Kumparan Logo

38 Tarian Daerah Suguhkan Cerita Pesisir hingga Ritus Pegunungan di FNK 2026

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebanyak 38 tarian daerah suguhkan cerita kehidupan pesisir hingga ritus pegunungan dalam Festival Nasional Kesenian (FNK) 2026. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sebanyak 38 tarian daerah suguhkan cerita kehidupan pesisir hingga ritus pegunungan dalam Festival Nasional Kesenian (FNK) 2026. Foto: Dok. Istimewa

Panggung utama Festival Negeri Kami (FNK) 2026 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, menjadi saksi perjumpaan gerak tarian dari seluruh pelosok Nusantara. Untuk pertama kalinya, penari dari 38 provinsi di Indonesia tampil bersama dalam satu wadah festival, membawakan gerak tari khas dan busana daerah yang unik dari Aceh hingga Papua.

Pertunjukan seni gerak ini tidak sekadar menghadirkan estetika visual, melainkan juga memaparkan filosofi serta narasi mendalam yang mengakar pada tradisi masyarakat di setiap pulau.

Setiap penampilan tari daerah yang dibawakan secara berurutan membawa narasi dan cerita latar belakang yang sangat erat dengan kondisi geografis maupun kebudayaan wilayah asalnya. Penonton disajikan ekspresi seni yang lahir dari dinamika kehidupan masyarakat pesisir pantai. Gerak-gerik tari tersebut menggambarkan interaksi manusia dengan laut serta kebiasaan hidup sehari-hari para nelayan.

Sebanyak 38 tarian daerah suguhkan cerita kehidupan pesisir hingga ritus pegunungan dalam Festival Nasional Kesenian (FNK) 2026. Foto: Dok. Istimewa

Di sisi lain, panggung pementasan juga diwarnai oleh tarian yang sarat dengan simbol-simbol spiritual dan berakar kuat pada ritus adat serta kehidupan masyarakat pegunungan. Ritme gerak dan kostum tradisional yang dikenakan para penari mencerminkan bagaimana norma, kepercayaan, dan keharmonisan alam dijaga oleh komunitas lokal secara turun-temurun.

Sebanyak 38 tarian daerah suguhkan cerita kehidupan pesisir hingga ritus pegunungan dalam Festival Nasional Kesenian (FNK) 2026. Foto: Dok. Istimewa

Keragaman kisah latar belakang dari pesisir hingga pulau-pulau terluar ini dibawakan dengan balutan busana daerah yang kaya akan motif kain, warna, serta aksesori hiasan kepala khas masing-masing provinsi. Penampilan beruntun tersebut memberikan pengalaman edukatif bagi para pengunjung untuk menyelami dan menjelajahi kekayaan narasi budaya Nusantara di satu lokasi tanpa harus berpindah tempat.

Penyelenggaraan FNK 2026 ini secara langsung menghidupkan kembali fungsi TMII sebagai sarana miniatur Indonesia yang memfasilitasi perjumpaan kebudayaan secara utuh.

Rangkaian Festival Tari dan Konsolidasi Lintas Perbatasan

Sebanyak 38 tarian daerah suguhkan cerita kehidupan pesisir hingga ritus pegunungan dalam Festival Nasional Kesenian (FNK) 2026. Foto: Dok. Istimewa

Pertunjukan tari daerah yang sarat makna tersebut diawali oleh parade pawai budaya yang mengular di sepanjang jalur TMII. Barisan parade memperlihatkan keragaman busana dari kontingen 38 provinsi yang diiringi oleh alunan marching band, irama musik Tanjidor, serta kehadiran Ondel-ondel sebagai simbol tuan rumah Jakarta.

Acara yang digagas oleh International Creatives Exchange (ICE) berkolaborasi dengan Forum Komunikasi Penghubung Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (FORKAPPSI) ini, dibuka secara simbolis oleh Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, yang mewakili Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.

Sebanyak 38 tarian daerah suguhkan cerita kehidupan pesisir hingga ritus pegunungan dalam Festival Nasional Kesenian (FNK) 2026. Foto: Dok. Istimewa

Penyelenggaraan festival yang mengumpulkan seluruh perwakilan daerah, termasuk enam provinsi baru hasil pemekaran di wilayah Papua, memerlukan proses persiapan yang memakan waktu hingga tujuh bulan.

Upaya mengonsolidasikan seluruh perwakilan daerah ini, didasari pada komitmen untuk menghidupkan seni tari, serta memberi ruang bagi publik untuk menyaksikan langsung ekspresi kebudayaan Indonesia.

Melalui sajian tarian yang merepresentasikan ribuan etnis dan tradisi takbenda di tanah air, festival ini menjadi sarana perjumpaan budaya yang memperkuat pemahaman masyarakat terhadap luasnya ragam tradisi di Indonesia.