Bagaimana Merawat Uang Logam?
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berbicara mengenai uang logam atau koin, pikiran kita secara refleks tentu akan segera memilahnya menjadi dua kategori, yaitu kuno dan modern. Akan tetapi, konsep maknawi dua kategori tersebut, ternyata ada perbedaan antara pandangan kalangan numismatikawan (orang yang mendalami Numismatik, studi ilmiah tentang mata uang) dan masyarakat umum.
Menurut perspektif Numismatik, konsep uang logam kuno (ancient coins) dan modern (modern coins) mengacu pada tahun atau era penerbitan serta metode pembuatannya. Para ahli mengategorikan uang logam berlandaskan periodisasi sejarahnya.
Periodisasi uang logam kuno itu merujuk pada titimangsa pencetakan sejak awal penemuan pada kisaran tahun 600 Sebelum Masehi hingga keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat atau pada kisaran tahun 500 Masehi (awal Abad Pertengahan).
Proses pembuatannya secara manual. Dengan cara menempa atau mengetuk dengan memanfaatkan alat palu (hammered coins). Contoh koin pada sisi depan (stater) dari Kerajaan Lydia, Turki, koin Yunani Kuno, dan koin Kekaisaran Romawi.
Sementara itu, periodisasi uang logam modern, secara internasional pada umumnya mulai terhitung sejak medio abad ke-17 hingga abad ke-18, ketika mesin cetak koin berbasis mekanis mulai menemukan realitas penggunaannya secara massal.
Proses pembuatannya memanfaatkan mesin dengan tingkat presisi tinggi. Mempunyai bentuk lingkaran relatif sempurna. Pinggiran koin rata atau bergerigi rapi (milled coins). Dan, otoritas resmi negara memproduksinya secara massal.
Konteks Nusantara
Akan tetapi, dalam konteks Nusantara (Indonesia), terjadi pergeseran makna tentang konsep uang logam modern itu. Terdapat perlainan definisi antara numismatikawan dan masyarakat umum.
Berdasarkan pandangan numismatikawan, konsep uang logam modern merujuk pada koin yang berada di wilayah sirkulasi dari era Pemerintah Kolonial Hindia, seperti koin Gulden pada abad ke-19 hingga Rupiah saat ini.
Adapun uang logam kuno (ancient/medieval coins) di Indonesia, yaitu koin pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti koin Dinar Emas dan Perak Kerajaan Mataram Kuno, koin Gobog Kerajaan Majapahit.
Satu catatan unik untuk sedikit intermeso, di zaman Kerajaan (kemudian menjadi Kesultanan) Buton, Sulawesi Tenggara, ada uang Kampua. Ia bukan koin melainkan berupa sepotong kain tenun selebar telapak tangan.
Uang Kampua ini termasuk kuno juga, karena Ratu Buton, Bulawambona, berdasarkan kisah dari lembaran kain Ratu Wa Kaa Kaa, pertama kali memperkenalkannya pada kisaran abad ke-14.
Uang Kampua merupakan satu-satunya jenis alat transaksi dari kain tenun tradisional yang pernah berlaku di Nusantara pada masa itu. Untuk menghindari pemalsuan, motifnya senantiasa berganti setiap tahun. Nilai tukar satu lembar uang Kampua setara dengan satu butir telur.
Masyarakat Umum
Nah, sekarang kita kembali berbincang tentang uang logam. Kali ini dalam rengkuh perspektif masyarakat umum. Konsep istilah “uang logam kuno” cenderung mengalami penciutan makna menjadi “uang logam lama”.
Masyarakat umum kerap menyebut koin Rupiah tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an sebagai “uang kuno” lantaran sudah mengalami penarikan dari peredaran. Atau, karena sudah tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang absah. Di mata Studi Numismatik, kategorinya adalah koin modern yang sudah tidak berlaku sebagai sarana transaksi (demonetized modern coins).
Tahun terbit koin merupakan indikator utama dalam penentuan kategorisasi “kuno” dan “modern”. Bila penerbitan uang logam itu ribuan tahun lalu di masa peradaban purba, maka ia masuk kategori kuno.
