Kutukan Itu Pun Terlerai Sejenak
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemenangan dramatis Tim Nasional (Timnas) Senior Indonesia lewat adu penalti tatkala kontra Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026, paling tidak telah sedikit meleraikan sejenak dari kutukan sebagai Negeri Penggemar Sepak Bola yang Jarang Berbahagia.
Senin (5/10/2026) malam lalu. Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi bisu penantian gelar juara Timnas Senior dalam rentang waktu panjang selama 35 tahun semenjak raihan medali emas SEA Games 1991. Dengan kawan tanding yang sama, Thailand. Juga lewat adu penalti. Kala itu skor 4 - 3. Dan, laga berlangsung di Rizal Memorial Stadium, Manila, Filipina.
Belum.lama ini, Timnas Senior Indonesia di bawah asuhan pelatih asal Britania Raya, John Herdman, seolah hendak mengobati luka hati yang sudah sedemikian lama mendamba mahkota juara, kembali menyuarakan gempita asa. Bahwa kutukan sebagai Negeri Penggemar Sepak Bola yang Jarang Berbahagia ada juga celah untuk meleraikannya barang sejenak.
Begitulah Timnas Senior Indonesia mengawali gol pada menit ke-84 melalui Dean James. Lalu Thailand membalas tiga menit kemudian lewat Iklas Sanron. Laga pun bergulir ke waktu ekstra 2 x 15 menit. Thailand berganti memimpin di menit ke-111 berkat Peeradon Chamrasamee. Dan, Elkan Baggott meredakan kecamuk kegelisahan penonton dengan golnya pada menit ke-116. Skor 2 - 2.
Adu penalti pun tidak terelakkan lagi. Empat penendang dari Timnas Senior Indonesia, yaitu Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, Shayne Pattynama sukses menjaringkan si kulit bundar ke gawang Saranon Anuin.
Sementara itu, dua penendang dari Timnas Senior Thailand, yaitu Manuel Bihr dan Waris Chuthong, dapat menunaikan tugasnya. Dua rekannya, Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya gagal mengeksekusi gawang kiper Emil Audero. Skor 4 - 2 untuk kemenangan Indonesia dalam adu penalti.
Negeri Penggemar Sepak Bola
Indonesia menerima sebutan sebagai Negeri Penggemar Sepak Bola. Itu bukan sebutan yang sama sekali tidak beralasan. Sebab Zamrud Khatulistiwa ini, ternyata mempunyai basis penggemar olahraga yang memainkan seni mengolah si kulit bundar ketiga terbesar di dunia.
Dari pijakan sumber data berlandaskan laporan Country Cassette sebagaimana kutipan Good Stats berikut sejumlah media, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dengan jumlah 165,48 juta penggemar sepak bola. Angka ini hanya berada di bawah China dengan sekitar 200 juta orang dan Brasil dengan 171,36 juta orang.
Data laporan tersebut merupakan hasil rilis dan kutipan yang telah memasuki edar publikasi pada kisaran Maret 2025. Angka 165,48 juta yang mencakup 60% dari keseluruhan populasi di Indonesia, konon mencerminkan fakta sosiologis. Betapa sepak bola telah menjadi olahraga paling populer dan menjadi primadona kegemaran.
Jumlah riil penggemar sepak bola di Tanah Air bisa mengalami fluktuasi sejalan dengan pertumbuhan populasi penduduk. Berikut, realitas naik dan turun euforia prestasi yang berada dalam tangan gapaian Timnas di pelbagai event skala internasional. Akan tetapi, posisi Indonesia sebagai salah satu basis massa penggemar sepak bola yang relatif besar (meskipun bukan terbesar) masih tetap relevan hingga tulisan ini terbit.
Sebutan Negeri Penggemar Sepak Bola itu beranjak dari pijakan faktor budaya, sosial, dan sejarah yang begitu mendalam. Sepak bola telah menjadi wahana pemersatu bangsa. Sejak era pergerakan, pendiri dan Ketua Umum Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia (PSSI) 1930 - 1940 Soeratin Sosrosoegondo (17 Desember 1898 - 1 Desember 1959), telah menggunakannya sebagai alat perjuangan untuk menyebarkan nasionalisme.
