Konten dari Pengguna

UNNES Perkuat Literasi Linguakultural Murid di SD Negeri 1 Getas Pejaten

Penyampaian materi pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi dosen di SD Negeri 1 Getas Pejaten, Kabupaten Kudus
zoom-in-whitePerbesar
Penyampaian materi pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi dosen di SD Negeri 1 Getas Pejaten, Kabupaten Kudus

Kudus, 19 Mei 2026 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) memperkuat literasi linguakultural murid SD Negeri 1 Getas Pejaten, Kabupaten Kudus, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi dosen dengan tema “Penguatan Literasi Linguakultural Murid melalui Creative Bibliotherapy Berbasis Read-Aloud Dwibahasa”. Kegiatan ini mengenalkan bahasa Jawa dan budaya lokal melalui pembacaan cerita anak berbahasa Jawa yang dilengkapi terjemahan bahasa Indonesia.

Tim UNNES bertujuan menguatkan literasi linguakultural murid melalui pendekatan Creative Bibliotherapy berbasis Read-Aloud dwibahasa, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Pendekatan tersebut mengenalkan bahasa dan budaya lokal kepada murid melalui buku cerita anak yang memuat nilai-nilai kearifan lokal.

Program pengabdian tersebut berangkat dari kebutuhan penguatan penggunaan bahasa daerah untuk memitigasi risiko kepunahan bahasa Jawa. Sekolah juga masih menghadapi keterbatasan ketersediaan buku cerita anak dwibahasa yang memuat nilai-nilai kearifan lokal. Kondisi tersebut mendorong Tim UNNES menghadirkan kegiatan literasi yang menggabungkan cerita, bahasa, dan budaya lokal.

Program tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. Program tersebut juga sejalan dengan Asta Cita Nomor 8 mengenai penguatan penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya. Kegiatan ini turut merespons kebijakan strategis nasional pada sektor pendidikan dan industri kreatif.

Tim pengabdian mengawali kegiatan dengan memperkenalkan anggota kepada murid SD Negeri 1 Getas Pejaten. Tim kemudian mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pengalaman murid dalam mengakses buku cerita anak. Ketika ditanya apakah orang tua pernah membacakan buku cerita kepada mereka di rumah, hanya dua dari 36 murid yang mengangkat tangan. Tim selanjutnya menanyakan kepemilikan buku cerita di rumah. Sebanyak 12 dari 36 murid mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jawaban murid memberikan gambaran awal mengenai pengalaman mereka dibacakan cerita oleh orang tua dan kepemilikan buku cerita di rumah.

Musfiratun Bana, S.Pd. selaku guru mitra turut membantu pelaksanaan kegiatan di SD Negeri 1 Getas Pejaten. Dukungan guru mitra membantu Tim UNNES dalam mengoordinasikan murid selama kegiatan berlangsung.

Tim kemudian memperkenalkan pendekatan Creative Bibliotherapy berbasis Read-Aloud dwibahasa kepada murid. Tim membacakan salah satu buku cerita anak jenjang B3 hasil kurasi Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2025–2026. Buku tersebut berjudul “Kesatria Antisisa” karya Dr. Muzakki Bashori, S.Pd., M.A., yang juga menjadi ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat pada kegiatan tersebut.

Tim membacakan buku cerita anak "Kesatria Antisisa"

Buku Kesatria Antisisa yang dibacakan oleh tim pengabdian menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Teks cerita disajikan dalam bahasa Jawa dengan terjemahan bahasa Indonesia di bawahnya. Penyajian dwibahasa ini membantu murid mengenal bahasa Jawa sekaligus memahami isi cerita melalui bahasa Indonesia. Cerita tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai positif kepada murid melalui kegiatan membaca yang menyenangkan.

Murid mengikuti sesi pembacaan cerita dengan antusias. Mereka menyimak cerita yang dibacakan oleh tim dengan saksama. Setelah pembacaan selesai, tim mengadakan sesi tanya jawab berhadiah dengan memberikan sejumlah pertanyaan tentang isi buku Kesatria Antisisa. Murid tampak bersemangat menjawab pertanyaan yang diberikan. Keaktifan mereka menunjukkan keterlibatan dalam kegiatan, sekaligus memberikan kesempatan untuk mengingat kembali isi cerita dan memahami pesan yang disampaikan.

