Konten dari Pengguna

Menurut Sejarah, Uang Logam Itu Jauh Lebih Tua dari Uang Kertas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Uang logam ternyata hadir jauh lebih dahulu dalam sejarah peradaban umat manusia daripada uang kertas. Uang logam sudah ada, menurut perkiraan para pakar sejarah, pada tahun 640 - 580 Sebelum Masehi. Pertama kali menemukan realisasi pembuatan (pencetakan) dan pemakaian di Kerajaan Lydia.

Kerajaan Lydia merupakan sebuah kerajaan kuno di wilayah barat Asia Kecil (Anatolia atau Anadolu dalam bahasa Turki). Semenanjung besar di wilayah Asia Barat yang membentuk mayoritas daratan utama Turki Modern. Lebih persisnya di bagian barat negara itu di sekitar Provinsi Manisa dan Izmir.

Koin pertama, pembuatannya dari bahan elektrum (electrum), paduan alami antara emas dan perak. Pencetakan uang logam secara resmi di Kerajaan Lydia terjadi pada masa pemerintahan Raja Alyattes (tahun 610 - 550 Sebelum Masehi) dengan cap atau ukuran khusus sebagai penanda nilai dan otoritas Kerajaan.

Pada masa sebelumnya, transaksi dalam perdagangan memfaedahkan pemakaian sistem barter (tukar-menukar barang). Atau, pembayaran dengan potongan logam mulia tidak beraturan. Perlu ada penimbangan tiap kali digunakan. Standardisasi proses ini lalu dilakukan oleh pegegang otoritas Kerajaan Lydia.

Cap Resmi

Pencetakan uang logam secara resmi di bawah pengawasan negara itu, mendapat pengakuan secara luas dari para sejarawan, berlangsung di bawah kekuasaan Raja Alyattes. Untuk menjamin keasliannya, koin-koin dari bahan elektrum itu, mendapat cap resmi.

Cap resmi itu bergambar kepala singa atau banteng sebagai simbol Kerajaan. Ukuran dan berat koin juga diseragamkan. Cap dan ukuran khusus berfungsi sebagai jaminan dari Kerajaan. Masyarakat tidak perlu menimbang lagi ketika terjadi kesepakatan transaksi. Sebab, otoritas Kerajaan telah menjamin, koin-koin itu memiliki nilai intrinsik dan nominal tertentu yang absah sebagai alat pembayaran.

Kepeloporan Kerajaan Lydia dengan sistem perdagangan yang menggunakan koin terbukti dapat berjalan secara operasional dengan begitu sukses dan efisien. Bangsa-bangsa tetangga yang kerap berinteraksi dengan Kerajaan Lydia mulai banyak yang mengadopsi sistem transaksi dengan alat bayar berupa uang logam.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Sejumlah kota di Yunani Kuno, antara lain Athena dan Aegina, mulai mencetak koin sendiri dengan simbol khusus. Di Athena, pada koin tercetak burung hantu, simbol kebijaksanaan, kecerdasan, kearifan intelektual, dan perlindungan bagi kota Athena.

Sementara itu, di Aegina semula pada koin tercetak penyu laut sebagai simbol kekuatan maritim, kejayaan, kekayaan, dan ketahanan. Tatkala abad ke-6 Sebelum Masehi, Aegina merupakan kekuatan maritim dan pusat perdagangan perak yang begitu kaya di Teluk Saronik.

Kemudian kura-kura darat menggantikan tempat penyu laut sebagai simbol yang tergurat pada mata uang logam Aegina. Hal itu terjadi setelah Aegina tak kuasa membendung penaklukan Athena atas wilayah mereka dalam pertempuran laut yang terjadi sekitar tahun 457 - 480 Sebelum Masehi.

Kura-kura darat menjadi simbol yang menarasikan kekuatan maritim yang telah menghilang. Dan, berlangsung pergeseran identitas politik mereka ke daratan. Hingga dewasa ini, kura-kura darat atau tetap mengabadi sebagai simbol resmi dan hadir pada bendera dan lambang modern Pulau Aegina.

Sementara itu, Kekaisaran Persia menaklukkan Kerajaan Lydia pada kisaran tahun 547 atau 546 Sebelum Masehi. Peristiwa ini terjadi pada masa Koresh Agung (Cyrus the Great), pendiri Kekaisaran Persia.

