Konten dari Pengguna

Hentikan "Bercanda" yang Melukai: Akhiri Normalisasi Bullying!

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lucky Arya Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari zaman dulu hingga sekarang, kasus bullying di indonesia tidak ada habis-habisnya. Dari segi melukai secara verbal maupun fisik, banyak korban yang membuat mereka memiliki trauma yang mendalam. Banyak beberapa kasus Yang membuat mereka hingga mengakhiri nyawanya.

Bagi para korban, bullying bukan sekadar perlakuan buruk, melainkan trauma yang menghancurkan jiwa dan raga, yang sayangnya kerap berujung pada bunuh diri. Tekanan brutal akibat perundungan menciptakan kombinasi mematikan antara depresi, kecemasan akut, dan rasa sakit fisik yang terpendam bagi korban. Ketika harapan untuk berbicara dan didengarkan pupus, dan perasaan gelisah serta kesedihan terus mendera tanpa henti, korban melihat kematian sebagai "solusi" terakhir untuk mengakhiri kemalangan dan penderitaan emosional yang tak mampu mereka tanggung sendiri.

Bagi sebagian pelaku, bullying adalah manifestasi dari kebutuhan yang salah arah untuk mencari kepuasan dan validasi. Tindakan menindas sering kali didorong oleh keinginan kuat untuk merasa berkuasa dan mengendalikan orang lain. Dengan merendahkan dan mendominasi korban, pelaku mendapatkan kepuasan semu berupa peningkatan status sosial (di mata rekan sebaya yang menyaksikannya) dan pengalihan dari rasa tidak aman atau masalah pribadi yang mereka hadapi. Sayangnya, kepuasan yang diperoleh ini hanyalah ilusi. Perasaan superioritas yang didapatkan hanya bersifat sementara dan justru memperkuat pola pikir bahwa kekerasan adalah alat yang efektif untuk mencapai apa yang diinginkan, menghambat mereka mengembangkan empati dan kemampuan menyelesaikan masalah secara konstruktif.

Sumber Foto: Al Generatif

Untuk mengatasi akar masalah bullying, rehabilitasi harus dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dan manusiawi seperti di bawah ini :

  • Bagi korban, rehabilitasi dapat dimulai dengan memberikan ruang aman untuk bercerita dan didengarkan tanpa menghakimi. Konseling psikologis, pendampingan emosional, serta terapi trauma menjadi langkah penting untuk membantu mereka memulihkan rasa percaya diri dan keamanan diri yang sempat hilang. Lingkungan sekitar baik keluarga, guru, maupun teman juga harus dilibatkan untuk menciptakan sistem dukungan yang nyata agar korban tidak merasa sendirian dalam proses pemulihan.

  • Bagi pelaku, rehabilitasi menuntut pendekatan yang fokus pada perubahan perilaku dan pemahaman empati. Pelaku harus diarahkan untuk menyadari dampak destruktif dari tindakan mereka, bukan hanya melalui hukuman, tetapi juga melalui edukasi karakter, bimbingan konseling, serta program restoratif yang memungkinkan mereka bertanggung jawab atas perbuatannya. Melalui proses ini, pelaku diberi kesempatan untuk belajar mengelola emosi, membangun empati, dan memahami bahwa kekuasaan sejati tidak diperoleh dengan merendahkan orang lain, melainkan melalui kemampuan menghargai dan memperlakukan sesama dengan hormat.

Rehabilitasi bukan sekadar memperbaiki perilaku sesaat, tetapi menanamkan perubahan jangka panjang. Dengan pendekatan yang tepat dan kolaboratif, baik korban maupun pelaku dapat menemukan jalan menuju pemulihan, sehingga lingkungan sosial kita menjadi lebih sehat, aman, dan bebas dari normalisasi bullying.

" Kenali kebenaran, maka kamu akan tahu orang-orang yang benar. Benar Tidak diukur oleh orang-orangnya, tetapi manusia diukur oleh kebenaran. " - Ali Bin Abi Thalib.