Kitong Tersisa dari yang Tersisa: Cara Mecky Tebai Membumikan Literasi Papua

Alumni Teknik UGM. Memiliki ketertarikan pada isu lingkungan, tata ruang, literasi, dan pendidikan.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Meidelyne Ayomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melalui layar digital via Google Meet selama satu jam penuh, saya berkesempatan berdiskusi bersama kaka Mecky Tebai tentang bagaimana literasi seharusnya dirawat di bumi cenderawasih. Seorang penggiat literasi yang enggan disebut direktur atau ketua. Ia lebih suka memosisikan diri sebagai seorang pendamping atau barangkali juru mudi yang kapalnya digerakkan oleh mesin bernama kerja tim.
Alkitab Masa Kecil dan Tiang Pergerakan Koraslima
Ketika saya mengulik bagaimana hubungan awalnya dengan literasi, Kaka Mecky bercerita bahwa masa kecilnya akrab dengan Alkitab di sebuah gereja kemah injili. Di sana, literasi tidak dimulai dari teori-teori tebal, melainkan dari gemetar jari-jari anak kecil yang menghafal ayat demi ayat demi sebuah lomba cerdas cermat. Tuhan, dalam ingatan Mecky, barangkali adalah pustakawan pertama yang menyuruhnya membaca. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menengok Jayapura dan Nabire, ia mendapati kenyataan getir tentang anak muda zaman sekarang yang jarang membaca buku. Di sela-sela waktu senggang mereka kadang-kadang menyentuh buku, lalu cepat-cepat meletakkannya kembali karena bingung arah.
Bagi Mecky, gerakan literasi yang ia rintis sejak akhir 2019 ini tidak ada yang luar biasa, semua biasa-biasa saja. "Gerakan literasi itu seumpama mata yang melihat, merasakan, dan membaca untuk mengajak kita berpikir kembali, apakah sesuatu itu sumber peluang atau bisa jadi ancaman" ujarnya. Ada anak muda yang datang dengan semangat menyala, ada yang memilih berhenti sejenak. Seberapa kuat mereka bertahan, itu tergantung dari apa yang mereka baca dan lihat. Berkembang atau tidak, literasi adalah proses mengantre yang harus ditunggu bersama lingkungan.
Mendengar ceritanya, saya penasaran tentang apa tantangan terbesar yang ia hadapi di lapangan, apakah karena keterbatasan fisik buku atau ada faktor lain yang sering terabaikan. Kaka Mecky dengan nada suara yang lugas menjelaskan bahwa persoalan paling mendasar adalah akses bacaan yang betul-betul kurang, bahkan tidak ada. Banyak sekolah hingga perguruan tinggi di Papua belum menyediakan perpustakaan yang layak, sementara pemerintah sering kali lamban dan memilih menutup mata di depan pintu pengetahuan. Rendahnya literasi ini berbanding lurus dengan tingginya tingkat kriminalitas.
Namun, Mecky menolak untuk terus mengutuk kegelapan atau melulu berharap pada birokrasi. "Kalau pemerintah menutup mata dengan perpustakaan, maka kita harus ciptakan ruang sendiri," tegasnya. Kurangnya kita hari ini adalah karena terlalu berharap. Berharap itu penting, tapi jangan terlalu berharap, langsung saja eksekusi. Pengetahuan tidak harus berhenti dari pemerintah atau sekolah, tapi juga dari anak-anak muda dan merambat ke segala sisi.
Dari situlah, langkah kaki Mecky melahirkan pergerakan. Tepat pada 27 November nanti, gerakan yang ia bangun akan genap menginjak usia 6 tahun. Awalnya ia membantu mendirikan komunitas Koraslima di Jayapura sejak akhir 2019 yang masuk ke tahun 2020. Tugasnya adalah mengumpulkan manusia, mendidik, dan menjadi pengarah, sebelum akhirnya melepaskan mereka untuk berjalan mandiri. Kini, Koraslima telah tumbuh kokoh dan bergerak sendiri hingga ke kampung-kampung lewat program Kampung Mengajar, Wisata Literasi, Kampung Binaan, hingga pembinaan relawan mahasiswa untuk mengisi rumah-rumah belajar yang kosong. Mecky menegaskan bahwa jika hari ini gerakan tersebut dikenal luas, itu semua karena adanya tiang pergerakan berupa tim solid yang selalu mendukung.
Rumah Inspirasi Kebadabi, Sebuah Rumah untuk "Mabuk" Buku
Melihat pergerakan ini meluas hingga melahirkan ruang baru di Nabire yang berjalan sejak Mei lalu, obrolan kami pun bergeser pada pilihan nama "Kebadabi" dan konsep "Rumah Inspirasi" yang diusungnya. Mengapa bukan taman bacaan masyarakat seperti yang umum kita temui? Kaka Mecky menjelaskan akar sejarah di balik nama tersebut. Kebadabi bukanlah nama yang asing, itu adalah nama orang tua terdahulu yang diambil dari bahasa Suku Mee, yang memiliki arti mendalam: pembuka jalan. Dengan menyematkan nama tersebut, Mecky berharap ruang belajar ini mampu menjadi peretas jalan bagi masa depan anak-anak di sekitarnya.