Peserta aktif maju kedepan mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan

Setelah sesi tanya jawab, tim UNNES membagikan kuesioner emoji kepada 36 murid yang mengikuti kegiatan. Kuesioner tersebut diisi berdasarkan pengalaman murid selama mengikuti kegiatan membaca cerita dan digunakan untuk mengetahui respons mereka terhadap pelaksanaan program. Pengumpulan respons ini menjadi bagian dari evaluasi kegiatan, khususnya untuk melihat tanggapan murid terhadap penggunaan cerita dwibahasa dan nilai-nilai yang diperkenalkan melalui cerita.

Peserta mengisi kuesioner yang dibagikan

Selain melaksanakan kegiatan membaca, Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNNES juga memberikan hibah buku cerita anak kepada SD Negeri 1 Getas Pejaten untuk mendukung keberlanjutan kegiatan literasi di sekolah. Hibah tersebut mencakup lima judul buku cerita anak jenjang B3 hasil kurasi Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2025–2026, yaitu Kantong Ajaib Ibu, Kanal Impian Nara, Kisah Sepiring Lentog, Kalkulator Panen Kakek, dan Karena Teh Jumbo. Tim menyerahkan masing-masing tiga eksemplar untuk setiap judul sehingga sekolah menerima total 15 eksemplar buku dari kelima judul tersebut. Tim juga menyerahkan sebuah rak buku untuk menyimpan koleksi tersebut. Rak buku beserta 15 eksemplar buku ditempatkan di pojok baca kelas.

Rak buku beserta beberapa buku yang dihibahkan untuk sekolah

Dukungan bahan bacaan tersebut dilengkapi dengan pembagian buku Kesatria Antisisa kepada setiap murid yang hadir. Sebanyak 36 murid masing-masing menerima satu eksemplar buku yang sebelumnya dibacakan oleh tim pengabdian. Alhasil, kegiatan ini menghasilkan dua bentuk dukungan literasi, yaitu penambahan koleksi buku dan rak buku untuk pojok baca kelas serta pemberian buku kepada murid agar mereka dapat membaca kembali cerita secara mandiri di rumah.

Setiap murid diberikan masing-masing satu eksemplar buku cerita anak "Kesatria Antisisa"

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama sebagai dokumentasi pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Setelah kegiatan selesai, tim UNNES juga melakukan wawancara berupa testimoni dengan guru dan murid untuk memperoleh tanggapan mereka terhadap kegiatan Creative Bibliotherapy berbasis Read-Aloud dwibahasa. Testimoni tersebut menjadi masukan untuk melihat penerimaan peserta terhadap kegiatan serta manfaat yang mereka rasakan dalam pengenalan bahasa dan budaya.

Hasil evaluasi melalui kuesioner emoji menunjukkan respons yang sangat positif dari murid terhadap kegiatan membaca cerita Kesatria Antisisa. Dari 36 murid yang mengisi kuesioner, seluruh item pernyataan memperoleh rata-rata skor di atas 4 pada skala 5. Rata-rata keseluruhan skor mencapai 4,43. Hasil ini menunjukkan bahwa murid memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan membaca cerita dwibahasa yang dilaksanakan.

Keinginan murid untuk mengikuti kegiatan membaca cerita serupa kembali memperoleh skor rata-rata tertinggi, yaitu 4,75. Aspek menghargai makanan memperoleh skor rata-rata 4,67, sedangkan aspek menghargai kerja keras petani memperoleh skor 4,56. Penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dalam kegiatan membaca cerita memperoleh skor rata-rata 4,42. Sedangkan, pada aspek pembelajaran kata atau ungkapan baru dalam bahasa Jawa memperoleh skor rata-rata 4,06 berada dalam kategori baik.

Hasil evaluasi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan membaca cerita dwibahasa diterima dengan baik oleh murid. Cerita Kesatria Antisisa tidak hanya memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan, tetapi juga memperkenalkan pesan tentang pentingnya menghargai makanan dan menghormati kerja keras petani. Penggunaan bahasa Jawa yang disertai terjemahan bahasa Indonesia turut memberi kesempatan kepada murid untuk mengenal bahasa daerah sambil memahami isi cerita.

Foto bersama kepala sekolah dan penyerahan kenang-kenangan

Pihak SD Negeri 1 Getas Pejaten menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut. Tim UNNES berharap kegiatan ini dapat mendukung keberlanjutan literasi di sekolah, memperluas ketersediaan bacaan anak yang memuat bahasa dan budaya lokal, serta mendorong murid untuk semakin mengenal dan menggunakan bahasa daerah.