Konten dari Pengguna

Kita Sering Merasa Tertinggal, Padahal Setiap Orang Punya Waktunya Sendiri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Dwiki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada masa ketika membuka media sosial terasa seperti melihat daftar pencapaian orang lain. Teman sebaya sudah mendapatkan pekerjaan, ada yang melanjutkan pendidikan, membangun usaha, menikah, membeli kendaraan, atau mulai mencapai sesuatu yang sejak lama mereka impikan.

Sementara kita masih berada di tempat yang sama. Kemudian muncul sebuah pertanyaan yang perlahan memenuhi kepala:

"Kenapa aku belum bisa seperti mereka?"

Padahal, kita sering lupa bahwa media sosial hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak melihat malam-malam ketika ia menangis. Kita melihat pencapaiannya, tetapi tidak mengetahui berapa kali ia gagal sebelum sampai di sana.

Kita membandingkan halaman pertama kehidupan kita dengan halaman terbaik milik orang lain.

Di situlah masalahnya.

Kata Motivasi (Sumber: https://pixabay.com/id/photos/buku-catatan-pensil-mengutip-5616034/)

Kita Terlalu Sering Membandingkan Waktu

Sejak kecil, kita terbiasa dengan ukuran keberhasilan yang seragam. Lulus sekolah pada usia tertentu. Kuliah di usia tertentu. Lulus tepat waktu. Mendapat pekerjaan setelah wisuda. Memiliki penghasilan tertentu. Menikah pada usia tertentu.

Seolah-olah kehidupan mempunyai jadwal yang harus diikuti oleh semua orang.

Ketika kita tidak mampu mengikuti jadwal tersebut, kita mulai menganggap diri sendiri gagal. Padahal, kehidupan manusia tidak pernah benar-benar berjalan dengan kalender yang sama.

Ada orang yang menemukan jalannya lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, ada yang harus mencoba berkali-kali sebelum menemukan sesuatu yang benar-benar cocok untuk dirinya. Perbedaan waktu tidak selalu berarti perbedaan nilai.

Seseorang yang belum berhasil hari ini bukan berarti lebih buruk daripada seseorang yang sudah berhasil lebih dahulu.

Mungkin ia hanya sedang menjalani perjalanan yang berbeda.

Ada Perjuangan yang Tidak Terlihat

Kita sering menilai diri sendiri hanya dengan berdasarkan hasil.

Ketika belum mendapatkan pekerjaan, kita merasa tidak cukup baik. Ketika belum mencapai target, kita merasa tidak berkembang. Ketika melihat teman sudah melangkah jauh, kita merasa diri sendiri berjalan di tempat yang sama.

Padahal, bertahan juga merupakan bentuk perjuangan.

Bangun setiap pagi ketika semangat sedang tidak ada adalah perjuangan. Mencoba lagi setelah mengalami kegagalan adalah perjuangan. Tetaplah belajar meskipun hasilnya belum terlihat adalah perjuangan.

Bahkan memilih untuk tidak menyerah ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan juga merupakan sebuah pencapaian.

Tidak semua kemajuan dapat diukur dengan angka.

Ada perubahan yang hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri.

Dulu mungkin kita sudah menyerah, sekarang kita belajar bertahan. Dulu kita selalu takut mencoba, sekarang kita berani mengambil kesempatan. Dulu kegagalan membuat kita berhenti, sekarang kita mampu bangkit meskipun dengan langkah yang lebih pelan.

Bukankah itu pertumbuhan?

Kita sering melihat bunga yang sedang mekar milik orang lain, lalu lupa bahwa kita sedang menanam benih milik kita sendiri.

Tetaplah tumbuh.

Meskipun secara perlahan, meskipun tidak ada yang melihat, meskipun belum ada yang memuji.

Sebab, tidak semua pertumbuhan harus disaksikan oleh manusia. Ada perjuangan yang hanya kamu dan Tuhan yang tahu. Ada air mata yang jatuh diam-diam di atas sajadah. Ada doa yang berkali-kali kamu ulang meski belum melihat tanda-tanda akan terkabul.

Dan mungkin, justru di situlah letak indahnya perjalanan dirimu. Kita belajar bahwa hidup bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi juga tentang menjadi seseorang yang lebih kuat ketika akhirnya mendapatkannya.

Kita Tidak Harus Sampai Bersamaan

Bayangkan dua orang sedang berjalan menuju sebuah tempat yang sama.

Orang pertama berlari, orang kedua berjalan perlahan.

Apakah orang yang berjalan berarti gagal? Tentu tidak.

Ia hanya memiliki kecepatan yang berbeda. Begitu pula dengan kehidupan.

Kita tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti kecepatan orang lain hanya karena takut dianggap tertinggal. Terlalu sibuk mengejar kehidupan orang lain justru dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk memahami kehidupan sendiri. Mungkin yang kita butuhkan bukan berlari lebih cepat, tetapi berhenti sejenak dan bertanya:

"Sebenarnya, ke mana aku ingin pergi?"

Pertanyaan itu penting karena tidak semua pencapaian yang terlihat indah bagi orang lain menjadi sesuatu yang kita inginkan. Ada kalanya kita mengejar sesuatu hanya karena melihat orang lain memilikinya.

Kita ingin pekerjaan tertentu karena teman-teman mendapatkannya. Kita ingin memiliki sesuatu karena orang lain sudah memilikinya. Kita ingin mencapai usia tertentu dengan pencapaian tertentu karena masyarakat mengatakan demikian.

Padahal, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang paling cepat. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang sesuai dengan nilai dan tujuan yang kita pilih dengan sadar.

Jika hari ini kamu gagal, beristirahatlah.

Jika hari ini kamu lelah, berhentilah sebentar.

Tetapi jangan menyerah hanya karena perjalananmu belum sesuai dengan rencana.

Tidak Semua Hal Harus Terjadi Sekarang

Ada sesuatu yang perlu kita terima dalam kehidupan, yaitu tidak semua hal dapat dipaksakan untuk terjadi sesuai dengan keinginan kita. Ada hal yang bisa kita usahakan, tetapi hasil akhirnya tetap membutuhkan waktu.

Tugas kita bukan memastikan semuanya terjadi sesuai rencana.

Tugas kita adalah melakukan bagian yang memang bisa kita lakukan.

Berusaha ketika memiliki kesempatan. Belajar ketika mampu. Memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan. Dan bersabar ketika hasil belum datang.

Sebab mungkin kehidupan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Mungkin kehidupan lebih banyak berbicara tentang bagaimana kita menjalani perjalanan menuju ke sana.

Pada akhirnya, kita semua memiliki jalan masing-masing. Ada yang jalannya panjang, ada yang penuh belokan, ada yang harus berhenti beberapa kali untuk mengumpulkan tenaga.

Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Jika hari ini kita masih berjalan pelan, tidak perlu malu. Jika hari ini kita belum mencapai apa yang diinginkan, tidak perlu langsung menganggap diri sendiri gagal.

Selama kita masih mau belajar, berusaha, dan bergerak, kita tetap sedang bertumbuh.

Kita tidak harus sampai di waktu yang sama dengan orang lain.

Sebab, setiap orang memiliki cerita, keadaan, kesempatan, dan waktunya sendiri. Maka, daripada menghabiskan seluruh tenaga untuk mengejar kehidupan orang lain, mungkin sudah waktunya kita kembali melihat perjalanan diri sendiri.

Pelan tidak selalu tertinggal.

Bisa jadi, kita hanya sedang menemukan jalan yang memang harus kita tempuh dengan cara kita sendiri