Hingga dewasa ini, fakta begitu gamblang menunjukkan, betapa sepak bola masih terbukti efektif menjadi ruang ekspresi solidaritas lintas budaya yang memiliki kekuatan pemersatu masyarakat Nusantara dari berbagai latar belakang geografis. Teristimewa manakala Timnas Indonesia tengah berlaga mengharumkan nama bangsa dan negara dalam event internasional.
Catatan Sejarah
Adapun PSSI dengan kepanjangan awal tersebut berdiri pada 19 April 1930. Sebulan lebih tiga hari kemudian, pada 22 Mei 1930 berlangsung Kongres Ke-1 PSSI di Surakarta, Jawa Tengah. Pada kongres perdana inilah, alumnus sekolah tinggi teknik di Hecklenburg (Mecklenburg), Jerman pada tahun 1927, Ir. Soeratin Sosrosoegondo terpilih sebagai ketua umum pertama.
Penggunaan kata “Indonesia” pada Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia pada konteks waktu 1930 tentu saja sangat sensitif dan mengundang tindakan represif dari Pemerintah Kolonial Belanda. Hal itu mereka tunjukkan pada organisasi politik seperti Partai Nasional Indonesia.
Akan tetapi, karena PSSI mendaftarkan diri sebagai organisasi yang menjadi wadah olahraga (sepak raga), Pemerintah Kolonial Belanda pada awalnya tidak secara langsung melakukan kebijakan pembubaran secara frontal. Sepak raga (bola) mereka pandang dengan curahan anggapan sebagai aktivitas rekreasi di kalangan para pemuda.
Walaupun demikian, pada kenyataannya Soeratin dengan sengaja memanfaatkan lapangan hijau sebagai alat diplomasi lunak (soft diplomacy). Dan, sekaligus menjadi medium untuk menyemaikan benih-benih nasionalisme pasca-Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928.
Kendati memicu risiko masalah dan pengawasan ketat dengan Pemerintah Kolonial Belanda, para pendiri PSSI dapat menyiasati dan menghadapinya. Guna menghindari pembubaran atau penangkapan Polisi Rahasia Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst/PID), Soeratin dan para tokoh sepak bola menyelenggarakan pertemuan secara diam-diam.
Para pengurus PSSI kala itu melakukan mobilitas dari satu kota ke kota lain dengan menyamar agar berada di luar pengamatan radar para aparat intelijen Pemerintah Kolonial Belanda. Tindakan demikian sungguh mirip dengan kiprah para aktivis partai politik pada masa itu.
Penggunaan “Indonesia” pada PSSI segera memicu ketegangan dengan federasi sepak bola resmi bentukan Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu Nederlandsch - Indische Voetbal Bond (NIVB). Dengan tegas, NIVB menolak mengakui keberadaan klub (istilah waktu itu bond) bumiputra yang bernaung di bawah PSSI.
Kemudian terjadi pembatasan fasilitas. Klub-klub bumiputra berikut para pemain yang tergabung di dalamnya mendapat larangan untuk memanfaatkan lapangan sepak bola NIVB yang secara kualitas terbilang memenuhi kriteria fasilitas bagus untuk ukuran saat itu.
Seiring dengan perjalanan waktu, Pemerintah Kolonial Belanda menyadari, kompetisi PSSI yang mulai bergulir mulai 1931, senantiasa menjadi laga-laga yang menarik perhatian para penonton bumiputra dan untuk membakar semangat antiimperialisme.
Pemerintah Kolonial Belanda pun memberikan respons dengan membatasi ruang gerak PSSI, antara lain dengan cara memperketat izin keramaian untuk perhelatan laga-laga. Akan tetapi, berkat dukungan moral tokoh pergerakan nasional dokter Soetomo dan anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Mohammad Husni Thamrin, PSSI tetap eksis dan justru kian populer sebagai simbol perlawanan tanpa senjata.
Mohammad Husni Thamrin bahkan bukan hanya memberikan dukungan moral, melainkan juga dukungan politik, materi. Dan, juga memberi perlindungan sosial bagi PSSI serta klub-klub lokal di bawahnya, seperti Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIC). Bangsa Eropa, termasuk Portugis dan Belanda, pada awal kedatangan mereka, melafalkan dan menulis Jayakarta (nama lama Jakarta) dengan Jacatra.
