Sebelum Maung, Volvo Pernah Jadi Mobil Dinas Pejabat RI

Sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih kini menggunakan Maung Garuda buatan PT Pindad sebagai mobil dinas. Jauh sebelum Maung, kendaraan dinas menteri di Indonesia identik dengan Volvo.
Pemerintah menetapkan Volvo 264 GL sebagai mobil menteri pada 1978. Pada 1982 mobil itu diganti model 264 GLE, disusul 740 pada 1987. Volvo 960 yang dibeli untuk KTT Non-Blok 1992 lalu diserahkan ke kementerian dan model S90 Exclusive datang di akhir era Orde Baru.
Pemakaian Volvo berlanjut sampai pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Pemilik bengkel spesialis Volvo Vota Motor, Oddo Harryson, mengatakan bahwa unit-unit yang dulu mengantar para menteri kini punya status baru.
"Dulu itu mobil menteri Volvo 940, 960, S90 eksekutif. Kalau di bawah tahun 80-an ya 264 ini seperti yang saya pakai, mobil kementerian era Soeharto. Jatohnya sudah mobil kolektor kalau mulus, sekalinya rusak dikit bener-bener anjlok banget harganya," kata Oddo saat ditemui di kawasan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Akar kedekatan Volvo dengan pemerintah ada di sisi bisnis. Volvo masuk Indonesia lewat PT Central Sole Agency milik Salim Group, perusahaan Liem Sioe Liong yang dikenal dekat dengan Presiden Soeharto.
Aturan yang mewajibkan mobil impor dirakit di dalam negeri mendorong Salim Group mendirikan PT ISMAC bersama PT Pembangunan Jaya dan AB Volvo. Pabrik ISMAC di Ancol diresmikan Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX pada 22 Oktober 1975.
"Volvo itu by request sih, apalagi untuk pemerintahan, buat polisi pasti beda lagi. Contohnya, mobil ayah saya (265 GLE) dapat dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) tahun 80-an. Secara produksi dan treatment pembuatannya juga beda," lanjutnya.
Ia pun membandingkan mobil sang ayah dengan miliknya. Mobil Oddo lansiran 1987 sudah beberapa kali cat ulang bagian bodi, sementara mobil sang ayah yang produksi tahun 1982 sampai saat ini belum berkarat sama sekali.
Dari sisi citra, Volvo dinilai mewah, eksklusif, dan menambah wibawa pejabat tinggi negara. Reputasi keselamatan Volvo ikut menjadi pertimbangan untuk digunakan sebagai mobil dinas.
"Waktu tabrakan, bodinya nekuk, itu yang meredam benturan. Di bumper Volvo tahun tua sudah ada shock breaker, di pintu ada palang besi untuk menghindari tabrakan samping. Material di pilar A, B, dan C dibuat jauh lebih kuat dari bagian lain untuk mengantisipasi mobil kebalik dan pengemudi kegencet. Dari tahun 1970-an sudah begitu setahu saya" jelas Oddo.
Era Volvo berakhir saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono memilih Toyota Camry untuk para menteri. Pada Oktober 2009, mobil dinas menteri naik kelas menjadi Toyota Crown Royal Saloon yang kemudian bertahan di era Joko Widodo.
"Polisi yang pake Mazda buat Patroli Jalan Raya (PJR) dulu di era saya pakenya Volvo 340. Itu basisnya Renault dan dia beda sendiri kecil, Volvo kan dikenal besar dan kotak gitu ya. Jadi dulu ada menteri namanya Rudini, dia pakai 740 yang ngawal pakai 340," ujarnya.
Vota Motor sendiri adalah salah satu bengkel spesialis Volvo legendaris di Indonesia sejak tahun 1983. Oddo kini melanjutkan bisnis sang ayah yang merupakan eks pegawai Volvo Ancol, Jakarta Utara, dari sekitar tahun 1970-an.
