Konten dari Pengguna

PKM UNPAM di SMAN 66 Jakarta: Membangun Generasi Cerdas Finansial

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari lidya danayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

TIM PKM Universitas Pamulang di SMAN 66 Jakarta, Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
TIM PKM Universitas Pamulang di SMAN 66 Jakarta, Sumber: Dokumentasi Pribadi

Aulia Firbhi, Lidya Danayanti, Razka Al Faroz, Jakarta - Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital, akses transaksi keuangan bagi remaja kini makin mudah. Kehadiran dompet digital (e-wallet) hingga fitur belanja Paylater memang memberikan kenyamanan, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru. Tanpa pemahaman finansial yang matang, gaya hidup konsumtif serta godaan tren gampang membuat alokasi uang saku habis sebelum waktunya.

Fenomena "tanggal muda sultan, tanggal tua pingsan" bukan lagi sekadar kiasan di media sosial, melainkan realitas harian yang dihadapi sebagian besar pelajar. Melihat kondisi tersebut, tim akademisi dari Universitas Pamulang menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMAN 66 Jakarta pada Rabu, 14 Oktober 2026. Lewat usungan tema "FIN TEENS: Dari Cerdas Kelola Uang, Bijak Transaksi Digital, hingga Siap Berinvestasi Masa Depan", kegiatan ini hadir untuk membekali para siswa dengan fondasi kelola uang yang tangguh.

Pemaparan Materi Oleh Lidya Danayanti selaku Ketua PKM, Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tiga Fondasi Utama Cerdas Finansial

Edukasi yang disampaikan tidak hanya sebatas teori kaku, melainkan pendekatan aplikatif yang dekat dengan keseharian remaja:

1. Ubah Kebiasaan dengan Metode Amplop (Cashflow Envelope)

Prinsip Saving Last (menabung dari sisa belanja) sering kali gagal karena uang saku keburu habis untuk kebutuhan sekunder. Oleh karena itu, para siswa dikenalkan pada prinsip Saving First, yaitu dengan menyisihkan tabungan begitu uang diterima. Lewat simulasi Cashflow Envelope Challenge, uang saku idealnya dibagi ke dalam tiga pos:

  • Pos Operasional (60%): Kebutuhan utama seperti ongkos, makan siang, dan kuota belajar.

  • Pos Keinginan (20%): Batas maksimal jajan, nongkrong, atau hobi.

  • Pos Masa Depan (20%): Tabungan dan alokasi dana darurat (Safety Net).

2. Waspada Jebakan Transaksi Digital & Keamanan Data

Kemudahan transaksi digital sering memicu belanja impulsif akibat dorongan FOMO (Fear of Missing Out). Di sesi ini, edukasi ditekankan pada pentingnya berpikir ulang sebelum bertransaksi, menolak penggunaan paylater tanpa kejelasan sumber pembayaran, serta menjaga kerahasiaan data pribadi seperti kode OTP, PIN, dan password. Siswa juga dibekali cara memverifikasi legalitas platform keuangan digital melalui saluran resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

3. Mengenal Efek Compound Interest & Investasi Pemula

Edukasi keuangan tidak lengkap tanpa perencanaan jangka panjang. Melalui simulasi Compound Interest (bunga majemuk), peserta diajak melihat bagaimana konsistensi menyisihkan nominal kecil secara rutin sejak usia sekolah dapat menghasilkan pertumbuhan aset yang signifikan. Selain itu, dikenalkan instrumen investasi pemula berisiko rendah yang legal, seperti Reksa Dana Pasar Uang dan Emas Digital, dengan selalu menerapkan Prinsip 2L (Legal dan Logis) agar terhindar dari investasi bodong.

Proses Kegiatan PKM Berlangsung (Razka Al Faroz & Aulia Firbhi), Sumber: Dokumentasi Pribadi

Hasil Pre-Test dan Post-Test: Generasi Muda Sebenarnya Sudah Paham

Salah satu temuan menarik dari pelaksanaan kegiatan ini terletak pada evaluasi pemahaman peserta. Pengukuran yang dilakukan melalui pre-test di awal acara dan post-test di akhir sesi menunjukkan skor yang relatif stabil dan tidak jauh berbeda.

Hal ini membuktikan bahwa para siswa SMAN 66 Jakarta pada dasarnya sudah memiliki kesadaran (awareness) serta pengetahuan dasar yang cukup baik mengenai pentingnya tabungan, keamanan digital, maupun konsep investasi. Tantangan terbesar bagi kelompok Gen-Z saat ini bukanlah ketiadaan akses informasi, melainkan bagaimana membentuk kebiasaan (habit) serta konsistensi untuk mempraktikkan pengetahuan finansial tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui edukasi berkelanjutan seperti ini, diharapkan para pelajar tidak sekadar menjadi konsumen pasif di era digital, tetapi mampu bertransformasi menjadi generasi yang bijak, mandiri, dan siap merancang masa depan finansial yang mapan.