Pada abad ke-16 hingga ke-17, mereka mencatat nama Jayakarta ke dalam dokumen atau peta berdasarkan pendengaran. Huruf “c” dalam ejaan Barat dibaca seperti huruf “k”. Oleh karena itu, tulisan “Jacatra” menerima pengucapan sebagai “Jakatra”.
Tentang pemunculan nama Jakarta ada dua versi teori. Pertama, nama asal setelah Pangeran Fatahillah mendudukinya pada 1527 adalah Jayakarta. Dalam arsip sejarah lokal, seiring dengan perjalanan waktu nama Jayakarta mengalami penyingkatan secara alami dalam konversasi keseharian menjadi Jakarta. Nama Jakarta ini sesungguhnya telah eksis menerima realisasi pemakaian secara lisan dari masyarakat lokal jauh sebelum abad ke-20.
Kedua, saat Jepang menduduki Nusantara pada 1942, mereka menerapkan kebijakan de-Nederlandisering, menghapus semua hal yang menunjukkan identitas kebelandaan, termasuk nama kota Batavia. Pemerintah Pendudukan Jepang berkeinginan untuk mengembalikannya ke Jayakarta.
Akan tetapi, lantaran lidah orang Jepang mengalami kesulitan melafalkan Jayakarta secara utuh, mereka menyebutnya dengan Jakarta yang lebih pendek. Dan, tentunya lebih mudah diucapkan orang Jepang. Sejak 8 Desember 1942, mereka resmi menggunakan sebagai nama wilayah administrasi, yaitu Jakarta Tokubetsu Shi (Daerah Istimewa Jakarta).
Kembali ke bond atau klub sepak bola Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIC) tadi. Ternyata, klub yang didirikan pada 28 November 1928 tersebut (satu bulan persis setelah Ikrar Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928) adalah cikal bakal dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta (Persija).
Puncak dari ketegangan politik tersebut, NIVB yang kemudian berubah nama menjadi Nederlandsch - Indische Voetbal Unie (NIVU) perlu bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan dengan PSSI pada 1937. Hal ini mengusung bukti, identitas Indonesia semula mendapat tekanan, akhirnya sukses menuntut pengakuan sejajar.
Piala Dunia 1938
Pada masa kepemimpinan Soeratin di PSSI, Timnas Hindia Belanda mengikuti Piala Dunia 1938 di Prancis. Menjalani babak kualifikasi bersama Jepang di Grup 12. Akan tetapi, Negeri Kesatria Samurai itu mengundurkan diri akibat terlibat peperangan dengan Tiongkok.
Kemudian Fédération Internationale de Football Association (FIFA) yang sudah berdiri pada 21 Mei 1904 di Paris, dan kala itu akan melangsungkan Piala Dunia 1938 yang notabene merupakan penyelenggaraan ketiga di Prancis (pertama di Uruguay tahun 1930 dan kedua di Italia tahun 1934), kemudian menjadwalkan laga tambahan (lewat undian) dengan Amerika Serikat.
Karena masalah finansial, Timnas Amerika Serikat mundur dari laga play-off yang menurut jadwal bakal berlangsung pada 29 Mei 1938 di Rotterdam. Dengan demikian Timnas Hindia Belanda melaju ke putaran final Piala Dunia 1938 tanpa bertanding. Sistem gugur (tidak ada fase grup) menyebabkan Timnas Hindia Belanda hanya tampil sekali melawan Timnas Hungaria. Dan, terpaksa mengakui keunggulan lawan dengan skor 0 - 6.
Begitulah kala itu, FIFA telah mempunyai 51 negara anggota, termasuk Hindia Belanda, yang berperan serta pada ajang tersebut. Akan tetapi ada satu hal menarik yang memberi warna di belakang keberangkatan Timnas Hindia Belanda, yaitu penolakan Ketua Umum PSSI Soeratin Sosrosoegondo mengirimkan pemain di bawah organisasinya. Konon hal ini terkait dengan bentuk protesnya.
