Konten dari Pengguna

Dari Kayu ke Karya: Melatih Kemandirian Peserta Didik SLB Wiyata Dharma 1 Sleman

Najamudin

Najamudin

Saya saat ini sebagai mahasiswanya PLB UNY angkatan 2023

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najamudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto: Dok. Pribadi

Sleman– Di ruang keterampilan, suasana pagi itu diwarnai suara amplas yang bergesekan dengan kayu. Beberapa peserta didik tunarungu tampak fokus memegang bahan kerajinan sederhana, sementara guru dan mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Universitas Negeri Yogyakarta mendampingi di sisi mereka, memberikan arahan tahap demi tahap melalui gerakan dan contoh visual.

Kegiatan kerajinan kayu merupakan salah satu program keterampilan kokurikuler yang rutin dilaksanakan di sekolah ini, sejalan dengan kegiatan keterampilan lain seperti batik, tata busana, dan boga. Program ini dirancang untuk mengembangkan kemampuan vokasional peserta didik melalui kegiatan yang bersifat praktik dan fungsional, sekaligus melatih kemandirian dalam menyelesaikan tugas secara bertahap.

Sumber foto: Dok. pribadi

Pembelajaran keterampilan kerajinan kayu bagi peserta didik tunarungu dilakukan melalui pendekatan visual dan demonstrasi langsung, mengingat instruksi verbal saja belum cukup untuk dipahami. Guru dan mahasiswa PK mencontohkan setiap gerakan secara perlahan sebelum peserta didik menirukannya, mulai dari memegang alat, mengukur bahan, hingga menghaluskan permukaan kayu.

Mahasiswa PK turut berperan dalam pendampingan ini, memberikan bimbingan melalui gerakan dan isyarat sederhana pada bagian yang belum dapat dikerjakan peserta didik secara mandiri. Pendekatan individual menjadi kunci, mengingat tingkat pemahaman visual dan respons setiap anak terhadap tahapan pengerjaan tidak sama.

Hambatan yang Menjadi Bagian dari Proses

Pada praktiknya, keterbatasan pendengaran membuat sebagian instruksi perlu disampaikan berulang kali melalui gerakan atau contoh visual, terutama pada tahapan pengerjaan yang lebih rumit seperti mengukur atau menghaluskan bagian tertentu. Kondisi ini disikapi guru dan mahasiswa PK dengan mengikuti arahan yang telah disusun serta membantu langsung pada proses yang belum bisa dilakukan peserta didik secara mandiri, tanpa mengambil alih seluruh pengerjaan.

Sarmain, S.Pd., pembimbing di lokasi PK, menuturkan bahwa kegiatan kerajinan kayu memang sengaja dipertahankan sebagai kegiatan rutin karena manfaatnya tidak hanya pada keterampilan tangan. “Anak-anak di sini komunikasinya lewat gerakan dan contoh langsung, jadi kami harus sabar mengulang sampai mereka benar-benar paham. Tapi begitu paham, mereka bisa mengerjakan sendiri,” ujarnya.

Hasil Kecil yang Bermakna Besar

Dari kegiatan yang berlangsung, terlihat perkembangan meski bertahap: peserta didik yang semula sepenuhnya bergantung pada bantuan guru, perlahan mulai mampu menyelesaikan sebagian tahapan pengerjaan dengan bantuan yang lebih sedikit. Selain melatih motorik halus dan kasar, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri ketika peserta didik melihat hasil karya yang mereka selesaikan sendiri.

Dari Kayu ke Karakter

Judul “Dari Kayu ke Karya” menggambarkan esensi kegiatan ini: dari bahan kayu yang sederhana, peserta didik belajar nilai-nilai yang jauh lebih besar, yaitu ketekunan, kesabaran, dan kepercayaan pada kemampuan diri sendiri. Program kerajinan kayu di SLB Wiyata Dharma 1 diharapkan terus berlanjut sebagai salah satu bekal keterampilan vokasional yang mendukung kemandirian peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.