Kritik Oversharing dalam Cerpen "Jalan Lain ke Roma" Karya Idrus
Tulisan dari Novisya Nurhikmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah kalian pernah melihat unggahan di media sosial yang berisi konten curahan hati seseorang? Atau bahkan konten yang menyebarkan pesan pribadi demi mendapatkan validasi dari masyarakat luas?
Di era digital saat ini, fenomena tersebut akrab dijuluki sebagai oversharing. Berdalih sebagai fondasi kuat dalam melindungi kesehatan mental atau ingin menunjukkan diri apa adanya sebagai authentic self. Namun jauh dari era digital saat ini, kultur oversharing sudah digambarkan jelas oleh sastrawan angkatan ’45 yang bernama Idrus. Dalam karya kumpulan cerpennya yang berjudul “Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma”, terdapat salah satu karya yang menjadi awal mula kultur oversharing dikenalkan ke masyarakat. Idrus menciptakan sebuah karakter dalam cerpen “Jalan Lain ke Roma” yang diberi nama Open. Open merupakan pria yang menjadi gambaran pada masa itu sebagai manusia yang oversharing.
Dalam cerpen tersebut, ketika Open lahir di dunia, ayahnya mendapatkan sebuah petunjuk melalui mimpinya dengan mendengar sebuah bahasa Belanda yaitu “openhartig” yang berarti terus terang atau jujur. Sang ibu pun langsung menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan bisikan Tuhan, sehingga bayi yang baru saja dilahirkan itu diberi nama Open dengan harapan kelak sang anak tumbuh menjadi manusia jujur.
Ketika Open bekerja sebagai Guru Sekolah Rakyat tingkat dasar, dia menganggap ruang kelas sebagai tempat yang baik untuk mempraktikan kejujurannya. Setiap kali dirinya mengajar, alih-alih langsung mengajar matematika, Open lebih memilih untuk mencurahkan kehidupan pribadinya di hadapan para murid. Bahkan Open pernah menceritakan masalah rumah tangganya dengan sangat detail, dan memperagakan bagaimana dirinya lari pontang-panting dikejar sang istri dengan membawa sebuah golok.
Open merasa dirinya menjadi sangat keren, jujur, dan otentik karena berani menceritakan kehidupan pribadinya di hadapan para murid. Akan tetapi, respon yang didapat oleh Open sangatlah negatif. Bahkan dirinya dijuluki sebagai “Guru Goblok” oleh para murid. Hinaan tersebut diperoleh Open berkali-kali sehingga dirinya kehilangan wibawa seorang guru. Puncaknya ketika kesabaran Open habis, dirinya melayangkan tangan kepada salah satu muridnya hingga telinga sang murid berdarah. Perilaku oversharing yang telah dilakukan Open membawanya ke dalam sebuah petaka, yaitu pemecatan.
Kebiasaan oversharing itu tidak berhenti di tempat kerja saja. Ketika Open di rumah, dia menceritakan bahwa masalah rumah tangganya telah dijadikan bahan tontonan dan cerita di ruang kelas, sehingga mengakibatkan sang istri marah besar. Privasi yang dilanggar oleh Open memicu kehidupan rumah tangganya yang hancur. Sang istri merobek dan membakar Al-Quran milik Open, dan rumah tangganya berakhir pada perceraian.
Kisah yang Open alami saat itu mirip dengan fenomena terkini yaitu Cancle Culture atau pemecatan sepihak di era modern yang disebabkan oleh digital footprint yang buruk. Kejujuran yang dilakukan dalam ruang dan waktu yang salah akan mengakibatkan petaka bagi diri sendiri.
Intimasi vs Ruang Publik
Secara sosiologis, kisah yang dialami Open adalah bentuk kegagalan dalam memahami batasan antar ruang privat dan publik. Open berpikir bahwa dengan dirinya menceritakan segala masalah rumah tangganya, dia tengah mendidik manusia untuk tidak hidup dengan kebohongan. Namun nyatanya Open sedang mempermalukan dirinya sendiri.
Di era algoritma saat ini, batas ruang privat dan publik semakin kabur. Media sosial memaksa kita untuk menumpahkan segala isi kepala, kesedihan, dan bahkan konflik keluarga ke ruang publik digital demi meraih likes, views, atau sekadar komentar penghibur. Ruang privat kita secara sengaja dikomodifikasi demi pemuasan ego sesaat.
Terdapat beberapa hal yang harus tinggal di ruang privat kita. Keintiman sebuah hubungan seperti pasangan, keluarga, ataupun teman, seharusnya menjadi sakral karena mereka hanya diketahui oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ketika dibawa ke ranah publik seperti yang Open lakukan, nilai sakral dari hubungan tersebut akan beralih menjadi gosip atau penghakiman massal.
‘Think Twice’ Sebelum Mengetuk Tombol ‘Post’
Melalui cerpennya, Idrus memberi sebuah tamparan keras yang masih sangat relevan hingga saat ini. Mengekspresikan diri dan menyuarakan kejujuran adalah hal baik. Namun, apabila mengeluarkan segala isi kepala dan konflik internal ke hadapan publik tanpa adanya sebuah filter, hal tersebut akan menjadi sebuah kecerobohan emosional. Terdapat garis batas yang tegas antara menjadi orang jujur dengan menjadi orang yang tidak tahu tata krama sosial.
Open harus mengalami kejadian diusir, bercerai, jatuh miskin, hingga disiksa di dalam penjara Kenpeitai terlebih dahulu sebelum dirinya sadar dan menemukan makna dari “terus terang”. Baginya makna tersebut tidak sekadar asal bicara yang implusif seperti masa mudanya. Maka dari itu, sebelum kita mengunggah sesuatu di media sosial, lebih baik kita merefleksikannya terlebih dahulu. Apakah kita sedang menyuarakan kebenaran yang bermakna, atau hanya sekadar oversharing yang akan menjadi boomerang bagi kehidupan?

