Angkringan, Tren Terbaru Tempat Tongkrongan Anak Muda
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Angkringan adalah warung makan dengan nuansa sederhana. Pada umumnya, angkringan menggunakan gerobak atau tenda dan beroperasi dari sore hingga dini hari.
Dalam perkembangannya saat ini, angkringan tidak lagi menjadi tempat membeli makanan dan minuman murah saja.
Mengutip disparpora.ngawikab.go.id, di berbagai daerah seperti Ngawi, Jawa Timur, angkringan berkembang menjadi tempat tongkrongan sekaligus ruang publik. Angkringan mempertemukan lintas kelompok masyarakat, terutama anak muda.
Angkringan adalah Warung Kuliner dengan Gerobal Dorong
Istilah angkringan adalah berakar dari bahasa Jawa, yaitu angkring atau nangkring, artinya duduk santai atau duduk bebas. Ciri ini identik sekali dengan suasana angkringan yang relatif santai dan tidak formal.
Pengunjung dapat duduk berbincang dalam waktu panjang dengan teman, mengerjakan tugas, bertemu komunitas, dan menggunakan angkringan sebagai tempat bekerja.
Beberapa angkringan masa kini yang ditemukan di berbagai kota juga menyediakan Wi-Fi dan pertunjukan musik. Daya tarik ini semakin menambah minat anak muda.
Secara historis, perkembangan angkringan berkaitan erat dengan perilaku para pedagang makanan dan minuman di Surakarta.
Awalnya, para pedagang menggunakan pikulan bambu yang dilengkapi alat memasak sederhana. Sekitar tahun 1975, penggunaan pikulan mulai beralih ke gerobak dorong.
Gerobak tersebut dilengkapi dengan terpal, lampu, tungku arang, dan cerek besar. Gerobak pun menjadi identitas baru yang melekat pada angkringan hingga masa kini.
Pengunjung angkringan dapat menemukan nasi bungkus atau nasi kucing, gorengan, tahu dan tempe bacem, oseng tempe, sate usus, sate telur puyuh, serta berbagai lauk sederhana.
Untuk minuman, di angkringan tersedia teh, kopi, wedang jahe, susu jahe, dan minuman sachet sebagai khasnya.
Harga yang relatif terjangkau membuat angkringan dapat diakses oleh semua kalangan. Seperti pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat dengan daya beli yang terbatas.
Di daerah Ngawi, perkembangan angkringan semakin tampak karena keberadaannya yang telah menyebar dari kawasan perkotaan hingga sudut pedesaan.
Sebagian pelaku usaha memanfaatkan ruang pedestrian, bahu jalan, dan ruang kosong untuk lokasi berjualan. Di malam hari, beberapa angkringan menjadi titik berkumpul yang ramai dikunjungi.
Daya tarik angkringan terletak pada harga makanan yang murah meriah, kebebasan, dan suasana egaliter yang ditawarkan.
Pengunjung dapat duduk bersantai, berbicara bebas, dan bersosialisasi tanpa nuansa formal layaknya di restoran. Kondisi itu membuat komunikasi tatap muka dan interaksi sosial menjadi lebih intens.
Sebab itulah, tren angkringan adalah perubahan fungsi sebuah warung sederhana menjadi tempat tongkrongan, ruang komunita, sekaligus ruang publik di kalangan anak muda. Angkringan menawarkan pengalaman ramah yang sederhana, murah, santai, dan terbuka bagi siapapun. (Win)
Baca juga: Menu Signature Artinya dalam Kuliner, Begini Penjelasannya