Setelah menundukkan Raja Croesus dari Kerajaan Lydia dan menguasai ibu kota Sardis, Koresh Agung mengadopsi pencetakan koin uang logam tersebut. Penerusnya, Darius Agung (Darius the Great) menyempurnakan dan menstandardisasi menjadi mata uang resmi Kekaisaran Persia.

Koin Darik

Koin Darik (Daric), demikian mata uang resmi Kekaisaran Persia itu. Darik merupakan koin emas tebal sebagai standar mata uang bimetalik di wilayah Kekaisaran Persia Akhemeniyah.

Bangsa Yunani Kuno menyebut koin ini dengan Dareikos. Diambil langsung dari nama Darius Agung. Raja yang mengintroduksi sistem mata uang ini pada pengujung akhir abad ke-6 Sebelum Masehi. Akan tetapi, sejumlah pakar sejarah yang lebih modern melemparkan dugaan, nama tersebut merupakan akar kata bahasa Persia Kuno, yaitu dari-, yang bermakna emas.

Adapun karakteristik fisiknya, tiap koin Darik mempunyai berat standar 8,4 gram. Tingkat kandungan emas murni pun sangat tinggi, mencapai 95,83%. Desainnya dengan teknik cetak yang relatif sederhana. Tanpa tulisan teks apa pun.

Bagian depan (observe) uang logam Darik mengetengahkan gambar Raja Persia. Atau, pahlawan kekaisaran dengan posisi “berlari sambil berlutut”, mengenakan jubah panjang dan mahkota, serta di tangannya terpegang busur dan tombak. Berkat visual ikonik tersebut, orang-orang Yunani menjuluki koin tersebut Si Pemanah (Toxotai). Sementara itu, bagian belakang (reverse) berupa bekas pukulan cetakan yang tidak rata.

Uang logam Darik memiliki nilai tinggi. Tiap satu keping koinnya setara dengan 20 koin perak (siglos). Masyarakat yang hidup di jantung Kekaisaran Persia sendiri, pada kala itu masih dominan memanfaatkan sistem barter untuk kebutuhan perniagaan sehari-hari.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Uang logam Darik cenderung lebih sering beredar di wilayah barat, seperti Mediterania dan Asia Kecil, untuk kebutuhan perdagangan internasional, alat diplomasi. Selain itu, juga untuk menggaji tentara bayaran Yunani. Satu keping uang logam Darik merupakan upah satu bulan untuk seorang prajurit. Uang logam atau ini terus mengalami proses produksi dan mampu bertahan selama hampir 185 tahun.

Pemakaian uang logam Darik baru berakhir total manakala Aleksander Agung (Alexader the Great) dari Kerajaan Makedonia menginvasi Kekaisaran Persia pada tahun 330 Sebelum Masehi. Persediaan uang logam Darik yang begitu berlimpah ruah di brankas istana kemudian mengalami peleburan kembali menjadi koin-koin bermotif Makedonia.

Tren penggunaan mata uang logam tidak hanya berpusar di wilayah Mediterania (laut dan daratan di wilayah Eropa Selatan, Afrika Utara, Asia Barat) dan Timur Tengah. Akan tetapi, juga merambah Asia Timur (Tiongkok). Sesungguhnya, Tiongkok mengembangkan uang logamnya secara independen pada waktu yang hampir bersamaan.

Koin Banliang

Tiongkok telah mengembangkan standardisasi koinnya sendiri. Mengacu pada bentuk dan kebijakan uang yang sangat berlainan dari dunia Barat. Ketika Barat memakai koin bulat utuh yang terbuat dari emas atau perak, Tiongkok membuat koin dari perunggu dengan lobang kotak di tengahnya (agar bisa terkumpul dengan ikatan tali).

Adapun penetapan standardisasi bobot dan nilai uang logam mendapat pengaturan dengan ketat dari Kekaisaran Tiongkok. Terutama sejak Dinasti Qin berkuasa pada tahun 221 - 206 Sebelum Masehi. Dinasti di bawah kepemimpinan Kaisar Qin Shi Huang itu merupakan dinasti pertama yang mempersatukan daratan Tiongkok.

