Konten dari Pengguna

Magnet yang Digunakan dalam Kompas yang Perlu Diketahui

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

IlustrasiMagnet yang digunakan dalam kompas  . Foto: Usnplash/Jamie Street
zoom-in-whitePerbesar
IlustrasiMagnet yang digunakan dalam kompas . Foto: Usnplash/Jamie Street

Magnet yang digunakan dalam kompas adalah bentuk magnet yang memiliki kemampuan untuk menunjukkan arah mata angin berdasarkan pengaruh medan magnet Bumi.

Keberadaan magnet menjadi bagian penting dalam alat navigasi yang telah digunakan sejak dahulu untuk membantu manusia menentukan arah perjalanan. Kompas banyak dimanfaatkan oleh pelaut, penjelajah, hingga orang yang melakukan kegiatan di alam terbuka.

Dengan memahami jenis magnet dan cara kerjanya, penggunaan kompas dapat dipahami dengan lebih mudah, terutama dalam mempelajari hubungan antara magnet, medan magnet Bumi, dan penentuan arah.

Magnet yang Digunakan dalam Kompas untuk Menunjukkan Arah Mata Angin

IlustrasiMagnet yang digunakan dalam kompas . Foto: Usnplash/Heidi Fin

Magnet yang digunakan dalam kompas adalah bentuk magnet jarum yang dapat bergerak bebas untuk membantu menunjukkan arah berdasarkan medan magnet Bumi.

Mengutip dari laman rri.co.id, kompas navigasi terdiri dari jarum magnetik yang bergerak bebas dan menunjukkan arah utara magnetik. Prinsip kerja tersebut membuat kompas menjadi alat penting untuk menentukan arah perjalanan, baik ketika berlayar, mendaki gunung, maupun melakukan penjelajahan.

Magnet jarum pada kompas bekerja dengan menyesuaikan posisinya terhadap medan magnet Bumi. Ketika kompas diletakkan pada permukaan yang datar dan jauh dari gangguan magnet lain, jarumnya akan bergerak hingga mencapai posisi tertentu.

Salah satu ujung jarum menunjuk ke arah utara magnetik, sedangkan ujung lainnya mengarah ke selatan magnetik. Dengan mengetahui arah utara dan selatan, pengguna dapat memperkirakan arah timur dan barat serta menentukan orientasi perjalanan.

Bentuk magnet jarum dipilih karena ukurannya relatif kecil dan dapat dipasang pada poros sehingga mampu berputar dengan mudah. Pada kompas sederhana, jarum tersebut ditempatkan di dalam wadah yang dilengkapi penanda arah mata angin.

Beberapa kompas juga memiliki cairan di dalam wadah untuk membantu meredam gerakan jarum agar lebih cepat stabil. Meskipun bentuk dan desainnya dapat berbeda, prinsip dasar kompas magnetik tetap memanfaatkan interaksi antara magnet dan medan magnet Bumi.

Penggunaan kompas berkembang sejak masa awal peradaban Tiongkok. Pada masa Dinasti Song, kompas mulai digunakan secara luas oleh pelaut untuk membantu navigasi.

Pengetahuan tentang alat tersebut kemudian menyebar ke dunia Islam dan Eropa, sehingga berperan penting dalam perkembangan pelayaran dan penjelajahan berbagai wilayah.

Namun, jarum kompas tidak selalu menunjukkan arah utara geografis secara tepat karena utara magnetik berbeda dari utara geografis.

Selain itu, benda berbahan magnet, perangkat elektronik tertentu, dan logam yang dapat memengaruhi medan magnet di sekitarnya berpotensi mengganggu pembacaan kompas.

Oleh sebab itu, kompas sebaiknya digunakan di tempat yang relatif bebas dari gangguan tersebut agar arah yang ditunjukkan lebih dapat diandalkan.(Yolan)

Baca juga: Perbedaan antara Bioteknologi Konvensional dengan Bioteknologi Modern