Menara Syahbandar Kalimas: Dari Pengawasan Pelabuhan Hingga Cagar Budaya

S1 Ilmu Sejarah Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mohammad Pandega Putra Arazy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Surabaya dikenal sebagai kota dengan sejarah maritim yang kuat, meninggalkan berbagai jejak penting dari masa kolonial hingga masa kemerdekaan. Salah satu bangunan yang masih berdiri dan menyimpan kisah panjang tersebut adalah Menara Syahbandar Kalimas. Bangunan tua ini tidak hanya menjadi simbol kejayaan perdagangan Surabaya pada masa lampau, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan panjang aktivitas pelabuhan yang pernah sangat ramai di kawasan Kalimas.

Menara Syahbandar Kalimas yang terletak di Jalan Kalimas Utara No. 26, Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, tercatat sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah penting. Pada masa kolonial Belanda, menara ini berfungsi sebagai pusat pengawasan pelabuhan sekaligus titik kendali aktivitas perdagangan maritim. Surabaya pada masa itu dikenal sebagai pusat perdagangan terbesar di Indonesia bagian timur, sehingga keberadaan menara ini menjadi sangat strategis dalam menjaga arus keluar-masuk kapal. Setelah Belanda pergi dan Jepang mengambil alih, bangunan ini sempat difungsikan sebagai gudang logistik. Kemudian, setelah Indonesia merdeka, gedung ini digunakan oleh PLN dan PTT hingga akhirnya dipugar dan resmi dibuka sebagai museum pada tahun 1977 untuk mengenalkan sejarah maritim kepada masyarakat.
Menara setinggi sekitar sepuluh meter ini dahulu digunakan untuk memantau kapal yang melintas melalui Sungai Kalimas sekaligus mengontrol distribusi berbagai komoditas penting seperti rempah-rempah, kopi, teh, timah, dan tekstil. Di sekitarnya, kawasan Kalimas dikenal sebagai dermaga utama yang mempertemukan pedagang dari Surabaya maupun dari luar negeri. Bangunan-bangunan tua di sekelilingnya menjadi bukti nyata betapa majunya aktivitas perdagangan pada masa lampau, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya peran Surabaya sebagai kota pelabuhan pada era itu.
Dari pengalaman saya saat mengunjungi Menara Syahbandar Kalimas, saya bisa melihat langsung bagaimana bangunan tua ini tetap berdiri kokoh meskipun telah melewati berbagai masa pemerintahan dan perubahan zaman. Di dekat menara, aliran Sungai Kalimas tampak tenang, namun menyimpan cerita panjang tentang aktivitas pelabuhan yang pernah sangat ramai. Ketika saya bertanya kepada warga sekitar, mereka menjelaskan bahwa menara ini benar-benar menjadi pusat pengawasan kapal dan menjadi saksi hidup ramainya perdagangan pada masa kolonial. Penjelasan tersebut membuat saya semakin memahami betapa pentingnya bangunan ini dalam sejarah perkembangan Surabaya sebagai kota maritim.
Menurut pendapat saya, Menara Syahbandar Kalimas bukan hanya sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga simbol kejayaan maritim Surabaya di masa lalu. Melihatnya secara langsung membuat saya menyadari bahwa sejarah tidak hanya dapat dibaca, tetapi juga dapat dirasakan melalui tempat-tempat yang masih terawat hingga hari ini. Karena itu, saya merasa bangunan seperti ini sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan agar generasi berikutnya tetap mengenal dan menghargai perjalanan panjang sejarah kotanya.