Di bidang ekonomi, upaya penyatuan itu mendorong Dinasti Qin mengambil kebijakan menghapus mata uang lokal yang berlaku di berbagai kerajaan yang telah takluk kepada mereka. Dinasti Qin selanjutnya menetapkan koin standar yang mereka beri nama Banliang (半兩) sebagai satu-satunya alat pembayaran di seantero wilayah Kekaisaran.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Koin Banliang menerima jamahan standardisasi dengan bentuk dan desain yang memperlihatkan ciri fisik yang begitu spesifik dan seragam. Pemilihan desain beranjak dari alasan praktis dan filosofis. Berbentuk bulat (lambang langit) dengan lubang persegi di tengahnya (lambang bumi).

Dalam konteks praktis, lubang persegi di tengah kepingan uang logam bulat, pembuatannya memang sengaja untuk keperluan agar koin-koin dapat tersatukan ke dalam satu ikatan dengan tali. Tujuannya, untuk mempermudah masyarakat membawa dan menghitung dalam jumlah banyak.

Banliang itu sendiri secara harfiah bermakna “setengah liang”, satuan berat kuno Tiongkok. Pemerintah Dinasti Qin menetapkan kontrol ketat, yaitu koin-koin yang tercetak itu mesti mempunyai berat dan kadar logam sama. Dengan demikian, dapat terminimalisasi atau tercegah kemungkinan pemalsuan. Dan, terdapat upaya pemastian nilai tukar yang adil di seluruh perfektur (setingkat provinsi) kekaisaran.

Upaya standardisasi yang sedemikian itu sukses mendorong integrasi ekonomi, mempermudah pemerintah pusat menarik pajak, dan menciptakan sistem moneter yang stabil. Konsep desain koin Dinasti Qin ini terus diadopsi dinasti-dinasti Tiongkok berikutnya selama lebih dari 2.000 tahun.

Uang Kertas

Uang kertas baru muncul pada abad ke-7 hingga ke-11 Masehi. Menunjukkan performa perkembangannya pada masa Dinasti Tang. Kemudian pengesahannya secara luas sebagai Jiaozi (交子), uang kertas pertama di dunia, terjadi pada masa Dinasti Song.

Jiaozi kali pertama muncul pada abad ke-11 Masehi. Para pedagang di Chengdu, Sichuan mulai memakai Jiaozi pada kisaran tahun 1005 Masehi. Kemudian pada tahun 1023 Masehi, Pemerintah Dinasti Song di bawah kepemimpinan Kaisar Zhenzong mengambil alih penerbitan Jiaozi, dengan tujuan agar penggunaannya resmi dan teratur.

Alasan pencetakan uang kertas Jiaozi, karena pada masa Dinasti Song, di wilayah Sichuan, Tiongkok. sebelumnya masyarakat menggunakan uang logam dari bahan tembaga atau besi. Lantaran nilai nominal besi rendah, pedagang membutuhkan ribuan keping koin yang tentu sangat berat ketika melakukan transaksi dengan nominal besar.

Kondisi ini sudah barang tentu tidak praktis. Dan, terdapat risiko perampokan, bilamana para pedagang tengah berada dalam perjalanan perniagaan yang menempuh jarak jauh. Oleh karena itu, guna mengatasi beban berat membawa koin besi, mereka menitipkannya ke toko-toko setoran atau lembaga keuangan swasta setempat.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Sebagai gantinya, kemudian para pedagang itu menerima selembar kertas bukti setoran hasil tulisan tangan. Kertas ini disebut Jiaozi. Pada awalnya berfungsi seperti kertas berharga yang dapat bertukar lagi menjadi uang logam kapan saja. Lama-lama, mereka bisa merasakan betapa kertas bukti tersebut jauh lebih praktis.

Perkembangan selanjutnya, para pedagang pun mulai langsung memanfaatkan kertas Jiaozi tersebut sebagai alat pembayaran resmi. Tanpa perlu menukarkan kembali terlebih dahulu ke dalam bentuk koin logam. Pemerintah Dinasti Song pada tahun 1024 Masehi selanjutnya mengambil alih sistem ini. Dan, menjadilah sistem uang kertas resmi pertama di dunia.

