Kita Perlu Bicara tentang Marco Silva

Ketika manajemen Hull City mengumumkan nama Marco Silva sebagai pengganti Mike Phelan, tak banyak penggemar Liga Inggris yang familiar dengan namanya. Pertanyaan mereka sama, "Siapa Marco Silva?"
Well, pertanyaan itu kini terjawab sudah. Marco Silva, ternyata merupakan seorang manajer potensial yang sepertinya bakal mampu mengubah peruntungan Hull City musim ini.
Saat The Tigers menunjuk manajer asal Portugal itu, mereka sedang menjadi juru kunci liga. Untuk mencapai salvezza saja, mereka tak ubahnya Si Pungguk yang merindukan bulan.
Manajemen pun ketika itu enggan mengambil risiko. Meski mafhum akan rekam jejak Silva di Liga Portugal dan Liga Yunani, Premier League adalah sesuatu yang benar-benar lain. Tanyakan saja pada Josep Guardiola kalau tak percaya.
Silva yang meninggalkan Olympiakos karena alasan pribadi pada musim panas 2016 lalu mengiyakan tawaran Hull. Dia pun memboyong tiga kompatriotnya untuk bersama-sama menyelamatkan tim milik Assem Allam tersebut.
Penunjukan Silva ketika itu memang berbau perjudian. Tak hanya itu, beberapa pengamat seperti Paul Merson dan Phil Thompson menyebut bahwa penunjukan itu adalah sebuah hinaan bagi "para manajer Inggris yang sudah bekerja keras". Dengan reputasi yang tak seberapa menterang, Silva pun jadi sasaran empuk.
Namun, 11 pertandingan liga kemudian, rasa-rasanya Hull City mendapatkan jackpot dalam diri pria 39 tahun itu. Dalam kurun waktu itu, lima kemenangan berhasil diraih Hull City. Ditambah dua hasil imbang dan empat kekalahan, mereka pun keluar dari zona degradasi.
Meski belum betul-betul aman, mereka kini berada di peringkat ke-17 klasemen, unggul dua poin dari Swansea City, lima poin dari Middlesbrough, dan delapan angka dari juru kunci Sunderland.
Catatan itu tentu bisa dikatakan istimewa mengingat saat masih ditangani Phelan, Hull City hanya mampu menang tiga kali dalam 20 pertandingan. Raihan poin mereka pun hanya 13 saat itu. Bersama Silva, 17 poin sukses mereka amankan hanya dalam 11 laga itu tadi. Artinya, dengan sembilan pertandingan lebih sedikit, Silva sudah mampu menyumbangkan 57% total poin Hull musim ini.
Salah satu kunci utama keberhasilan Silva ini adalah kemampuannya mengoptimalkan laga kandang. Total, di semua kompetisi domestik Hull City hingga kini sudah memainkan tujuh laga kandang (5 di Premier League, 1 di Piala FA, dan 1 di Piala Liga). Dari semua pertandingan itu, mereka menang enam kali. Satu-satunya kegagalan mereka adalah saat ditahan imbang Burnley 1-1.
Jika menilik rekam jejak Marco Silva sebelumnya, catatan itu sebenarnya tidak mengejutkan. Pasalnya, setelah menang 4-2 atas Middlesbrough, Kamis (6/4) dini hari WIB, Silva sudah tak terkalahkan dalam 40 laga kandang terakhir. Rekor brilian ini sudah dimulai sejak pria kelahiran Lisabon ini masih menangani Estoril tahun 2014 silam.

Laga kandang memang seharusnya menjadi momen yang paling pas untuk meraup poin. Burnley yang diasuh Sean Dyche paham betul hal itu. The Clarets yang kini nangkring di peringkat ke-14 punya koleksi 35 poin, dan 33 di antaranya mereka raup di Turf Moor.
Atau Manchester United. Musim ini, "Setan Merah" menjadi antitesis Burnley. Kegagalan United mengoptimalkan laga kandang membuat mereka tak kunjung mampu lepas dari peringkat keenam. Hasil imbang memang jadi momok United musim ini, khususnya ketika bermain di kandang. Dari 12 hasil imbang, sembilan di antaranya terjadi di Old Trafford.
Salah satu pelopor sains sepak bola, Valeriy Lobanovskyi, dengan tim Dynamo Kiev-nya yang merajai Uni Soviet pada masa lampau juga punya perhitungan khusus soal laga kandang dan tandang ini. Lobanovskyi hampir tidak pernah mengejar kemenangan saat bermain tandang. Menurutnya, hal itu bakal menghabiskan energi yang mubazir.
Alhasil, Lobanovskyi pun kerap menyogok tim lawan saat bermain tandang. Bukan supaya mereka mau mengalah, melainkan hanya agar mereka tidak mengejar kemenangan juga.
Silva memang tidak melakukan apa yang dilakukan Lobanovskyi. Selain karena mengatur pertandingan adalah perbuatan ilegal, Hull City juga tentunya tidak sekaya Dynamo Kiev pada waktu itu.
Di Hull City, Silva mampu mengoptimalkan kemampuan para pemain, khususnya mereka yang datang pada bursa transfer musim dingin lalu. Pemain-pemain buangan seperti Andrea Ranocchia, Lazar Markovic, Oumar Niasse, dan Alfred N'Diaye dipadukan dengan darah-darah segar macam Kamil Grosicki.
Dengan tulang punggung tim yang sebenarnya tak buruk, di mana ada Harry Maguire, Andrew Robertson, Tom Huddlestone, dan Ryan Mason, Hull City tampil laiknya tim yang benar-benar berbeda. Mereka memang kalah empat kali di liga, tetapi semua kekalahan itu diderita dari tim-tim papan atas. Sementara, pertandingan yang semestinya bisa mereka menangi, berhasil mereka menangi.
Kini, Hull City punya tujuh laga sisa dan tiga di antaranya bakal dimainkan di kandang. Jika tren apik Silva ini berlanjut, maka tujuh sampai sembilan poin tambahan rasanya bakal berhasil mereka kantongi, mengingat calon lawan mereka adalah Watford, Sunderland, dan Tottenham Hotspur.
Sementara, empat laga lainnya bakal dilangsungkan di markas lawan. Dari empat laga itu pun, hanya satu tim yang benar-benar punya kans besar mengalahkan Eldin Jakupovic dan kawan-kawan, yakni Manchester City. Sisanya? Stoke City, Southampton, dan Crystal Palace. Walau tak bisa diremehkan, mereka tentunya tak perlu pula ditakuti.
Enam bulan. Itulah waktu yang diberikan manajemen Hull City untuk Marco Silva. Jika Silva nanti benar-benar berhasil, kerugian besar bakal didapat Hull jika kontrak sang manajer tak segera mereka perpanjang. Lagipula, kalau Anda jadi Marco Silva, apa Anda mau terus-terusan berkubang bersama Hull ketika rumput di tim-tim yang lebih mapan jelas-jelas lebih hijau?
