Konten dari Pengguna

Sanksi untuk Rusia: Katanya Ampuh, Tapi Kok Perang Belum Berhenti?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Hikmah Inayah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi sanksi untuk rusia(diolah sendiri menggunakan AI)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi sanksi untuk rusia(diolah sendiri menggunakan AI)

Beberapa waktu lalu saya membahas dengan teman saya soal berita perang Rusia-Ukraina. Dia bertanya, "Rusia kan sudah disanksi habis-habisan, kenapa masih kuat?" Saya bengong sebentar, karena saya juga sempat memikirkan hal yang sama.

Coba ingat lagi pada tahun 2022. Aset bank sentral Rusia dibekukan, aksesnya ke sistem pembayaran SWIFT diputus, dan minyak serta gasnya dilarang masuk Eropa. Waktu itu banyak yang yakin ekonomi Rusia bakal ambruk dan perang cepat selesai. Nyatanya sampai sekarang perang masih jalan.

ilustrasi aset banks sentral rusia dibekukan,akses swift diputus,minyak goreng & gas dilarang masuk ke eropa (diolah sendiri menggunakan AI)

Menurut saya, sanksi itu memang bikin Rusia rugi, tapi gagal mengubah sikapnya. Ada tiga alasan.

Pertama, Rusia pintar cari pembeli baru. Begitu Eropa menutup pintu, minyaknya dialihkan ke Asia. China dan India jadi pembeli utamanya, sehingga uangnya tetap mengalir. Ibaratnya, kamu mau bikin toko sepi dengan melarang tetangga belanja di situ, tapi pembeli terbesarnya ada di kompleks sebelah dan tidak ikut larangan.

Kedua, sanksi bikin banyak negara waswas. Kalau cadangan devisa sebuah negara bisa dibekukan, negara lain jadi mikir, "Jangan-jangan suatu hari saya juga begitu." Studi IMF menunjukkan porsi dolar di cadangan devisa dunia turun pelan-pelan, dan BRICS makin gencar mendorong pemakaian mata uang lokal. Dolar belum tergantikan, tapi orang mulai nyari jalan cadangan. Ironis, sanksi untuk menekan satu negara malah mendorong dunia menjauh dari sistem yang dibangun Barat.

Ketiga, sanksi melukai pemberinya juga. Dulu Eropa sangat bergantung pada gas murah dari Rusia. Setelah pasokan putus, harga energi naik dan industri di Jerman ikut tertekan. Jadi sanksi itu seperti pedang bermata dua, karena ekonomi dunia saling terhubung.

Kalau dilihat dari kacamata realisme (Kenneth Waltz), ini masuk akal. Rusia menganggap Ukraina sebagai penyangga dari NATO, jadi soal bertahan hidup bagi mereka. Kalau sudah begitu, sanksi seberat apa pun dianggap harga yang harus dibayar. David Baldwin juga mengingatkan bahwa sanksi sering gagal kalau negara sasarannya punya mitra dagang lain.

Tentu pendukung sanksi mempunya argumen. Menurut mereka, tujuannya membatasi kemampuan Rusia dalam jangka panjang, bukan menghentikan perang seketika. Saya setuju itu ada benarnya. Tapi kalau tolok ukurnya perang berhenti, rasanya belum tercapai, sementara efek sampingnya sudah terasa.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Saya punya tiga ide sederhana:

- Sanksinya dipertajam. Sasar elite politik dan industri militer, bukan pangan, pupuk, dan energi dasar yang dampaknya ke rakyat biasa. Beri syarat pencabutan yang jelas.

- Libatkan penengah. Indonesia, Turki, atau Arab Saudi yang dekat dengan kedua pihak bisa lebih aktif. Kesepakatan Gandum Laut Hitam, yang dijembatani Turki dan PBB, membuktikan jalur kemanusiaan bisa dibuka walau perang jalan. Ini juga sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif kita.

- Buat sistem keuangan dunia lebih adil. IMF dan Bank Dunia perlu memberi suara lebih besar bagi negara berkembang. Seperti kata Robert Keohane, kerja sama dunia lebih mudah tercapai kalau lembaganya adil dan terbuka.

Intinya, menurut saya solusi terbaik bukan menambah sanksi, tapi membuka kembali ruang perundingan yang melibatkan semua pihak.