Perbedaan Gudeg Basah dan Gudeg Kering Beserta Ciri Khasnya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perbedaan gudeg basah dan gudeg kering menarik untuk dipahami karena kedua jenis gudeg memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi penyajian, tekstur, maupun daya tahannya.
Gudeg merupakan makanan khas Yogyakarta berbahan dasar nangka muda yang dimasak dalam waktu berjam-jam menggunakan api kecil hingga menghasilkan cita rasa yang khas.
Selain memiliki rasa yang khas, gudeg terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Perbedaan teknik memasak dan penyajian melahirkan dua jenis gudeg yang masih dikenal hingga sekarang, yaitu gudeg basah dan gudeg kering.
Perbedaan Gudeg Basah dan Gudeg Kering, Makanan Khas Yogyakarta
Perbedaan gudeg basah dan gudeg kering bisa dilihat berdasarkan cara penyajian dan ciri khasnya. Mengutip informasi karangtengah.bantulkab.go.id, Gudeg basah merupakan varian gudeg yang disajikan menggunakan areh atau kuah santan yang encer.
Karena memiliki kuah, jenis gudeg ini tidak dapat bertahan lama sehingga kurang cocok disimpan dalam waktu yang panjang.
Sementara itu, gudeg kering disajikan menggunakan areh yang jauh lebih kental dibandingkan areh pada gudeg basah. Proses pengolahannya membuat gudeg kering memiliki daya simpan yang lebih lama sehingga sering dipilih sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta.
Pada tahun 1960-an, masyarakat mulai mengembangkan gudeg kering agar dapat bertahan lebih lama. Inovasi tersebut mendorong lahirnya berbagai usaha rumahan gudeg yang banyak ditemukan di kawasan Wijilan dan sekitarnya.
Hingga kini, gudeg kering menjadi pilihan favorit wisatawan sekaligus berkontribusi memperkuat citra Yogyakarta sebagai pusat kuliner tradisional. Selain perbedaan penyajiannya, perbedaan kedua gudeg ini juga tidak terlepas dari proses memasaknya.
Gudeg membutuhkan waktu berjam-jam untuk dimasak menggunakan api kecil hingga menghasilkan cita rasa yang khas. Warna cokelat pada gudeg umumnya berasal dari daun jati yang dimasak bersamaan dengan nangka muda selama proses pengolahan.
Gudeg biasanya disantap bersama nasi dan disajikan dengan kuah santan kental atau areh, ayam kampung, telur, tempe, tahu, serta sambal goreng krecek. Perpaduan berbagai pelengkap tersebut membuat gudeg menjadi salah satu kuliner tradisional yang memiliki cita rasa khas.
Seiring perkembangan zaman, gudeg juga mengalami berbagai inovasi. Selain gudeg basah dan gudeg kering, kini hadir gudeg kaleng dan gudeg dalam kemasan instan yang memungkinkan distribusi ke berbagai daerah hingga mancanegara.
Perbedaan gudeg basah dan gudeg kering terletak pada penyajiannya. Gudeg basah disajikan menggunakan areh encer sehingga tidak tahan lama, sedangkan gudeg kering menggunakan areh yang lebih kental dan dikembangkan sejak tahun 1960-an agar memiliki daya simpan lebih lama.
Kedua varian tersebut menjadi bagian dari perkembangan gudeg sebagai kuliner khas Yogyakarta yang tetap dikenal hingga saat ini. (Dani)
Baca juga: Ciri Khas Gudeg yang Membuatnya Berbeda dari Masakan Nusantara Lainnya