Akan tetapi, jika penerbitannya dalam beberapa abad terakhir dan memanfaatkan teknologi cetak massal, uang logam tersebut masuk ke dalam kategori modern. Walaupun bagi masyarakat umum dewasa ini, koin itu sudah tampak “kuno”.
Koin modern merupakan uang logam hasil pemerintah atau otoritas moneter dengan nilai tukar yang berdasarkan pada nilai nominal (angka yang tertera). Dan, bukan berlandaskan pada nilai intrinsik atau harga dari bahan logam untuk pembuatan koin.
Adapun ciri-ciri utama uang logam modern, yaitu tidak lagi terbuat dari emas murni atau perak murni seperti koin kuno. Pilihan bahannya berupa logam praktis dan ekonomis, seperti alumunium, nikel, kuningan, atau paduan (alloy).
Penentuan nilai beli koin berpijak pada kebijakan negara yang menerbitkannya. Kerap kali nilai bahannya lebih rendah daripada nilai tukar resminya.
Pencetakannya secara presisi menggunakan mesin dengan bobot, ukuran, dan desain pengaman di bawah kontrol ketat bank sentral.
Pada umumnya, koin modern untuk alat pembayaran dalam pecahan nominal kecil. Sekadar melengkapi transaksi dengan uang kertas.
Di Indonesia pecahan yang masih sering digunakan Rp500 dan Rp1.000. Ada memang uang logam nominal Rp100 dan Rp200, tapi biasanya hanya dijadikan kembalian di toko-toko grosir dan eceran besar.
Perawatan Koin Kuno
Perawatan profesional terhadap uang logam kuno perlu dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Sebab, tindakan pembersihan yang keliru dapat mendestruksi struktur logam, melenyapkan patina (lapisan oksidasi alami pelindung).
Prinsip dan standar perawatan uang logam kuno secara profesional. Pertama, membiarkan apa adanya. Tanpa mencuci atau menggosoknya, justru koin kuno itu mempunyai nilai lebih tinggi berbanding daripada koin yang tampak mengilap karena pembersihan secara paksa.
Koin kuno yang mengalami pembiaran alami jauh lebih berharga karena keberadaan patina, lapisan oksidasi yang terbentuk pada permukaan logam, seperti tembaga, perunggu, dan perak. Dan, itu berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun sebagai akibat reaksi kimia dengan udara dan tanah.
Patina kerap kali mempersembahkan warna yang indah dan unik, seperti hijau tua, kebiruan, dan cokelat keemasan. Patina merupakan “bukti usia” yang mempertegas keindahan visual koin. Selain memoleskan nilai estetika pada koin, Patina memainkan fungsi sebagai perisai alami yang memproteksi logam asli di bawahnya dari kemungkinan kerusakan.
Pembersihan koin dengan memakai bahan kimia keras, cairan asam, atau alat penggosok malahan bakal mengikis lapisan mikroskopis logam. Inilah yang disebut pembersihan secara paksa (harsh cleaning).
Suatu tindakan membersihkan koin kuno dengan bahan kimia agresif, zat abrasif, atau alat mekanis agar koin kembali mengilap seperti baru malah bukan arah tujuan. Akibat yang terusung kemudian, malahan menyebabkan rincian tulisan, gambar, dan relief penting pada koin mengalami pengausan.
Demikian pula, menggosok koin kuno dengan menggunakan kain atau sikat bakal meninggalkan goresan-goresan halus (hairlines). Menurut pandangan para ahli penilai koin (grading), goresan tersebut dapat mendegradrasi kualitas koin dalam rengkuh penyebutan yang drastis.
Koin kuno merupakan artefak sejarah. Nilai orisinalitas berupa keterjagaan bentuk asli koin itu manakala melintasi perjalanan waktu menjadi prinsip utama dari konsep perawatan. Koin yang mengilap secara buatan justru kehilangan karakter sejarahnya dan tampak seperti replika modern.
Koin kuno yang mengalami pembersihan paksa akan mempunyai kilau yang tampak “tidak hidup” atau “tidak alami”. Berlainan daripada kilau asli dari hasil pembuatan secara manual koin kuno yang masih terjaga dan terawat dengan penyimpanan yang baik.
Menurut pandangan para ahli uang logam kuno, membersihkan koin dengan cara yang tidak profesional merupakan kekeliruan fatal. Sebab, koin bisa kehilangan nilai 50% hingga 90%.