Soeratin menolak mengirimkan pemain PSSI ke Piala Dunia 1938, karena organisasi sepak bola jerih bentukan Pemerintah Kolonial Belanda, NIVU, melanggar kesepakatan.
Berlandaskan perjanjian 5 Januari 1937, penentuan para pemain sepak bola Timnas Hindia Belanda yang akan berangkat ke Piala Dunia 1938 Prancis seharusnya melewati laga seleksi antara tim bentukan NIVU dan tim bentukan PSSI. Namun, NIVU melanggar perjanjian itu dan melakukan pemilihan pemain secara sepihak tanpa lewat laga penyeleksian.
PSSI pun tidak ingin pemainnya memperkuat tim sepak bola di bawah kibaran bendera Hindia Belanda dengan kontrol penuh Pemerintah Kolonial. NIVU akhirnya memberangkatkan tim dengan dominasi para pemain dari afiliasi mereka sendiri dan mengabaikan PSSI. Soeratin pun, sebagai bentuk perlawanan, membatalkan kerja sama PSSI dan NIVU dalam Kongres Ke-1 PSSI di Surakarta pada 1938.
Karena penolakan Soeratin tersebut, pada akhirnya Timnas Hindia Belanda yang berangkat ke Piala Dunia 1938 di Prancis, semua pemainnya dari hasil didikan NIVU dan klub-klub di bawah naungannya. Tanpa mengikutsertakan para pemain dari PSSI.
Dari 17 pemain di bawah asuhan pelatih Johannes Mastenbroek, yang pada akhirnya berangkat ke Piala Dunia FIFA 1938, terdapat tiga nama yang menunjukkan identitas bumiputra. Mereka adalah dua pemain tengah Achmad Nawir (kapten) berasal dari dari bond Houdt Braaf Stand (HBS) Soerabaja dan Anwar Sutan dari bond VIOS Batavia. Serta, pemain depan (striker) S. Soedarmadji (satu-satunya pemain yang berdarah Jawa tulen) dari bond HBS Soerabaja.
Pergantian Nomenklatur
Kepanjangan yang sama juga masih berlaku pada Kongres Ke-2 di Batavia (1932). Kemudian Kongres Ke-3 di Surabaya (1933). Selanjutnya Kongres Ke-4 PSSI di Surakarta (1934). Kongres Ke-5 di Yogyakarta (1935), Kongres Ke-6 di Malang (1936), Kongres Ke-7 di Yogyakarta (1937), Kongres Ke-8 di Surakarta (1938), Kongres Ke-9 di Yogyakarta (1939), Kongres Ke-10 di Bandung (1940), Kongres Ke-11 di Bandung (1941).
Setelah itu, kegiatan kongres PSSI (dengan versi kepanjangan lama) mengalami situasi vakum akibat Perang Dunia II meletus dan Masa Pendudukan Jepang serta Perang Pascakemerdekaan. Baru sembilan tahun kemudian, PSSI menyelenggarakan Kongres Ke-12 di Semarang pada 26 - 28 Agustus 1950.
Pada masa ini terjadi perubahan nama dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia menjadi Persatoean Sepak Bola Seloeroeh Indonesia. Dengan demikian terjadi pergantian nomenklatur dari “Sepak Raga” menjadi “Sepak Bola” secara resmi pada momen bersejarah Kongres Ke-12 PSSI di Kota Lumpia pada 1950 tersebut. Begitulah menurut dokumen sejarah akademik yang dipublikasikan di E-Journal Unesa.
Ketua Umum Persatuan Sepak Bola PSSI yang terpilih pada Kongres Ke-12 adalah Raden Maladi yang menjabat pada 1950 - 1959. Pernah menjadi penjaga gawang tersohor pada era 1930-an. Pernah memperkuat Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram (PSIM) Yogyakarta pada 1931. Kemudian hijrah ke Persatuan Sepak Bola Indonesia Surakarta (Persis) Solo. Lalu ke Persebaya Surabaya.
Kemampuan Raden Maladi di bawah mistar mengantarkannya memperkuat Timnas. Dia mendapat panggilan untuk mengawal gawang Timnas PSSI kali pertama pada 1937 dalam laga menghadapi klub-klub luar negeri, seperti Na Hwa dari Tiongkok. Ketika Skuad Hindia Belanda mengikuti Piala Dunia 1938 ke Prancis, Raden Maladi tidak ikut serta.
