Homesickness pada Mahasiswa Perantau: Kenapa Terjadi dan Bagaimana Mengelolanya?

saya adalah seorang mahasiswa Universitas Jember dari fakultas Ekonomi dan Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Natassya Ayu Permatasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi banyak mahasiswa, merantau bukan hanya tentang pindah kota demi menempuh pendidikan. Ada proses adaptasi panjang yang menuntut mereka keluar dari zona nyaman. Dalam masa transisi inilah homesickness mahasiswa—rasa rindu rumah yang muncul saat berada di lingkungan baru—sering kali terasa kuat.

Apa Itu Homesicknes?
Secara umum, homesickness adalah kondisi ketika seseorang merasakan keinginan yang besar untuk kembali ke tempat yang familiar. Menurut Thurber & Walton (2012), homesickness merupakan reaksi emosional negatif yang muncul akibat terpisah dari lingkungan tempat seseorang merasa aman dan nyaman.
Di kalangan mahasiswa perantau, homesickness bukan sekadar rindu; kondisi ini bisa memengaruhi konsentrasi belajar, motivasi, hingga kesehatan mental. Namun di balik tantangan itu, homesickness justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran dan pendewasaan.
Lingkungan Baru, Tantangan Baru bagi Mahasiswa
Mahasiswa baru memasuki lingkungan pendidikan dengan budaya, ritme, dan tuntutan akademik yang berbeda dari kehidupan di rumah. British Psychological Society menyebut homesickness sebagai reaksi wajar terhadap perubahan lingkungan yang drastis, terutama ketika seseorang kehilangan rasa stabil dari tempat tinggal sebelumnya.
Mahasiswa harus belajar untuk:
• mengatur waktu secara mandiri,
• memahami sistem akademik yang lebih ketat,
• menyesuaikan diri dengan teman dan budaya baru,
• dan mengelola kebutuhan harian di tengah tekanan kuliah.
Perubahan ini memperbesar kemungkinan munculnya homesickness pada mahasiswa perantau, terutama di semester awal.
Akar Homesickness dari Perspektif Pendidikan
Dalam konteks pendidikan, homesickness dianggap sebagai bagian dari learning transition—fase dimana mahasiswa berpindah dari satu tahap pembelajaran ke tahap yang lebih kompleks. American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut homesickness sebagai “distress emosional ketika seseorang berada jauh dari rumah dan figur penting dalam hidupnya.”
Faktor yang memengaruhi munculnya homesickness pada mahasiswa:
• adaptasi lingkungan akademik yang sangat berbeda
• kurangnya dukungan sosial pada awal masa kuliah
• meningkatnya beban tugas dan tuntutan kampus
• kepribadian yang cenderung pemalu atau kurang percaya diri
Bagi sebagian mahasiswa, perasaan ini bisa muncul saat malam hari, ketika suasana kampus sepi, atau ketika stres menghadapi tugas.
Dampaknya terhadap Proses Belajar
Homesickness memberikan dampak nyata pada proses akademik mahasiswa, seperti:
• sulit fokus saat kuliah
• motivasi belajar menurun
• mudah merasa kewalahan menghadapi tugas
• menarik diri dari kegiatan kampus
• penurunan kualitas tidur sehingga memengaruhi stamina belajar
Jika tidak dikelola, homesickness dapat mengganggu pencapaian akademik mahasiswa dalam jangka panjang.
Saat Homesickness Menjadi Bagian dari Proses Edukasi
Meski sering dianggap hambatan, homesickness justru mengajarkan banyak hal. Dalam proses adaptasi, mahasiswa mulai mengenali cara mengelola emosi, membangun kemandirian, serta belajar menghadapi tekanan akademik. Beberapa mahasiswa bahkan merefleksikan diri dengan pikiran seperti, “Aku cuma kurang bersyukur aja.” Kalimat sederhana ini menunjukkan proses self-awareness—keterampilan penting dalam dunia pendidikan modern. Dari fase ini, mahasiswa belajar resilien, yaitu kemampuan untuk bangkit dari tekanan dan tetap bertahan dalam situasi sulit. Resiliensi inilah yang menjadi modal penting dalam perjalanan akademik maupun karier mereka ke depan.
Strategi Mengelola Homesickness agar Tidak Mengganggu Studi
Membangun rutinitas belajar yang konsisten
Mencari dukungan sosial di lingkungan kampus
Tetap berkomunikasi dengan keluarga
Mengikuti kegiatan kampus atau komunitas akademik
Menjaga kesehatan fisik di tengah padatnya aktivitas kuliah
Homesickness mahasiswa perantau adalah pengalaman universal yang sering menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan. Jauh dari rumah, mahasiswa belajar mengenali diri, mengatur waktu, mengelola emosi, dan membangun kemandirian. Merantau bukan hanya tentang menimba ilmu di kampus, tetapi juga tentang mempelajari kehidupan. Rindu yang terasa di perantauan dapat menjadi batu loncatan menuju kedewasaan—proses belajar yang tidak ditemukan dalam kelas mana pun.