Sementara untuk konsepnya sendiri, Mecky merasa kata "taman" atau "perpustakaan" sudah tidak relevan dipakai dan terasa berjarak di telinga anak-anak Papua. "Taman itu banyak dikenal di Jawa," katanya santai. Ia lebih memilih kata "Rumah". Sebab rumah adalah tempat di mana orang-orang tahu ke mana harus melangkah saat hari mulai sore, tempat mereka pulang untuk mencari kopi, buku, bersantai, atau mencari ketenangan. Di bawah atap rumah inilah, Mecky membuat sebuah gebrakan ekstrem dengan memutarbalikkan stigma negatif di lingkungannya. Jalan Baru Mapiduba tempat ia bergerak sering dicap zona merah karena kenakalan remaja dan minuman keras. Di atas aspal jalanan itulah, Mecky memelesetkan kata "MABUK" menjadi sebuah gerakan bernapas panjang yaitu Mari Baca Buku.
Pemilihan waktu peresmian Rumah Inspirasi Kebadabi pada 28 Oktober 2026 ini. Kaka Mecky menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada makna filosofis yang terlalu dicari-cari dari tanggal tersebut. Konteks utamanya semata-mata karena Oktober merupakan Bulan Bahasa dan bertepatan dengan momen Duta Bahasa. Selain itu, pada tanggal 28 Oktober, anak-anak sekolah biasanya pulang lebih cepat karena ada upacara. Bagi orang yang paham situasi, momen itu adalah strategi manis agar anak-anak bisa ikut membantu persiapan, menghadiri peresmian, dan menuntut agar ruang belajar ini segera diaktifkan.
Harapan Tersisa dan Iman yang Menuntun Pulang
Di bawah atap rumah itulah, sebuah harapan dan prinsip besar diletakkan di atas pundak generasi muda Papua yang tumbuh bersama ruang-ruang belajar seperti Rumah Inspirasi Kebadabi. Saat saya tanyakan apa harapan terbesarnya untuk kami anak muda Papua yang kelak memegang estafet tanah ini, Kaka Mecky dengan suara penuh penekanan menyampaikan prinsip hidupnya yang menggetarkan.
"Kitong orang Papua su sedikit, tersisa dari yang tersisa. Jadi kalau bukan kitong, siapa lagi? Apalah arti kitong hidup? Kalau kita hidup cuma untuk hidup yang hidup-hidup saja, kita semua pasti akan mati. Tapi kita tidak mampu menerjemahkan karya Tuhan dari pekerjaan kecil, bagaimana Tuhan mau memberi pekerjaan besar? Jika anak muda hanya berpikir pekerjaan besar, lantas pekerjaan kecil apa yang ko sudah buat?"
Mecky berpesan dengan tegas agar anak muda Papua tidak hanya diam menunggu keajaiban dari luar. "Jangan kam tunggu Jakarta kasih kirim dornak pu merpati datang. Kamu anak Papua itu lahir dan tumbuh di situ, kamu bangun kampung itu sendiri. Orang lain datang bisa tipu kita, dan dalam hal lain cuma membuat kita jadi fotokopi kerja. Jangan kam tunggu orang lain datang bangun kam pu tanah."
Menjelang akhir satu jam lebih diskusi kami, Mecky mengembalikan seluruh langkah kakinya ke dalam iman yang sunyi. Bagi Mecky, buku adalah sebuah jalan spiritual yang esensial untuk memanusiakan manusia. "Buku itu kasih kitong ilmu, hanya buku yang memanusiakan manusia, selebihnya Tuhan yang mengilhami kita. Kita baca saja, mengerti tidak mengerti, kita akan diilhami, dalam artian bantuan Roh Kudus akan mengilhami apa yang kita baca," ucapnya mantap seraya memegang prinsip dari ayat Alkitab 2 Timotius 3:16.
Di akhir perjumpaan virtual kami, sebuah lagu berjudul Mercusuar Kasih Bapa mengalun samar sebagai penutup perenungan. Baginya, gerakan literasi di ujung timur Indonesia ini mungkin tidak tampak megah di mata dunia. Namun, seperti sebaris lirik lagu tersebut, sekalipun cahaya yang mereka nyalakan hari ini hanyalah sekadar kedipan kunang-kunang yang kecil dan ringkih, mereka akan tetap memelihara cahaya itu dengan setia. Biar tidak ada lagi orang dan anak-anak Papua yang tersesat, hilang, dan karam di lautan gelap yang besar.
Mari Berbagi Cahaya: Jika pembaca ingin ikut ambil bagian menjadi pembuka jalan bersama Rumah Inspirasi Kebadabi, Anda dapat menyumbangkan buku-buku bacaan berkualitas untuk membantu anak-anak dan pemuda di Nabire merawat nyala literasi mereka. Bantuan dan donasi buku dapat disalurkan melalui kontak resmi gerakan Rumah Inspirasi Kebadabi.