Selain kiper legendaris, Raden Maladi juga pencipta lagu, antara lain “Nyiur Hijau”, “Serumpun Padi”, “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, “Rangkaian Melati”, “Solo di Waktu Malam”. Dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan dan Menteri Olahraga pada era kepemimpinan Presiden Soekarno. Namanya diabadikan menjadi Stadion R. Maladi Solo.
Kenangan Masa SD
Kemenangan Timnas Indonesia atas Thailand di partai final FIFA ASEAN Cup 2026 baru-baru ini, bagi saya pribadi juga seolah menjadi penghapus kekecewaan saya, tatkala Timnas Senior Indonesia mengalami kekalahan menyakitkan dari Korea Utara pada laga final Pra-Olimpiade 1976 yang berlangsung pada 26 Februari 1976 di Stadion Utama Senayan Jakarta.
Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD) di Kota Salatiga. Pesawat televisi hitam putih dengan ukuran 12 inci. Masih saya ingat, mereknya Sharp. Satu-satunya stasiun televisi yang kala itu beroperasi hanya TVRI. Di situlah saya turut menyaksikan laga krusial untuk memperebutkan satu tiket emas menuju putaran final Olimpiade Montreal 1976 di Kanada.
Dengan sentuhan tangan dinginnya, pelatih taktis asal Belanda, Wiel Coerver, membesut performa Iswadi Idris, Risdianto, Djunaedi Abdillah, Oyong Liza, sang penjaga gawang legendaris Ronny Pasla dan para penggawa Skuad Garuda yang lain tampil dengan disiplin tinggi. Mitra laga mereka adalah salah satu raksasa Asia yang tersohor dengan permainan fisik dan stamina yang seolah tidak pernah kenal lelah.
Begitulah kala itu. Sepanjang rentang waktu normal 2 x 45 menit plus 2 x 15 menit ekstra waktu, pertempuran sengit telah terjadi di atas lapangan hijau. Berkali-kali Indonesia mampu mementahkan gempuran Korea Utara. Dan, tak kurang upaya membalas melalui serangan balik cepat. Kedudukan masih belum berubah. Tetap 0 - 0.
Adu tendangan penalti tidak terelakkan. Korea Utara mendapat kesempatan pertama untuk melakukan tendangan penalti, lewat An Se Uk, dan berbuah gol. Gantian Indonesia membalasnya lewat Iswadi Idris.
Kiper Ronny Pasla dapat menepis eksekusi penendang kedua Korea Utara, Park Jong Hun. Sementara itu, penendang kedua dari Indonesia, Djunaedi Abdillah sukses mengeksekusi tendangan penalti.
Penendang ketiga Korea Utara, Yang Song-guk, berhasil menunaikan tugasnya. Demikian pula penendang ketiga dari Indonesia, Waskito, berhasil menjebol gawang Korea Utara.
Kiper Ronny Pasla bisa menggagalkan eksekusi penendang keempat Korea Utara Kim Jong-min. Sementara itu, kiper Korea Utara Jin In-chol dapat menepis bola dari eksekusi penendang keempat Indonesia, Oyong Liza.
Kedudukan 3 - 2 untuk Indonesia. Kedua tim masing-masing menyisakan satu penendang. Di sinilah terjadi titik balik dari harapan yang mulai bersinar itu hingga menggapai titik redupnya.
Penendang kelima Korea Utara, Kim Zung Gon, mampu menyamakan kedudukan menjadi 3 - 3. Sementara itu, penendang kelima Indonesia, Andjas Asmara, bola hasil tendangannnya dapat ditangkap kiper Jin In-chol.
Arus drama adu penalti itu pun mengalir ke babak sudden death. Siapa gawal timnyalah yang menuai gagal. Penendang keenam dari Korea Utara mampu membuat gol. Untunglah Risdianto tetap mampu menjaga asa dengan menyeimbangkan skor menjadi 4 - 4.
