Geopolitik Gas Rusia: Runtuhnya Jembatan Energi ke Eropa

Mahasiswa Universitas Sriwijaya Jurusan Hubungan Internasional
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Naufal Ashrop tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama puluhan tahun, hubungan geopolitik antara Rusia dan Eropa berdiri di atas satu pemahaman sederhana. Politik boleh tegang, gas tetap mengalir. Bahkan di saat Perang Dingin, pipa Soviet tetap memasok energi ke Jerman Barat tanpa adanya gangguan. Energi dianggap stabil dan terpisah dari konflik.
Namun, dengan terjadinya invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 mengakhiri anggapan itu. Nord Stream rusak di dasar Laut Baltik, aliran gas Yamal berhenti total. Ini bukanlah gangguan kecil. Ini adalah putusnya hubungan energi yang berlangsung lama. Sehingga hubungan energi antara Eropa dan Rusia berubah untuk selamanya.
Akar masalahnya ada pada doktrin kebijakan luar negeri Eropa, terutama Jerman, yaitu Wandel durch Handel atau Perubahan melalui Perdagangan. Pemikiran utamanya sendiri sederhana. Menjalin hubungan dagang dengan Rusia akan membuat mereka lebih berhati-hati. Akan tetapi, logika tersebut runtuh saat Vladimir Putin menjadikan energi sebagai alat tekanan politik. Ketergantungan Eropa pada gas Rusia, yang mana mencapai 40 persen sebelum perang, berubah menjadi titik lemah bagi mereka. Eropa belajar lewat pengalaman pahitnya bahwa ketergantungan strategis pada negara otoriter merupakan risiko besar.
Reaksi Eropa pun berlangsung cepat. Dalam waktu singkat, negara-negara Eropa membangun terminal LNG dan beralih ke pasokan dari Amerika Serikat, Qatar, dan Aljazair. Namun langkah ini butuh biaya yang besar. Gas pipa Rusia yang dulunya murah digantikan LNG dengan harga lebih tinggi. Industri Eropa yang memakai energi besar seperti baja, pupuk, dan kimia juga menghadapi tekanan berat karena biaya produksi yang naik. Meski begitu, Eropa sendiri memilih melepas ketergantungannya pada Rusia.
Rusia juga menghadapi situasi yang tidak kalah sulit. Hilangnya pasar di Eropa memaksa mereka mencari pembeli baru di Timur, terutama di Cina dan India. Tetapi pasar baru ini bukanlah substitusi yang setara. Kapasitas pipa Power of Siberia di Cina jauh lebih kecil dibanding jaringan pipa menuju Eropa. Terlebih lagi posisi tawar Rusia juga turun. Jika dulu Rusia merupakan penentu harga untuk Eropa, kini Rusia harus menerima harga yang ditentukan oleh Cina. Cina tahu Rusia tidak punya pilihan lain, sehingga menuntut potongan harga besar.
Strategi gas Putin pada akhirnya tidak memperkuat posisi Rusia, namun langkah ini mendorong Rusia menjadi partner junior bagi ekonomi Cina. Ketergantungan Rusia pada pasar Cina pada akhirnya meningkat tajam. Ini merupakan suatu ironi besar bagi Putin yang ingin mengembalikan pengaruh global Rusia.
Perang di Ukraina juga mungkin berhenti suatu hari nanti. Namun struktur energi yang ada sebelum 2022 tidak akan kembali. Kepercayaan politik sudah hilang dan hubungan politik butuh waktu panjang untuk pulih.
Putin mungkin ingin memakai gas sebagai senjata demi keuntungan taktis di Ukraina. Namun langkah tersebut membuat Rusia kalah dalam persaingan jangka panjang. Ia memutus hubungan ekonomi yang paling menguntungkan bagi negaranya. Ia juga mendorong Eropa menutup pintu untuk energi Rusia dalam jangka panjang.