Pada awalnya, Jiaozi berjalan begitu sukses berkat jaminan cadangan koin tembaga yang memiliki nilai setara. Akan tetapi, petaka terjadi ketika Pemerintah Dinasti Song mulai mencetak uang kertas itu dalam jumlah berlebihan. Tanpa dukungan cadangan komoditas atau jumlah koin emas dan perak yang memadai. Hal ini terutama guna menyokong pembiayaan pengeluaran militer dan perang.

Kemudian pada tahun 1127 Masehi, awal masa Dinasti Song Selatan (perpindahan pusat pemerintahan dari wilayah utara ke selatan), terjadi kelangkaan mata uangm logam (tembaga) yang sedemikian akut akibat pembengkakan biaya perang menghadapi Dinasti Jin. Selain itu, juga persoalan perdagangan luar negeri yang menguras koin ke luar negeri.

Tidak kurang andil sebagai pemicu inflasi adalah kemerebakan masyarakat melakukan penimbunan koin logam. Hal demikian memicu ketidakstabilan ekonomi yang menghendaki tindakan tegas Pemerintah Dinasti Song Selatan.

Dampak inflasi pun tidak terelakan. Sebab, jumlah uang kertas Jiaozi yang berada dalam edar sirkulasi di pasar jauh lebih banyak daripada nilai riil barang atau cadangan logam pendukungnya. Nilai tukar Jiaozi pun merosot drastis. Harga barang-barang melonjak tinggi, bahkan boleh terbilang hiperinflasi. Kepercayaan masyarakat terhadap uang kertas Jiaozi pun sirna.

Pemerintah Dinasti Song Selatan pernah berupaya menerbitkan mata uang perantara lain, yaitu Qianyin (钱引) untuk menggantikan Jiaozi. Akan tetapi, lantaran akar permasalahannya pada pencetakan uang tanpa kendali belum menerima sentuhan pembenahan secara substansial, Qianyin pun mengalami nasib yang serupa dengan Jiaozi. Nilainya runtuh dan mengalami penolakan dari pasar.

Pada tahun 1160 Masehi, Pemerintah Dinasti Song Selatan di bawah perintah Kaisar Gaozong mengambil alih peredaran nota privat di ibu kota Lin’an (sekarang Hangzhou). Kemudian menjadikannya mata uang kertas resmi negara yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Pendapatan.

Menyikapi kecamuk kekacauan ekonomi yang semakin tidak sehat itu, Pemerintah Dinasti Song Selatan, di bawah kepemimpinan Kaisar Gaozong, mengambil tindakan tegas. Pada tahun 1160, resmi menerbitkan mata uang kertas baru, Huizi (会子). Ia selanjutnya menjadi mata uang kertas dengan volume cetak terbesar dan paling berpengaruh sepanjang perjalanan sejarah Dinasti Song.

Huizi merupakan suatu proyek reformasi ekonomi yang terselenggara dengan total. Belajar dari kegagalan uang kertas Jiaozi dan Qianyin, Pemerintah Dinasti Song Selatan menerapkan sistem kontrol yang jauh lebih ketat guna memulihkan kepercayaan dan menstabilkan perekonomian negara.

Adapun strategi pengetatan itu, Pemerintah Dinasti Song Selatan memastikan Hauzi bisa menjadi alat untuk menukarkan kembali dengan uang koin tembaga atau komoditas berharga lainnya dengan cara adil di kantor-kantor layanan resmi terkait.

Strategi selanjutnya, pembatasan jumlah cetak. Volume uang kertas Huizi yang memasuki peredaran di pasar mendapat pembatasan secara ketat, untuk menghindari kelebihan likuiditas yang menggaet kehadiran inflasi.

Strategi lain, pemberlakuan tanggal kedaluwarsa (sistem periodik). Pemerintah Dinasti Song Selatan menerbitkan uang kertas Huizi dengan sistem periode atau generasi. Pada lazimnya berlaku selama tiga tahun.

Setelah masa periodenya usai, masyarakat berkewajiban melakukan penukaran dengan Huizi generasi baru. Strategi ini relatif jitu untuk kepentingan menarik uang kertas yang lama. Dan sekaligus, untuk mencegah pemalsuan uang.

