Darwin ke Jakarta, lantas cepat menuju Cikeas untuk bertemu para pemimpin partai politik Poros Cikeas. Tujuan AHY satu: mencari jawaban mengapa dia yang dipilih untuk dicalonkan.
Dialog berlangsung alot. Poros Cikeas menegaskan: AHY dipilih karena dianggap memenuhi representasi sosok muda, cerdas, tegas, dan punya kapasitas.
Dunia mungkin jungkir balik bagi AHY saat itu. Pada akhirnya, ia membulatkan tekad untuk menanggalkan seragam militer yang ia cintai, dan terjun ke dunia politik. Langkahnya itu lalu membuat banyak orang tercengang, menilai keluarga Cikeas tengah melakukan perjudian besar dengan “memanfaatkan” sang putra sulung.
Usai mendaftar sebagai calon gubernur DKI Jakarta, AHY bahkan berpidato dengan suara tersendat. Ia menangis sembari mengucapkan perpisahan dengan TNI, menyebut betapa penting peran institusi militer dalam membentuk dirinya selama ini.
Sampai saat itu, dunia AHY memang ketentaraan. Lulus dari SMA Taruna Nusantara dengan mengalungi medali Garuda Trisakti Tarunatama Emas sebagai lulusan terbaik, ia kembali menjadi lulusan terbaik di Akademi Militer tahun 2000 dan menyabet penghargaan Adhi Makayasa serta pedang Trisakti Wiratama.
Tak cuma itu, lulus dari Akmil ia meneruskan ‘hobi’ beroleh prestasi berderet. Menjadi lulusan terbaik Kursus Dasar Petugas Infanteri (2001), Kursus Intelejen Tempur (2001), Kursus Petugas Operasi Batalyon (2004), dan Kursus Manuver Karier Kapten di Fort Benning Amerika Serikat (2011).
Itu belum semua. Sang anak emas kembali mendapat penghargaan Nanyang Outstanding Alumni Award tahun 2013 dari S. Rajaratnam School of International Studies Technological University. Ia dianggap sebagai alumni yang memiliki karier cemerlang.
AHY macam tak pernah berhenti belajar. Ia juga mengantongi ijazah Master Administrasi Publik dari Universitas Harvard pada 2010, dan lulus dengan predikat sempurna (IPK 4) dari Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat AS di Kansas.
Hingga akhirnya semua itu seakan mesti ‘dicukupkan’ dengan hidup barunya di dunia politik.
Sejak maju di Pilkada DKI Jakarta 2017, Agus Yudhoyono memiliki “nama panggung” yang kemudian menjadi brand baru baginya dan Demokrat: AHY. Kaus, kemeja, dan seragam partai dengan label ‘AHY’ tersemat di dada diproduksi massal.
Debut politik AHY tak mulus. Itu biasa. Maju bersama birokrat karier Jakarta, Sylviana Murni, ia menelan kekalahan. Berada di nomor buncit, hanya memperoleh 17,07 suara, sehingga tak lolos putaran kedua.
Istirahat sebentar, AHY kemudian muncul kembali Agustus 2017 dengan The Yudhoyono Institute. Ia membentuk lembaga think tank yang, mengutip laman resminya, “fokus pada isu-isu strategis, baik lingkup nasional, regional, maupun global.”
Pertengahan Februari 2018, AHY aktif lagi di politik. Harus, sebab Pilkada Serentak 2018 di depan mata dan Pemilu Presiden 2019 sudah di muka. AHY mendapat mandat baru dari Demokrat sebagai Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma). Tugasnya: memenangkan calon Demokrat baik di Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.
Sebagai komandan lapangan, AHY pun bergerilya dari barat ke timur, juga menyambangi sejumlah tokoh nasional. Dalam enam bulan terakhir misalnya, AHY sudah dua kali bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan.
Awal Maret, ia juga bertemu Ketua Umum Golkar sekaligus Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, dan sowan ke kantor Menkopolhukam untuk bertemu Wiranto.
Kuda Hitam
Predikat kuda hitam kembali disematkan kepada AHY menjelang Pilpres 2019. Predikat serupa sempat ia sandang saat mengikuti Pilkada DKI Jakarta 2017.
