Konten dari Pengguna

Legenda Baru Klinting, Kisah Terbentuknya Rawa Pening di Jawa Tengah

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Legenda Baru Klinting, Foto: Unsplash/Sincerely Media
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Legenda Baru Klinting, Foto: Unsplash/Sincerely Media

Tahukah bahwa di balik terbentuknya Rawa Pening terdapat Legenda Baru Klinting yang telah diceritakan dari generasi ke generasi? Cerita rakyat ini menyuguhkan perjalanan penuh keajaiban sekaligus mengandung banyak nilai kehidupan yang relevan hingga kini.

Melalui kisah Baru Klinting, pembaca akan diajak mengikuti perjalanan yang penuh lika-liku, mulai dari penolakan, pengorbanan, hingga peristiwa yang akhirnya dipercaya menjadi awal mula terbentuknya Rawa Pening.

Mengutip situs https://balaibahasajateng.kemendikdasmen.go.id, legenda merupakan cerita rakyat yang dipercaya benar-benar pernah terjadi dan telah diwariskan secara turun-temurun, baik melalui tradisi lisan maupun dalam bentuk tulisan.

Legenda Baru Klinting

Ilustrasi Buku Cerita Rakyat, Foto: Unsplash/Tom Hermans

Legenda Baru Klinting merupakan cerita rakyat yang dipercaya menjadi asal-usul terbentuknya Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Kisah ini bermula dari suatu desa yang subur dan makmur bernama Desa Ngasem, yang berada di wilayah Kerajaan Mataram.

Desa tersebut dipimpin oleh Ki Sela Gondang, yakni seorang kepala desa yang dikenal adil dan bijaksana. Ki Sela Gondang hidup bersama istri dan putrinya yang cantik bernama Endang Sawitri.

Suatu hari, karena kutukan, Endang Sawitri harus mengandung dan melahirkan seorang anak berwujud naga. Anak tersebut kemudian diberi nama Baru Klinting.

Meski memiliki rupa yang berbeda, Baru Klinting terus tumbuh hingga memasuki usia anak-anak.

Saat beranjak besar, Baru Klinting memutuskan bertapa di Gunung Telomoyo dengan harapan dapat terbebas dari kutukan yang membuatnya berwujud naga. Dalam pertapaannya, tubuh naga Baru Klinting melilit Gunung Telomoyo hingga mencapai puncak.

Di waktu yang sama, sekelompok warga dari Desa Pathok sedang berburu di sekitar gunung. Karena tidak mengetahui bahwa tubuh naga yang mereka lihat adalah Baru Klinting, warga hanya menemukan bagian ekornya.

Tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi, warga memotong daging ekor tersebut untuk dibawa pulang sebagai bahan makanan. Setelah pertapaannya selesai, Baru Klinting berhasil berubah menjadi seorang anak laki-laki.

Dengan tubuh yang masih penuh luka akibat ekornya dipotong, Baru Klinting mendatangi Desa Pathok yang saat itu sedang mengadakan pesta rakyat. Baru Klinting mencoba meminta makanan dan minuman kepada warga yang sedang berpesta.

Sayangnya, penampilan Baru Klinting yang lusuh, tubuhnya dipenuhi luka, serta bau amis yang masih melekat membuat penduduk desa enggan mendekat. Bukannya menolong, warga justru mengusir dan mencaci-maki Baru Klinting.

Penolakan tersebut membuat Baru Klinting sangat sedih dan meninggalkan keramaian dengan hati yang terluka. Di tengah perjalanan, Baru Klinting tiba di sebuah gubuk sederhana milik seorang nenek tua bernama Nyai Latung.

Berbeda dengan warga desa lainnya, Nyai Latung merasa iba melihat kondisi Baru Klinting. Nyai Latung segera memberikan minuman dan makanan tanpa memandang penampilan anak tersebut.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Baru Klinting berterima kasih kepada Nyai Latung. Dirinya juga berpesan agar sang nenek segera naik ke atas lesung apabila nanti mendengar bunyi kentongan. Nenek menerima pesan tersebut tanpa mengetahui apa yang akan terjadi.

Setelah itu, Baru Klinting kembali ke lokasi pesta dan menantang seluruh warga untuk mencabut sebatang lidi yang telah ditancapkan ke tanah.

Satu per satu warga mencoba mencabutnya, termasuk orang-orang yang paling kuat di desa, tetapi tidak seorang pun berhasil. Melihat semua usaha itu gagal, Baru Klinting maju dan dengan mudah mencabut lidi tersebut.

Sesaat setelah lidi terangkat dari tanah, muncul semburan air yang sangat deras dari lubang bekas tancapannya. Air terus memancar tanpa henti hingga berubah menjadi banjir besar yang menggenangi seluruh Desa Pathok.

Penduduk desa panik dan membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya. Semua orang berusaha menyelamatkan diri, tetapi air terus meninggi dan menenggelamkan desa beserta penduduknya.

Di sisi lain, Nyai Latung mendengar bunyi kentongan dan langsung teringat pesan Baru Klinting. Tanpa menunda waktu, Nyai Latung segera naik ke atas lesung.

Keputusan tersebut menyelamatkan nyawanya, karena lesung itu mengapung mengikuti arus banjir hingga akhirnya berhenti di tempat yang aman.

Setelah air mulai surut, Nyai Latung menyadari bahwa hanya dirinya yang selamat dari bencana tersebut. Desa Pathok telah berubah menjadi hamparan rawa yang luas dengan air yang jernih.

Nyai Latung kemudian menetap di tepi rawa itu dan menamai tempat tersebut sebagai Rawa Pening, yang diambil dari genangan air bening yang menutupi bekas desa yang tenggelam.

Itulah legenda Baru Klinting yang secara turun-temurun dipercaya masyarakat sebagai kisah di balik terbentuknya Rawa Pening di Jawa Tengah.

Selain menceritakan asal-usul tempat, legenda ini juga mengandung pesan agar tidak menilai seseorang dari penampilannya serta selalu menghargai dan berbuat baik kepada sesama. (Fikah)

Baca juga: Legenda Situ Sanghyang, Sejarah dan Mitos yang Masih Dipercaya