Lembaga sertifikasi koin internasional, seperti Professional Coin Grading Service (PCGS) atau Numismatic Guaranty Company (NGC) biasanya menolak memberikan grade angka untuk koin yang mengalami pembersihan secara paksa. Hanya memberi label “Cleaned” (Telah Dibersihkan). Ini sinyal penanda, harga pasarnya telah jatuh.
Di kancah personel penghobi koleksi koin kuno ada semacam anutan diktum “Kotoran alami dan perubahan warna adalah sejarah, sedangkan kilap buatan adalah kerusakan”. Membiarkan koin kuno sebagaimana adanya merupakan cara terbaik guna merawat nilai investasi dan sejarahnya.
Prinsip dan standar perawatan uang logam kuno secara profesional yang kedua, menghindari bahan abrasif dan asam keras. Seyogianya tidak pernah terlintas di pikiran kita untuk menggunakan sikat kawat, ampelas, pasta gigi, pembersih porselen, cuka pekat, air lemon, atau soda kue secara kasar. Sebab, akan mengikis permukaan logam.
Dan, yang ketiga, senantiasa mengenakan sarung tangan berbahan katun bersih ketika memegang koin kuno. Tujuannya, agar minyak, asam, dan keringat dari kulit tangan tidak berpindah ke permukaan logam.
Adapun standar operasional pembersihan aman, hanya jika memang benar-benar perlu, seperti ketika koin kuno terkena kotoran aktif atau tanah yang bisa merusak logam.
Untuk pembersihan ringan, dapat merendam koin kuno dengan memanfaatkan air suling (distilled water) bersuhu hangat kuku. Sebaiknya dalam kisaran 10 hingga 20 menit. Bila koin kuno masih mempunyai kotoran atau kerak yang lumayan tebal dan belum terangkat pada perendaman pertama, maka kita bisa melakukan perendaman kedua selama beberapa jam. Maksimal semalaman.
Air suling bersifat murni dan bebas mineral. Dengan demikian, aman untuk permulaan logam koin selama tidak ada tindakan menggosoknya dengan keras. Setelah perendaman usai, kita dapat membilas sisa kotoran pada koin kuno yang melunak dengan menggunakan air suling baru.
Di dalam air suling untuk perendaman koin kuno tersebut kadang ada campuran sabun lembut (mild soap). Jenis sabun cair berformula lembut dan netral, seperti deterjen non-ionik (non-ionic detergent) dan sabun bayi tanpa parfum. Pemakaian sabun lembut ini dalam takaran sangat sedikit. Untuk melonggarkan tanah atau kerak yang membandel. Tanpa merusak lapisan paten logam.
Proses pengeringannya pun perlu dilakukan dengan benar. Tidak menggosok koin dengan kain atau tisu. Kita cukup meletakkan koin kuno itu di atas handuk atau kain katun lembut bersih. Lalu tepuk-tepuk secara perlahan. Atau, kita bisa membiarkan koin kuno itu kering dengan sendirinya. Cara ini untuk meminimalisasi goresan mikro yang dapat menurunkan nilai koin.
Lingkungan penyimpanan koin kuno ternyata jauh lebih penting ketimbang membersihkannya. Agar tetap terjaga dengan baik, penyimpanan tiap uang logam semestinya berada di dalam kapsul koin kedap udara atau flip (wadah pelindung berbentuk persegi untuk menyimpan, melindungi, dan mendisplai koin kuno) yang memiliki label bebas asam (acid-free) agar tidak bereaksi dengan bahan kimia plastik.
Koleksi koin kuno perlu peletakan di tempat sejuk dan kering dengan suhu stabil pada kisaran 18°-22° Celsius dan kelembapan rendah. Di dalam lemari penyimpanan dapat dimanfaatkan dry box. Atau, bisa dengan menambahkan silika gel yang memiliki fungsi utama sebagai bahan penyerap kelembapan (adsorbent) dari udara di lingkungan tertutup.