Hasil survei sejumlah lembaga menunjukkan nama AHY masuk ke bursa capres dan cawapres 2019. Ia dinilai dapat menjadi alternatif di antara Jokowi dan Prabowo.
AHY, menurut politikus Demokrat Andi Mallarangeng, memang makin matang dalam berpolitik setelah kekalahannya di Pilkada DKI Jakarta.
“AHY anak yang cerdas, punya kepemimpinan bagus. Pandangan-pandangannya pas, dan rendah hati. Karena itu Partai Demokrat bersyukur ada AHY,” kata Andi kepada kumparan, Rabu (21/2).
Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan menilai masuknya AHY dalam radar Pilpres 2019 tak lepas dari safari politik yang ia lakukan beberapa bulan terakhir, dan tentu saja Pilkada DKI Jakarta yang memperkenalkannya lebih dekat kepada masyarakat Indonesia.
“Karena sejak Pilkada DKI Jakarta itu namanya menjadi pembicaraan nasional. Dia masuk menjadi salah satu politisi nasional,” kata Djayadi, Kamis (23/3).
Pilkada DKI Jakarta memang dipakai oleh SBY dan Partai Demokrat untuk memperkenalkan dengan cepat AHY kepada publik.
Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, menilai kenaikan elektabilitas AHY akhir-akhir ini terjadi karena loyalis SBY mulai mengalihkan dukungan untuk putra sulungnya itu. Di sisi lain, lanjutnya, jumlah pemilih Jokowi stagnan dan dukungan ke Prabowo cenderung turun.
“Ada rasa jemu publik terhadap dua tokoh yang bertarung di Pilpres 2014 (Jokowi dan Prabowo). Mereka menginginkan tokoh baru. Hanya saja dalam beberapa bulan ke depan, AHY tidak hanya harus populer, tapi juga mesti mampu mematahkan keraguan orang atas kompetensinya dalam kepemimpinan nasional.”
AHY, menurut Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan, mendapat dukungan penuh dari internal Partai Demokrat, baik di kalangan akar rumput maupun elite.
Sementara Wasekjen Demokrat Rachland Nashidik mengatakan, “AHY dapat tempat di hati kader Demokrat, karena setiap ia jalan ke daerah, selalu mengunjungi DPC dan DPD.”
“Di antara kader Demokrat, AHY paling menarik bagi kalangan milenial. Sementara generasi milenial sekarang luar biasa (banyak). Seratus juta penduduk Indonesia berusia 30 tahun ke bawah. Jika bisa mengambil hati kaum milenial bukan hanya untuk 2019, tapi untuk Pemilu 2024, itu investasi luar biasa,” ucap politikus Demokrat Andi Mallarangeng.
Di masa depan, saat Jokowi dan Prabowo tak lagi bertarung, Demokrat yakin nama AHY bakal lebih melejit menjadi tokoh sentral.
“Bayangkan di 2024. Enggak ada Jokowi, Prabowo, JK, Wiranto. Semua tokoh senior sudah pensiun. Yang ada paling Puan Maharani, Anies Baswedan, AHY. Siapa tahu Demokrat punya presiden lagi.”
Menurut Andi, lebih mudah mengangkat kader yang memiliki elektabilitas sudah cukup tinggi sebagai calon presiden, sebab hanya butuh energi relatif sedikit untuk menjadikannya kandidat potensial.
“Kalau orang itu sudah populer, mudah. Sedikit siraman, kampanye, baliho, sudah ngangkat,” ujarnya.
AHY, kata pengamat politik M. Qodari, memang merupakan proyeksi jangka panjang Partai Demokrat. Ia diharapkan menjadi lokomotif suara bagi partai.
“Dugaan saya, dalam konteks 2019, AHY akan masuk ke pemerintahan. Pengalaman juga diperlukan untuk membuat dia lebih matang,” kata Qodari. Sebab, bagaimana AHY di 2024 akan bergantung pada keberhasilannya di 2009 hingga menjelang 2024.
Agus sudah punya 2 P--penampilan dan partai. Tapi sebagai seorang pemimpin, masih kurang 2 P yang lain--pengalaman dan panggung.
Jalan menuju takhta masih panjang.
------------------------
Ikuti isu mendalam lain dengan mengikuti topik Ekspose di kumparan.
