Makna dari Tidaklah Sama antara Orang Berilmu dengan Orang Tidak Berilmu
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penjelasan makna dari tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu menjadi pembahasan yang menarik untuk memahami kedudukan ilmu dalam kehidupan manusia.
Pernyataan tersebut tidak hanya berkaitan dengan banyaknya pengetahuan yang dimiliki seseorang, tetapi juga mengarahkan untuk melihat bagaimana ilmu dapat mempengaruhi cara seseorang memahami suatu keadaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan antara seseorang yang memiliki ilmu dan seseorang yang belum memiliki pengetahuan yang memadai dapat terlihat dari cara keduanya memandang suatu hal.
Tidaklah Sama antara Orang Berilmu dengan Orang Tidak Berilmu yang Perlu Dipahami
Tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu ada dalam Al-Qur'an surat Az-Zumar [39]: 9.
Dikutip dari buku Hijrahkan Hidupmu, Jemput Kebahagiaanmu, oleh Fajar K. (2023:88-89), salah satu bentuk akhlak yang mencerminkan keimanan seseorang adalah memberikan penghormatan kepada orang yang memiliki ilmu atau dikenal sebagai orang alim.
Dalam bahasa Arab, istilah ulama merupakan bentuk jamak dari kata alim. Secara khusus, orang alim merujuk pada seseorang yang memiliki pemahaman mendalam mengenai ilmu agama.
Namun, dalam pengertian yang lebih luas, orang berilmu dapat dimaknai sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan dalam berbagai bidang, sehingga tidak terbatas pada pengetahuan keagamaan.
Pengetahuan tersebut juga tidak selalu diperoleh melalui buku atau kitab, tetapi dapat terbentuk melalui pengalaman, pengamatan terhadap berbagai fenomena di lingkungan sekitar, bahkan melalui proses mengenali dan memahami diri sendiri.
Al-Qur'an juga mengarahkan manusia untuk memperhatikan berbagai ciptaan Allah sebagai bagian dari proses memperoleh pengetahuan.
Hal tersebut salah satunya tercermin dalam firman Allah yang mengajak manusia mengamati unta, langit, gunung, dan bumi sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ghasyiyah [88]: 17-20.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa proses memperoleh pengetahuan dapat dilakukan melalui pengamatan dan pemikiran terhadap berbagai hal yang terdapat di sekitar manusia.
Selain Al-Qur'an, Nabi Muhammad saw juga memberikan perhatian besar terhadap keutamaan orang yang menuntut dan memiliki ilmu melalui berbagai hadis.
Salah satunya menjelaskan bahwa orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan memperoleh kemudahan menuju surga (HR. Muslim). Hadis lainnya menyebutkan bahwa para malaikat menaungi majelis-majelis ilmu (HR. Abu Dawud).
Keutamaan orang berilmu juga digambarkan melalui keterangan bahwa penghuni langit dan bumi, termasuk ikan yang berada di dasar laut, memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang yang memiliki ilmu (HR. at-Tirmidzi).
Selain itu, Nabi Muhammad saw menyampaikan bahwa orang yang dikehendaki memperoleh kebaikan oleh Allah akan diberikan pemahaman dalam agama (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa ilmu memiliki kedudukan yang penting dalam ajaran Islam.
Orang yang memiliki ilmu memperoleh penghormatan dan kedudukan yang mulia karena ilmu tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana bagi manusia untuk memahami kehidupan dan menjalankan ajaran agama dengan lebih baik. (IF)
Baca juga: Faktor Penyebab Umat Islam Mengalami Kemajuan yang Sangat Gemilang dalam Sejarah