Dan, yang tidak kurang penting adalah menghindarkan lemari penyimpanan koin kuno dari paparan sinar matahari secara langsung. Sebab, pajanan (pancaran langsung) ultraviolet dan fluktuasi cuaca ekstrem dapat mempercepat oksidasi (perubahan warna, pemudaran kilau asli, pembentukan lapisan baru di permukaan koin) dan korosi (noda, perubahan warna [menghitam, kusam], atau kerak karat).
Perawatan Koin Modern
Koin modern berbahan logam nonmulia yang tahan lama, seperti alumunium, nikel, kuningan, atau perunggu. Berlainan dari koin kuno yang kerap terbuat dari bahan emas atau perak murni.
Nilai nominal yang tertera pada koin modern tidak bergantung pada harga bahan logamnya. Akan tetapi, merupakan hasil penentuan dari otoritas moneter atau negara. Koin modern kedua sisinya berdesain.
Upaya pembersihan koin modern lebih simpel pelaksanaannya daripada koin kuno. Tujuannya, untuk kebersihan fisik sehingga memberikan kenyamanan dalam bertransaksi. Sekadar menghilangkan kotoran dan bakteri. Tidak memiliki nilai Numismatik yang begitu sensitif terhadap perubahan kilap koin.
Di Indonesia koin modern baik yang masih menjadi alat transaksi maupun sudah tidak, pada galibnya menggunakan bahan alumunium, nikel, atau kuningan. Bisa kusam akibat minyak tangan (kondisi kulit berminyak di telapak tangan) dan debu.
Untuk mengatasinya, koin modern itu bisa mengalami perendaman di dalam air hangat dengan campuran sedikit sabun cuci piring ringan (mild dish soap). Sabun cuci piring yang mempunyai formula lembut, tidak keras di tangan, dan aman untuk kulit sensitif. Perendamannya selama 10-15 menit.
Untuk koin modern, boleh menggunakan sikat gigi berbulu halus guna membersihkan sela-sela angka dan huruf nominal agar tidak teraling kerak kotoran. Setelah bersih, keringkan secara total dengan kain katun lembut melalui cara mengelapnya. Kelembapan pada koin dapat memicu korosi atau oksidasi.
Bila koin modern yang masih berlaku untuk alat transaksi sehari-hari mulai tampak menghitam atau berkarat, maka kita dapat mengembalikan kilaunya dengan bahan dapur. Bisa dengan memanfaatkan pasta soda kue. Caranya, mencampurkan bubuk soda kue dengan sedikit air. Kemudian menggosokkan secara perlahan dengan jari atau kain untuk mengangkat noda oksidasi.
Bisa pula dengan memfaedahkan larutan cuka atau saus tomat. Kandungan asam lemah (senyawa asam yang hanya terurai sebagian kecil menjadi ion-ionnya saat larut dalam air) yang terdapat di dalam larutan cuka atau saus tomat, sungguh efektif merontokkan kerak pada koin nikel dan kuningan. Caranya, dengan merendam selama beberapa menit, menggosoknya dengan sikat lembut, membilasnya hingga bersih agar asam tidak mengikis logam.
Penyimpanan yang tepat untuk koin modern yang masih berfungsi sebagai alat transaksi, yaitu di wadah atau dompet yang kering dan sejuk. Sebab, kelembapan tinggi, terutama di iklim tropis, dapat memperlekas warna logam pudar.
Terhadap koin modern yang masih menjadi alat transaksi, kita perlu pula menjaga performa proper, dengan menjaga keutuhan fisiknya. Dan, perlakuan yang baik terhadap uang logam juga bisa menjadi bagian dari upaya perawatan, selain upaya penbersihan di atas.
Berdasarkan regulasi Bank Indonesia, terdapat larangan keras, terlebih lagi ada faktor kesengajaan untuk melubangi, memotong, memipihkan, atau mengubah bentuk fisik uang logam. Penukaran ke bank, koin yang cacat atau korosi berat, dapat dilakukan asal fisiknya lebih besar dari setengah ukuran aslinya. Dan, ciri keasliannya masih bisa dikenali.
Masih menurut Bank Indonesia, ada batas kelayakan uang Rupiah logam. Yaitu selama tidak berlubang, tidak terbelah, tidak meleleh, dan bentuk aslinya masih dapat teridentifikasi (angka tahun dan nominal masih jelas), keabsahannya sebagai alat pembayaran tidak bermasalah. ***