Strategi lain yang tidak kurang taktis, yakni memberikan hukuman berat bagi pemalsu uang. Penegakan regulasi hukum secara agresif berlaku bagi siapa pun yang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pemalsuan uang kertas Huizi.

Dengan dukungan kontrol ketat dan pengelolaan emisi (penerbitan uang baru) secara disiplin pada tahun 1160 itu, mata uang kertas Huizi sukses memulihkan kepercayaan terhadap pasar yang sempat sirna. Kondisi perekonomian Dinasti Song Selatan yang tadinya nyaris terpuruk di bawah titik nadir kehancuran, dengan perlahan tetapi pasti kembali menemukan muruah kestabilannya.

Sejarah pun mencatat, Huizi mengalami transformasi menjadi salah satu mata uang kertas paling sukses dan luas jangkauan sirkulasi pemakaiannya pada era Kekaisaran Tiongkok.

Bahan Logam

Sejumlah logam mewarnai eksistensi sebagai bahan koin dalam sejarah uang. Ada elektrum, campuran alami emas (75%) dan perak (25%). Logam ini merupakan bahan koin pertama di dunia, dari Kerajaan Lydia di wilayah Turki oada kisaran abad ke-7 Sebelum Masehi.

Kemudian emas, menemukan realisasi penggunaan secara luas di berbagai peradaban kuno, seperti Yunani, Romawi, dan Tiongkok, hingga masa modern ini. Prioritas pilihan terhadap emas sebagai bahan koin mata uang, karena nilainya yang tinggi dan tahan lama. Emas termasuk ke dalam kategori full bodied money. Uang yang nilai intrinsiknya sama dengan nilai nominalnya.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Lalu ada perak. Salah satu logam yang populer sepanjang sejarah. Banyak menjadi bahan mata uang logam di kerajaan-kerajaan kuno. Sebab, jumlahnya lebih berlimpah daripada emas. Meski demikian, tetap memiliki nilai tinggi.

Selanjutnya tembaga. Pemakaiannya untuk koin bernilai lebih kecil. Seperti koin Gobog di Kerajaan Majapahit atau koin Kepeng dari Kekaisaran Tiongkok. Sebab, mudah dibentuk dan relatif tahan lama.

Seterusnya ada perunggu, perpaduan tembaga dan timah, terkadang dengan imbuhan aluminium atau fosfor. Warna cokelat kemerahan. Lebih keras dan tahan korosi. Juga kuningan, perpaduan tembaga dan seng (zinc). Warna kuning keemasan, cerah dan menarik. Pembentukannya lebih mudah.

Perunggu dan kuningan banyak digunakan dalam pencetakan koin kuno hingga modern. Pemakaian kedua logam tersebut bertujuan untuk menimbulkan efek warna keemasan dan sekaligus menghadirkan paduan logam yang memiliki kekuatan lebih.

Sudah itu ada nikel. Mulai banyak menjadi pilihan pencetakan pada era modern. Di Indonesia sejak seri-seri awal, seperti 50 sen dan pecahan modern lainnya, karena memiliki sifat berat, padat, dan tahan karat.

Tidak ketinggalan aluminium. Lazim untuk koin bernilai kecil. Logam yang ringan, kuat, dan mengkilap ini, pertama kali dicetak sebagai koin di Indonesia pada tahun 1952.

Dan, koin dengan bahan bimetal. Perpaduan dua jenis logam dalam satu koin. Misal lingkaran luar dan inti dalam terdiri atas kombinasi nikel dan kuningan. Ada juga yang merupakan perpaduan nikel dan tembaga (kupronikel [cupronickel]) untuk menghadirkan performa koin dengan warna perak yang lebih padat, berat, dan tahan lama.

Baja nirkarat (stainless steel) juga menjadi bahan yang memberikan kontribusi pemberadaan uang logam modern, berkat ketahanannya yang relatif tinggi terhadap karat dan aus akibat pemakaian dengan tingkat keseringan yang tinggi dalam kehidupan keseharian.

Berlainan dari zaman dahulu yang memanfaatkan logam mulia murni, seperti emas atau perak, uang logam modern tidak lagi bernilai tinggi berdasarkan bahan bakunya (nilai intrinsik), tetapi nilai nominal yang telah menjadi ketetapan negara. ***