Dan, tibalah momen penentu yang begitu menyakitkan hati itu. Korea Utara memupus harapan Indonesia lewat Hong Song-nam yang mengubah posisi skor menjadi 5 - 4. Itu terjadi, setelah tendangan Sueb Rizal melenceng jauh dari gawang. Terkuburlah mimpi Indonesia untuk tampil di Olimpiade Montreal, Kanada 1976.
Masih Olimpiade
Masih Olimpiade. Sebenarnya Timnas Senior Indonesia memiliki catatan sejarah tersendiri. Pernah tampil hingga perempat final Olimpiade Melbourne 1956. Ada unsur keberuntungan kala itu. Lolos kualifikasi Zona Asia tanpa berlaga karena calon lawan, Taiwan, mengundurkan diri.
Di putaran pertama juga lolos karena mitra tanding, Vietnam Selatan, walkout. Lalu melangkah ke perempat final. Laga pertama, pada 29 November 1956, mampu menahan imbang Uni Soviet 0 - 0, yang di dalamnya terdapat pemain terkenal kala itu, seperti Lev Yashin dan Igor Netto.
Karena aturan era itu belum ada penerapan adu penalti, bila dua tim berbagi angka yang sama (seri), maka mesti ada laga ulang. Oleh karena itu, laga kedua pun berlangsung pada 1 Desember 1956. Kali ini Timnas Indonesia terpaksa harus mengakui keunggulan Uni Soviet 0 - 4.
Sementara itu, prestasi tertinggi selama keikutsertaan Timnas di Asian Games, yaitu raihan medali perunggu pada tahun 1958 di Tokyo, Jepang. Indonesia menundukkan India 1 - 4 pada 1 Juni 1958. Capaian semifinal lainnya, peringkat keempat, pada event yang sama di Manila, Filipina (1954) dan di Seoul, Korea Selatan (1986).
Kembali ke Olimpiade. Pada 2024, Timnas Indonesia U-23 kembali mengejutkan publik penggemar sepak bola Tanah Air dengan melaju sedemikian jauh hingga ke teras harapan perebutan tiket Olimpiade Paris 2024. Pelatih Shin Tae-yong mengantar Skuad Garuda Muda hingga semifinal Piala Asia U-23 2024. Mereka bertarung dalam tiga kesempatan krusial dalam upaya menggenggam tiket Olimpiade.
Sayang, perjalanan belum begitu mulus. Di semifinal Piala Asia U-23 2024, Indonesia tunduk 0 - 2 dari Uzbekistan. Dan, pada perebutan tempat ketiga, secara dramatis mesti mengakui keunggulan Irak 1 - 2 lewat perpanjangan waktu.
Di babak play-off antarkonfederasi, Timnas Indonesia U-23 terbang ke Paris untuk menjalani laga hidup - mati menghadapi wakil Afrika, Guinea pada 9 Mei 2024. Hampir sama dengan Tragedi 1976, Skuad Garuda Muda secara menyakitkan takluk 0 - 1 melalui gol penalti kontroversial Ilaix Moriba. Dalam laga itu bahkan tidak tersedia tersedia Video Assistant Referee (VAR).
Sementara itu, capaian maksimal Timnas Senior Indonesia menuju Piala Dunia, yaitu melangkah hingga Babak Keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Adapun secara statistik, telah menempuh 20 laga, dengan raihan hasil 8 kali menang, 4 kali seri, 8 kali kalah. Mencetak 31 gol dan kebobolan 32 gol.
Ini merupakan rekor historis, karena Timnas Senior Indonesia bisa menapakkan kaki di babak ketiga dan berlanjut ke babak keempat. Pernah mencatat kemenangan atas tim-tim kuat, seperti Arab Saudi (2 - 0) dan China (1 - 0). Serta, menahan imbang Australia.
Event tersebut menempatkan Timnas Senior Indonesia menjadi wakil Asia Tenggara dengan raihan poin dan langkah terjauh di putaran kualifikasi. Peringkat di FIFA pun per Juli 2025 berada di posisi ke-118 (terbaik dalam 19 tahun terakhir). Sebelum pada wekasannya bergerak ke peringkat ke-117 pada Oktober 2026 di bawah pelatih John Herdman. ***

