Konten dari Pengguna

Ditaklukkan oleh Kenyamanan, Bukan Paksaan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nova Elisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana jika manusia tidak lagi dipaksa untuk patuh, melainkan perlahan dibuat terlalu nyaman hingga berhenti mempertanyakan banyak hal?

Cerpen “Mata yang Tak Berkedip” karya Mullan Sandri menghadirkan tokoh “aku” yang berusaha mempertahankan berpikir kritis di tengah dunia yang semakin mudah dan serba cepat. Cerita ini menggambarkan bagaimana kenyamanan dapat mengubah cara pandang manusia terhadap realitas.

Dalam pandangan Robert Stanton (2012: 35), latar bukan hanya ruang terjadinya peristiwa, tetapi juga membentuk suasana dan makna cerita. Hal ini tampak pada kota tanpa nama yang digambarkan tenang, tetapi terasa ganjil. Ketenangan itu justru menimbulkan pertanyaan tentang apa yang disembunyikan di baliknya.

“Tidak ada yang aneh di sana, dan justru itulah yang membuatnya mencurigakan dan terasa seperti sebuah perangkap yang disamarkan.”

Sosok bermata satu hadir sebagai simbol cara pandang tunggal yang menawarkan ketenangan dengan cara mengubah perspektif manusia. Ia tidak memaksa, tetapi menawarkan kenyamanan yang perlahan menggeser kebiasaan bertanya.

Pada saat pertemuan pertama di sebuah kafe, ia menunjukkan dirinya dengan teduh tanpa drama dan kegelisahan, lalu berkata:

“Kau percaya pada dunia yang utuh?”

“Aku hanya percaya pada kopi yang cukup pahit,” jawab tokoh “aku”.

Sosok itu tampak tenang, namun ekspresinya kosong, seolah tidak memiliki beban dalam hidup.

“Aku bisa memberimu segalanya. Ketenteraman. Kejelasan. Dunia tanpa kebimbangan.”

“Sebagai gantinya?”

“Hanya caramu memandang.”

Seiring waktu, pengaruh sosok tersebut tidak hanya hadir secara langsung, tetapi juga melalui mimpi dan keseharian tokoh "aku". Ia menawarkan solusi instan, kesederhanaan, dan ketenangan yang tampak ideal, namun memiliki dampak yang tidak disadari, yaitu kurangnya kesempatan untuk bertanya.

Perubahan juga terjadi di lingkungan sekitar. Buku-buku filsafat digantikan oleh bacaan praktis tentang kebahagiaan. Informasi disederhanakan agar mudah diterima; keringanan itu dapat menyebabkan menurunnya kebiasaan untuk memahami secara mendalam.

Ilustrasi proses berpikir kritis dalam memahami informasi dan realitas secara mendalam https://images.pexels.com/photos/355952/pexels-photo-355952.jpeg

Tokoh “aku” mulai menyadari pola yang dibuat. Ia pergi mencari keberadaan sosok mata satu itu, lalu menanyakan perihal dirinya.

“Siapa kau sebenarnya?”

”Aku bukan siapa-siapa, aku hanya muncul ketika manusia lelah berpikir dengan dua mata.”

Konsep “dua mata” menggambarkan cara pandang yang rumit dan penuh pertentangan, sementara “satu mata” melambangkan cara pandang yang sederhana, nyaman, tetapi terbatas.

Setelah berpindah kota karena pekerjaan, tokoh “aku” masih merasakan pengaruh sosok tersebut melalui media, iklan, dan percakapan publik yang terdengar meyakinkan.

Lingkungan baru menunjukkan bagaimana informasi semakin disederhanakan. Di tempat kerja, ia diminta merangkum dan mempermudah informasi agar tidak lagi menuntut pemikiran mendalam. Perlahan, masyarakat terbiasa menerima tanpa bertanya.

Sebagai bentuk perlawanan kecil, tokoh “aku” menulis komentar berupa pertanyaan kecil. Meski dihapus dalam waktu singkat, komentar itu sempat mendapatkan like. Hal tersebut menjadi sebuah petanda bahwa kesadaran berpikir kritis masih ada walaupun sedikit.

Pada akhirnya, tokoh “aku” memilih tetap mempertahankan cara pandang “dua mata”, meskipun harus menghadapi ketidaknyamanan. Ia menyadari bahwa ancaman terbesar bukanlah paksaan, melainkan kenyamanan yang membuat manusia berhenti bertanya. Cerpen ini menegaskan bahwa selama berpikir kritis masih dijaga, manusia tetap memiliki ruang untuk memahami dunia secara utuh.

Daftar Pustaka

Sandri, M. (2025). Mata yang Tak Berkedip. Kumparan.

Stanton, R. (2012). Teori fiksi (Sugihastuti & Rossi Abi Al Irsyad, Penerj.). Pustaka Pelajar.