Konten dari Pengguna

Novel Merahnya Merah: Potret Kehidupan yang Terpinggirkan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurfadilah fasyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang yang hari ini masih berjuang keras hanya untuk memastikan dirinya bisa bertahan hidup, Novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang menjadi sebuah cerminan bagi kehidupan masyarakat sosial yang mengajak kita mempertanyakan nasib manusia yang kehilangan arah, tempat, dan kesempatan untuk menjalani hidup secara bermartabat.

Mereka yang terpinggirkan oleh sistem, di tengah tuntunan ekonomi yang terus menerus menjadi beban bagi hidupnya, pekerjaan yang tak selalu menjamin apakah mereka akan mendapat kesejahteraan sosial, dan kaum wanita yang memiliki posisi rentan karena tidak memiliki pilihan keluar dari keterpurukan ekonomi. Sungguh paradoks kaum marginal inilah yang selalu di tuntut untuk terus lebih sabar, lebih kuat, dan lebih mampu menyesuaikan posisi mereka. Apakah mereka masih bisa bertahan hidup untuk esok hari?

Ilustrasi Novel Merahnya Merah_Sumber Gambar Hasil Canva Buatan Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Novel Merahnya Merah_Sumber Gambar Hasil Canva Buatan Pribadi

Gambaran tersebut telah di alami oleh Tokoh Kita dalam Novel Merahnya Merah,

“Sebelum revolusi, ia merupakan calon rahib. Selama revolusi, ia menjadi komandan kompi, lalu berakhir sebagai algojo pemancung kepala para pengkhianat yang tertangkap. Namun, setelah revolusi usai, hidupnya justru berujung di rumah sakit jiwa hingga akhirnya menjadi gelandangan.”

Orang yang memiliki pengaruh besar saat kehidupan lalunya, ia dulu memiliki tanggung jawab penuh dalam peran yang ia kendalikan. Lalu apakah pernah terbayangkan bagi dirinya jika akhir hidupnya menjadi orang tidak bisa memahami dirinya dan hilang arah. Iwan Simatupang memberikan gambaran Tokoh Kita, bahwa tidak semuanya yang memiliki perubahan besar akan menuju kehidupan yang jauh lebih baik. Nyatanya setelah semua pengorbanan yang telah dilakukan hingga selesai dari tanggung jawab kita, nyatanya diri kita sendiri yang belum selesai.

Ironisnya kisah tersebut sangat dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini, pengorbanan dan perjuangan telah dilakukan demi menunjang kehidupan sehari-harinya di tengah ekonomi yang kian memuncak, tetapi dari semua jerih payah yang dilakukan belum tentu sama dengan kenyataan pahit yang diterimanya. Pendidikan yang telah ditempuh tidak selalu berujung layak, bahkan pekerjaan yang dimiliki pun belum tentu dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Padahal kenyataannya, kondisi ekonomi, tersedianya lapangan pekerjaan, dan kebijakan publik menjadi sebuah pilihan yang dapat diambil seseorang. Seperti Tokoh Kita yang kebingungan menentukan arah hidupnya, sebagian masyarakat juga dapat merasa kehilangan pegangan ketika jalan menuju kehidupan yang lebih baik terasa semakin sempit.

Ketika Keterdesakan Ekonomi Merenggut Pilihan Perempuan

Dalam Novel Merahnya Merah tidak hanya memperlihatkan sosok Tokoh Kita saja, tapi juga menyoroti nasib seorang perempuan yang terdesak oleh keadaan ekonomi.

“Karena dia tak punya apa-apa pun famili tidak-dia terpaksa cari nafkahnya dengan satu-satunya barang yang masih punya harga bagi orang lain. Yakni, ke-wanitaannya”

Dalam narasi novel tersebut, sangatlah menyakitkan bagi kehidupan seorang perempuan ketika kondisi kemiskinan mempersempit pilihannya hingga tubuhnya sendiri diperlakukan sebagai komoditas. Tokoh perempuan yakni, Fifi dan Mariya menjadi sebuah gambaran bahwa perempuan tidak hanya berhadapan dengan kesulitan mencari mata pencaharian saja, tetapi juga dengan keadaan sosial yang membuatnya rentan terhadap eksploitasi.

Persoalan ini nyatanya masih relevan dengan beberapa kehidupan perempuan di Indonesia, terutama mereka yang menghadapi ketidakpastian ekonomi, kurangnya dukungan sosial kepada perempuan atau bahkan ketergantungan finansial terhadap orang lain. Dalam kondisi tersebut, keterdesakan ekonomi inilah yang memicu oknum yang memiliki kuasa lebih besar untuk dimanfaatkan melakukan eksploitasi, pemaksaaan, bahkan kekerasan seksual. Namun ironisnya, perempuan yang mengalami situasi tersebut justru menerima penghakiman dari masyarakat sekitar, seolah-olah mereka mengalami perlakuan tersebut merupakan kesalahan pribadi. Padahal, kemiskinan tidak menghilangkan hak seseorang atas tubuh dan keselamatannya. Ketika perempuan harus menghadapi kesulitan ekonomi sekaligus ancaman kekerasan, persoalannya tidak hanya cukup diselesaikan dengan meminta perempuan menjadi lebih kuat dan dapat menjaga dirinya. Perlindungan, kesempatan kerja yang layak, akses bantuan, serta hukum yang tegas menjadi bagian penting dari persoalan tersebut.

Ketika Masyarakat Kehilangan Tempat

Dapat kita lihat jika dalam Novel Tokoh Kita kehilangan arah setelah ia menjadi mantan seorang rahib, dan Tokoh Fifi dan Maria memperlihatkan bagaimana keterbatasan ekonomi dapat mempersempit ruang seseorang untuk menentukan kehidupannya. Kedua keadaan tersebut memperlihatkan pembaca mempertanyakan seberapa besar kebebasan yang dimiliki manusia ketika hidupnya dibatasi oleh situasi yang tidak mudah dikendalikan. Dalam konteks masyarakat sosial saat ini, kehilangan tempat bukan berarti kehilangan rumah. Seseorang dapat kehilangan tempat ketika ia tidak memperoleh kesempatan kerja, tidak adanya akses terhadap dirinya, atau tidak lagi merasa dihargai dalam lingkungannya. Perempuan pun juga kerap mengalami keterasingan ketika menjadi korban kekerasan, ketika suaranya diabaikan dan pengalamannya justru dijadikan alasan untuk penghakiman. Pada titik inilah, persoalan novel Iwan Simatupang melampaui kisah tokoh-tokohnya dan menjadi pertanyaan bagi masyarakat: apakah kita benar sungguh-sungguh peduli terhadap orang-orang yang terpinggirkan, atau hanya meminta mereka bertahan tanpa berusaha memahami keadaan yang mereka hadapi.